sign up SIGN UP

LIFE

Paradoks Salomo: Bijak Terhadap Masalah Orang Lain, Tapi Tidak dengan Masalah Sendiri

Risma Oktaviani | Jumat, 11 Jun 2021 08:00 WIB
Paradoks Salomo: Bijak Terhadap Masalah Orang Lain, Tapi Tidak dengan Masalah Sendiri
bingung mengatasi masalah sendiri / foto: freepik.com

Pernah gak kamu ngerasa kalau kamu menjadi orang yang sangat bijak saat kamu memberi tahu cara menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi temanmu? Tapi di sisi lain, saat kamu mempunyai masalah, kamu malah bingung, kewalahan, dan gak bisa mengatasinya? Kok saran kamu seolah manjur banget buat orang lain tapi gak bekerja buat diri kamu sendiri? Menurut penelitian yang diterbitkan dalam The Journal of Psychological Science, fenomena ini dikenal dengan Paradox Salomo. 

Apa itu Paradox Salomo

memberikan saran lebih mudah jika untuk orang lain
memberikan saran kepada orang lain / freepik.com

Paradoks Salomo adalah istilah kecenderungan individu untuk mampu berpikir lebih bijaksana saat melihat masalah yang dihadapi orang lain daripada masalah yang ia dihadapi. Istilah ini pertama kali disebutkan oleh Igor Grossman, seorang ilmuwan psikologi University of Waterloo.

Seperti yang telah diketahui, Raja Salomo merupakan raja ketiga bangsa Israel yang sangat dikenal dengan kebijaksanaannya dalam memberikan nasihat bagi orang lain. Namun, ia kemudian membuat kerajaannya hancur karena kegagalannya dalam mengatur kehidupannya sendiri.

Tentang Kebijaksanaan

orang lebih bijaksana saat melihat masalah orang lain karena tidak di posisi tersebut
orang lebih bijaksana saat melihat masalah orang lain / freepik.com

Grossmann mendefinisikan kebijaksanaan sebagai penalaran pragmatis yang membantu orang mengatasi tantangan hidup. Penalaran yang bijaksana seperti itu membutuhkan penalaran yang melampaui sudut pandang egosentris seseorang. Seperti mengetahui keterbatasan pengetahuan sendiri, mempertimbangkan  perspektif orang lain, dan melihat kemungkinan dan perubahan.

Menurut grossman, kebijaksanaan seseorang terhadap diri sendiri dan orang lain itu asimetris. Artinya, ada kecenderungan bagi individu untuk lebih bijak dalam merespon masalah yang dialami orang lain daripada diri sendiri karena ada jarak.

Perspektif dalam Melihat Masalah

perbedaan cara menanggapi masalah
cara menanggapi masalah / freepik.com

Ketika melihat masalah orang lain, secara gak sadar kamu membuat jarak dengan masalah itu sendiri. Adanya jarak antara kamu dengan peristiwa yang dialami orang lain membuat kamu lebih jernih ketika menanggapi masalah. Inilah yang kemudian disebut dengan istilah self-distancing. Saat kamu melakukan self-distancing, kamu akan cenderung memisahkan diri dari peristiwa yang dialami dan akan berpikir secara lebih rasional dan realistis.

Sementara, saat kamu sendiri yang mengalami masalah, kamu akan melakukan self-immersed. Artinya, kamu akan cenderung untuk fokus pada diri sendiri, dan larut dalam peristiwa yang dialami. Saat kamu melakukan self-immersed, kamu akan tenggelam dalam pikiran-pikiran negatif. Sehingga, gak heran kalau pada akhirnya kamu sulit untuk mencari cara mengatasi masalah yang sedang kamu alami, karena kamu terlalu takut dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin akan terjadi.

Makanya, saat kamu sedang mencari cara menghadapi masalah kamu sendiri, sebaiknya coba bayangkan untuk berada di posisi orang lain namun tetap berjarak dan berusaha menganalisa penyebab masalahnya serta bagaimana mencari cara terbaik untuk membantunya.

Sebaliknya, saat kamu mencoba memberikan saran atau nasehat kepada orang lain, kamu juga perlu hati-hati. Coba kamu posisikan kalo kamu juga ada di posisi mereka. Sebab, ketika kita ada dalam peristiwanya, akan ada banyak faktor yang dijadikan bahan pertimbangan yang mempengaruhi tanggapan kita terhadap masalah tersebut.

(arm2/arm2)

Our Sister Site

mommyasia.id