Tri: Lahirnya tahun lalu di Bazaar Fashion Festival. Jujur, brand ini tidak pernah direncanakan secara matang. Karakteristiknya adalah memiliki warna black and white, monochrome.
Siapa yang menjadi target Austere?
Tri: Austere is unisex. Semua orang bisa pakai. Target usianya sekitar 25-50. But actually its more into the personal, not the age. Spiritnya apakah sama atau tidak dengan Austere.
Ajeng: Pastinya semua koleksi Austere itu wearable, we want to keep to the ground, nyata, bisa dipakai, bisa dibeli, reacheable untuk semua orang, tetapi juga dipakai sama orang-orang yang punya karakter dan smart.
Tri: Karena kami diundang. Ini adalah yang ke-4 kalinya kami ikut Fashion Nation. Koleksi yang kami tampilkan adalah Spring Summer milik Austere. Total keseluruan ada 15 koleksi yang kami tampilkan dalam fashion show.
Bagaimana persiapan?
Ajeng: Persiapannya sejak Januari 2015 lalu. Kami bikin konsep, bedah ide, bertukar pendapat dan saling melengkapi. Sedangkan produksinya sudah dimulai sejak bulan Febuari.
Tri: Mungkin, tapi ini hanya spesial untuk salah satu department store. Mungkin dalam waktu dekat, atau tahun ini.
Dari mana datangnya inspirasi saat mendesain?
Tri: Inspirasi bisa dari mana aja, anytime and anywhere. Misalnya saja dari musik, film, mimpi buruk, masa lalu saya, kehidupan, luka, perjuangan saya, dan orang-orang di sekitar saya pastinya.
Ajeng: 3 adalah brand ready to wear untuk laki-laki, dengan kisaran umur lebih muda. Karakteristiknya adalah warnanya yang lebih beragam dan lebih playful. Austere lebih menampilkan warna monochrome, wearable, ada sentuhan masculinity tapi juga ada sisi cantik perempuan. Sedangkan brand Tri Handoko adalah lebih ke couture-nya Mas Tri. Tapi kami sebenarnya kami enggak bikin couture, karena couture lebih ke handmade atau handcrafted. Namun, dari ketiga brand tersebut selalu ada benang merahnya.
(ebn/ebn)