Tak Hanya Gyaru, Kenali 7 Subkultur Fashion Jepang yang Unik dan Mencuri Perhatian

Justina Nur | Beautynesia
Sabtu, 24 Oct 2026 11:30 WIB
Salon Boys
Gaya Salon Boys biasanya memadukan busana merek desainer kelas atas dengan berbagai item bergaya vintage./ Foto: japanfashionweb.wordpress.com

Jepang memang dikenal sebagai suatu negara yang punya subkultur fashion yang unik dan beragam. Bahkan, gaya busana di Jepang cukup berbeda dan tidak selalu mengikuti tren yang sedang populer.

Salah satu subkultur fashion Jepang yang cukup populer dan akhir-akhir ini ramai diperbincangkan adalah Gyaru yang identik dengan makeup tebal, rambut pirang, dan penampilan yang glamor dan nyentrik.

Namun ternyata, subkultur fashion Jepang tak berhenti di situ saja. Masih banyak gaya fashion Jepang yang menarik untuk dikulik karena bukan hanya soal penampilan dan gaya, tapi juga menjadi ciri khas, kreativitas, dan cara seseorang dalam mengekspresikan dirinya.

Lalu, apa saja subkultur fashion Jepang ini? Yuk simak penjelasannya berikut ini.

Gyaru

Gyaru terinspirasi dari budaya remaja Amerika tapi dibuat dengan tampilan yang lebih mencolok seperti mengenakan bulu mata palsu, rambut pirang, dan kulit kecokelatan./ Foto: Instagram.com/ asuka__0928

Melansir dari Tsunagu Japan, Gyaru berasal dari cara orang Jepang saat mengucapkan kata dalam bahasa Inggris 'Gal'.

Gaya Gyaru sendiri terinspirasi dari budaya remaja Amerika yang populer tapi dibuat dengan tampilan yang jauh lebih mencolok. Ciri khas dari Gyaru seperti riasan yang terkesan berlebihan, penggunaan bulu mata palsu, rambut pirang, kulit kecokelatan karena tanning, dan mengenakan berbagai aksesori glamor seperti kuku dan hiasan yang berkilau.

Daerah dengan pusat utama budaya Gyaru berada di Shibuya, sama seperti subkultur fashion Lolita. Gerakan subkultur ini sangat populer di akhir 1990-an sampai awal 2000-an. 

Selain Gyaru, ada juga yang lebih ekstrem yaitu Ganguro Gal. Ciri khasnya yaitu kulitnya kecokelatan, makeup tebal, dan rambutnya dibuat besar. 

Gyaru juga ada yang untuk versi pria yang sering disebut sebagai Gyaruo. Ciri khas utamanya yaitu mengenakan rambut pirang dan besar, aksesori mencolok, dan kulitnya dibuat sangat kecoklatan.

Lolita

Lolita di Jepang terinspirasi dari pakaian anak-anak di era Victoria dan Edwardian dengan busana bernuansa feminin dan cute./ Foto: instagram.com/ronronlolita

Gaya fashion Lolita di Jepang terinspirasi dari pakaian anak-anak di era Victoria dan Edwardian, tapi dengan gaya yang lebih feminin dan cute yang didominasi penggunaan warna pastel dan nuansa pink. 

Tidak hanya itu, Lolita juga punya berbagai subgaya turunannya, seperti gothic atau yang dikenal dengan Goth-loli.

Goth-loli memiliki nuansa yang lebih ‘gelap’ daripada Lolita, karena biasanya menggunakan pakaian serba hitam, makeup mata yang bold, pita, dan busana dengan motif garis-garis hitam-putih.

Visual Kei

Visual Kei adalah subkultur fashion yang awalnya dipopulerkan oleh para musisi dan kelompok musik underground Jepang pada 1980-an./ Foto: Instagram.com/ 37se_ame

Mengutip dari Team Japanese, Visual Kei adalah subkultur fashion yang awalnya dipopulerkan oleh para musisi dan kelompok musik underground Jepang pada 1980-an.

Gaya Visual Kei terpengaruh dari genre musik yang dibawa oleh musisi tersebut mulai dari scene glam rock, metal, dan punk.

Jadi, ciri khas dari Visual Kei yaitu mengenakan eyeliner yang tebal, cenderung memakai busana berwarna gelap, rambutnya diluruskan atau dibuat mengembang, serta mengenakan berbagai aksesori yang mencolok seperti ikat pinggang dan gesper.

Menariknya, konsep subkultur fashion Visual Kei seolah mengaburkan batas antara fashion laki-laki dan perempuan. Gaya fashion ini seolah mengajarkan bahwa semua gender bisa menggunakan makeup mulai dari eyeshadow sampai lipstik.

Decora

Decora adalah subkultur fashion Jepang yang gayanya dikenal paling maksimalis, menggunakan banyak warna cerah dan mencolok serta berbagai aksesori./ Foto: Instagram.com/twinkle.pink_

Decora adalah subkultur fashion Jepang yang gayanya dikenal paling maksimalis. Seperti namanya, Decora berasal dari kata ‘decoration’ yang berarti dekorasi.

Itu artinya, gaya fashion ini menggabungkan berbagai warna cerah dan mencolok dengan memakai sebanyak mungkin aksesori.

Untuk pakaian, gaya fashion Decora hampir semuanya menggunakan outfit berwarna cerah, mulai dari kaus, hoodie, rok, sampai leg warmer.

Tak hanya itu, mereka juga mengenakan berbagai aksesori seperti plester di hidung, stiker untuk ditempel di bagian wajah, dan cincin besar yang mencolok agar tampak lucu.

Yami Kawaii

Subkultur fashion Yami Kawaii menggunakan berbagai tema yang berkaitan dengan kondisi medis seperti masker wajah, jarum suntik, hingga darah palsu./ Foto: Instagram.com/yamikawaii.tokyo

Yami Kawaii cukup populer di tahun 2015, dan cukup kontroversial di zamannya. Hal ini karena kata ‘yami’ berarti sakit, kegelapan, atau keputusasaan, digabungkan dengan kata ‘kawaii’ yang berarti imut.

Subkultur fashion Yami Kawaii ini menggunakan berbagai tema yang berkaitan dengan kondisi medis seperti memakai masker wajah, jarum suntik, hingga darah palsu. Akan tetapi, orang yang bergaya Yami Kawaii akan mengemas hal-hal tersebut dengan gaya yang cute.

Namun, seperti yang dilansir dari Team Japanese, orang-orang yang menerapkan subkultur fashion ini justru menggunakan pakaian tersebut sebagai media untuk mengekspresikan pengalaman mereka yang sulit untuk dihadapi atau dibicarakan.

Hal ini juga membantu mereka meredakan perasaan terisolasi yang bisa saja muncul saat sedang menghadapi masalah kesehatan mental.

Salon Boys

Gaya Salon Boys biasanya memadukan busana merek desainer kelas atas dengan berbagai item bergaya vintage./ Foto: japanfashionweb.wordpress.com

Istilah Salon Boys mulai muncul di jalanan Harajuku yang terkenal sebagai daerah dengan salon rambut yang menarik di Tokyo.

Gaya Salon Boys biasanya memadukan busana merek desainer kelas atas dengan berbagai item bergaya vintage. Awalnya, orang yang mempelopori gaya fashion ini adalah para penata rambut dan asistennya. 

Tidak hanya pakaian, Salon Boys juga ahli dalam memadukan aksesori. Menariknya, gerakan ini bahkan bisa melahirkan majalah fashion CHOKi CHOKi yang pertama kali terbit pada 2002 dan majalah tersebut rutin menampilkan penata rambut profesional sebagai model.

Mori Girl

Mori Girl identik dengan ciri khas penggunaan pakaian berlapis-lapis seolah sedang tinggal di tengah hutan./ Foto: spinns.jp

Seperti namanya, 'mori' berarti hutan, oleh karena itu gaya Mori Girl biasanya identik dengan ciri khas penggunaan pakaian berlapis-lapis yang seolah ingin menghadirkan kesan seseorang yang hidup dekat dengan alam atau tinggal di tengah hutan.

Pakaian yang dikenakan cenderung natural dan lembut serta nyaman karena pakaian Mori Girl biasanya berlapis-lapis. 

Meski subkultur fashion ini menyematkan kata ‘girl’ pada namanya, gaya ini sebetulnya juga bisa digunakan oleh pria karena cukup netral dari segi gender.

Gaya fashion seperti ini kemungkinan masih ditemui di kawasan yang penuh dengan toko vintage seperti Koenji, Kichijoji, dan Shimokitazawa.

Itu tadi Beauties, beberapa subkultur fashion Jepang yang unik dan menarik, tidak hanya Gyaru. Apakah kamu tertarik untuk mengikuti gaya fashion tersebut?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE