Tenun-tenun Langka Ditampilkan di Jakarta Fashion Week 2027

Dimitrie Hardjo | Beautynesia
Senin, 02 Nov 2026 19:00 WIB
Priyo Oktaviano Tampilkan Tenun Cual Bangka dari Kepulauan Bangka Belitung
Priyo Oktaviano tampilkan Tenun Cual Bangka/ Foto: Dok. Cita Tenun Indonesia

Cita Tenun Indonesia (CTI) bersama para desainer tanah air menjadikan pelestarian wastra sebagai misinya. Tenun-tenun dari berbagai daerah di Indonesia dieksplorasi, dihidupkan kembali, dan diolah sehingga menarik atensi masyarakat yang lebih luas, khususnya di ibu kota.

Pada perhelatan Jakarta Fashion Week 2027, hari Sabtu (31/10/2026), CTI menghadirkan peragaan busana TEXTUM--kata diambil dari bahasa Latin "texere" yang berarti menenun atau menyusun. Pada wadah tersebut, desainer Indonesia Priyo Oktaviano, Wilsen Willim, dan Eridani mempresentasikan karya busana yang memusatkan tenun sebagai primadona utama.

Daya tariknya pun tak hanya terletak dari rancangan busana itu sendiri, Beauties, tapi juga pada tenun-tenun yang diangkat. Tak sembarang pilih, CTI menelusuri tenun-tenun sampai ke daerah terpencil untuk menemukan tenun dengan cerita dan teknik pembuatan yang menarik. "Kami selalu memilih daerah ataupun kelompok ataupun komunitas yang belum disentuh oleh yayasan atau yang lainnya supaya jangan tumpang tindih dan hasilnya bisa diukur," terang Ibu Sjamsidar Isa selaku Quality Control CTI, saat dijumpai pada press conference (29/10/2026).

Perjalanannya tak mudah dan memakan waktu berjam-jam untuk menjangkau wilayahnya. Namun, hasilnya berharga. Terlebih ketika melalui penelusuran itu, mereka berhasil memberikan napas lebih panjang pada tenun-tenun yang terancam hilang, dan itulah yang diangkat dan dipamerkan dalam koleksi para desainer di panggung JFW 2027.

Priyo Oktaviano Tampilkan Tenun Cual Bangka dari Kepulauan Bangka Belitung

Priyo Oktaviano tampilkan Tenun Cual Bangka

Priyo Oktaviano tampilkan Tenun Cual Bangka/ Foto: Dok. Cita Tenun Indonesia

Cual Muntok atau Limar Muntok adalah kain tenun khas Kota Muntok, Bangka, yang merupakan kombinasi antara tenun ikat (pencelupan warna pada benang pakan) dan tenun sungkit (penyelipan benang emas atau perak), dengan limar yang mirip seperti songket Palembang. Perpaduan antara ikat dan songket inilah yang membuat tenun ini mudah dikenali, Beauties.

Menariknya, walaupun kain Limar Muntok masih ditemui di sejumlah toko di Bangka, mereka belum memahami proses pembuatan Limar. “Mungkin yang masih bisa hanya satu atau dua orang tua, tapi mereka sudah tidak aktif [menenun],” cerita Ibu Sjamsidar Isa. Jadi untuk membuatnya, mereka memesan Limar dari Palembang, lalu ditenun di Bangka.

Itulah alasan CTI dengan dukungan BRI melatih para pengrajin untuk membuat Limar, Beauties. “Hampir 10 hari untuk mengajarkannya kembali,” lanjutnya. “Jadi ini adalah suatu kebangkitan baru dan harapan kami, ini bisa diteruskan.”

Kain tenun Cual Bangka dari pengrajin binaan CTI itu kemudian diolah oleh Priyo Oktaviano menjadi 12 rancangan busana modern dan mewah, terdiri dari enam busana pria dan enam busana wanita. Priyo mengambil inspirasi dari kemegahan visual istana Versailles, khususnya ornamen-ornamen kerajaan seperti chandelier kristal dan detail dekoratif yang identik lainnya. Lalu, digabungkan dengan pendekatan modern European tailoring, sehingga menghasilkan siluet androgini dan edgy.

Sementara dari segi palet warna, karakter alam dan budaya Bangka Belitung menjadi inspirasi, kemudian dipadukan dengan rona batu permata yaitu emerald green, siam ruby red, dan topaz orange.

Wilsen Willim Tampilkan Tenun Dayak Iban dari Kalimantan Barat

Wilsen Willim tampilkan Tenun Dayak Iban

Wilsen Willim tampilkan Tenun Dayak Iban/ Foto: Dok. Cita Tenun Indonesia

Dua tahun bekerja sama dengan pengrajin di wilayah Putussibau, Kalimantan Barat, CTI, Wilsen Willim, bersama Yayasan Kawan Lama, menemukan tenun Dayak Iban dengan teknik pileh menjadi suatu kelangkaan yang perlu dilestarikan. Hanya 3 orang penenun senior Lauk Rugun binaan CTI yang bisa mengerjakan teknik tersebut. Proses pengerjaan teknik pileh membutuhkan waktu yang lama dan rumit, Beauties, dengan karakteristik yang lebih kompleks dibandingkan teknik sidan, seperti benang yang lebih renggang serta terdapat lapisan warna yang membuatnya lebih kaya.

Kain tenun teknik sidan mendominasi 15 tampilan busana rancangan Wilsen Willim, sedangkan teknik pileh hanya ditampilkan beberapa potong karena terdapat keterbatasan dari segi SDM hingga kondisi akibat kebakaran hutan, serta proses pembuatan yang tak sebentar.

Kain tenun Dayak Iban itu diolah menjadi ragam evening wear yang glamor, berpotongan bersih selaras dengan identitas desain Wilsen Willim. Sementara rancangan lainnya meliputi rok, celana, kemeja, celemek (apron), dan korset. “Kali ini, kebanyakan tim aku yang lebih hands-on,” ucap Wilsen menjelaskan desainnya. “Aku mau memberikan ruang bagi asisten dan senior designer aku untuk mengeksplor juga. Jadi kalau biasanya 100% desain aku, ini mungkin desain aku cuma 30%, dan aku ingin tim aku lebih maju.”

Bersama dengan itu, tim Wilsen Willim dan CTI mengutarakan kekhawatirannya terkait kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan, Beauties. Walaupun para penenun binaan mereka aman dari bencana, tetap ada ketakutan jika hutan setempat terbakar, maka akan menyebabkan kesulitan pemerolehan sumber daya, seperti pewarna alami untuk tenun. Sebab, penenun menggunakan warna alam yang bahan bakunya diambil dari hutan sekitar mereka, sehingga tidak ada kebergantungan dari luar pulau.

Eridani Tampilkan Tenun Inuh dari Lampung

Eridani tampilkan Tenun Inuh

Eridani tampilkan Tenun Inuh/ Foto: Dok. Cita Tenun Indonesia

Tenun Inuh merupakan tenun yang sudah punah, Beauties. Bersama dengan Adinda Bakrie Foundation, CTI melakukan pembinaan pengrajin-pengrajin muda di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, yang belajar proses menenun dari nol, mulai dari penggunaan alat produksi, pengenalan desain, hingga eksplorasi pewarnaan alami.

Tenun tersebut kemudian diolah oleh desainer Eridani menjadi 15 rancangan busana wanita bertema MANGI (THE BECOMING) yang mengangkat cerita tentang kembalinya Tenun Inuh yang sempat tertidur dan hilang selama lebih dari satu abad silam, tepatnya saat meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883 yang menghancurkan wilayah pesisir Lampung.

Tenun Inuh dalam adat masyarakat pesisir Lampung merupakan kain yang sangat sakral dan juga pusaka perempuan di sana dalam struktur patrilineal. Oleh karena itu, pada pagelaran JFW 2027, Tenun Inuh bukan hanya terlahir kembali, tapi juga menjadi simbol sosok perempuan yang elegan, karismatik, dan berwibawa di era modern. Kesan itu ditampilkan melalui siluet kokoh dari tailoring dipadu drapery yang terstruktur pada busana, Beauties.

Pengrajin yang Bertumbuh dengan Tenun

Koleksi Wilsen Willim yang menggunakan Tenun Dayak Iban

Koleksi Wilsen Willim yang menggunakan Tenun Dayak Iban/ Foto: Dok. Cita Tenun Indonesia

Pada akhirnya, tenun tidak hanya bisa dilihat sebagai fashion semata, Beauties. Menenun kini telah menjadi mata pencaharian yang semakin banyak dilakukan oleh masyarakat di berbagai daerah binaan CTI. Kain tenun menjadi cara perempuan di sana untuk menopang ekonomi keluarga.

Kalau dahulu para perempuan di sana masih harus berhutang dan hanya menjadikan menenun sebagai hobi, kini mereka mampu membeli sesuatu dengan hasil menenun. “Sekarang karena permintaannya meledak, mereka jadi lebih semangat. 5 jam atau 6 jam [menenun], dijadikan pekerjaan,” cerita Wilsen tentang pengrajinnya di empat dusun Putussibau, yang kini jumlahnya telah menyentuh ratusan. “Kalau suaminya meladang atau berburu, istrinya menenun.”

Namun tak hanya para istri, anak-anak muda di sana pun ikut tertarik untuk menenun karena ingin membeli barang-barang keinginannya sendiri, seperti dengan membuat selendang tenun yang bisa dijual sekitar Rp300 ribu. Berkat eksposur terhadap pengrajin secara langsung melalui media sosial, peningkatan pendapatan mereka pun bertambah hingga mencapai 300 persen. Bahkan, tim CTI turut mendapatkan cerita salah seorang penenun yang berhasil menyekolahkan anaknya di salah satu universitas di Yogyakarta.

Kata “mahal” yang sering dicap pada kain tenun pun menemukan justifikasinya. Sebab, satu potong kain tenun dibuat oleh banyak tangan dan penjualannya dapat menafkahi satu keluarga, Beauties.

Bagaimana menurut kamu?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE