3 Topik Pembicaraan yang Bisa Membuat Hubungan Orang Tua dan Anak Dewasa Renggang
Hubungan orang tua dan  anak  yang sudah dewasa memang bisa berubah. Hal ini karena kebiasaan-kebiasaan hingga sudut pandang yang sudah berbeda, serta kemampuan dan keinginan anak untuk memilih apa yang menurut mereka baik untuk diri sendiri.
Di sisi lain, setiap orang tua cenderung merasa terus khawatir dan ingin mengetahui setiap perkembangan anak mereka, meskipun sudah dewasa sekalipun. Sayangnya, beberapa hal atau topik pembicaraan justru bisa membuat hubungan orang tua dan anak yang sudah dewasa jadi renggang, Beauties.
Melansir dari laman Cottonwood Psychology, ini beberapa hal dan topik pembicaraan yang membuat hubungan orang tua dan anak dewasa renggang.
1. Opini Tentang Pasangan Anak
Ilustrasi ibu dan anak dewasa/ Foto: magnific.com/teksomolika
Topik pembicaraan yang bisa membuat hubungan orang tua dan anak dewasa renggang yakni opini tentang pasangan. Bagi para orang tua, membicarakan pasangan si anak penting karena mereka mungkin khawatir bagaimana anak mereka diperlakukan dan seperti apa masa depan mereka nantinya.
Namun, tidak semua anak merasa nyaman untuk membicarakan hal ini dengan orang tua. Oleh karena itu, orang tua bisa menyampaikan kekhawatiran mereka mengenai pasangan si anak melalui bahasa yang tenang dan lugas agar tidak membuat si anak tersinggung atau menghindari pembicaraan terkait topik pasangan.
Selain itu, ketika orang tua terlalu mendesak atau menekan pasangan anaknya, sang anak mungkin justru menjauh demi membela pilihannya. Jika dibiarkan, jarak tersebut bisa berubah menjadi kebiasaan, Beauties.
2. Dukungan Finansial dengan Syarat Tertentu
Ilustrasi ayah dan anak dewasa/ Foto: magnific.com/magnific
Dukungan finansial bisa terasa seperti wujud nyata dari kasih sayang orang tua kepada anaknya. Namun, jika hal ini diikuti dengan syarat tertentu, anak yang sudah dewasa mungkin bertanya-tanya mengenai ‘harga’ atau ‘timbal balik’ apa yang harus mereka berikan di masa mendatang. Di sisi lain, orang tua mungkin merasa heran mengapa rasa terima kasih yang ditunjukkan si anak terasa begitu minim.
Misalnya, orang tua membiayai paket internet ponsel si anak. Kemudian, mereka meminta kabar setiap hari, akses ke kalender harian anak, atau hak suara dalam pengambilan keputusan penting. Seiring waktu, sang anak mungkin justru memilih untuk lebih tertutup demi menjaga kemandiriannya, Beauties.
Sebaiknya, orang tua mencoba untuk menetapkan ketentuan yang sederhana dan menyampaikannya secara terbuka. Kesepakatan yang jelas akan mengurangi risiko munculnya rasa kesal. Selain itu, cara ini juga mencegah hubungan berubah menjadi ajang negosiasi setiap bulannya.
Pilihan lainnya adalah memberikan bantuan dalam bentuk yang lebih sederhana dan tidak mengikat. Misalnya, kartu belanja kebutuhan pokok, bantuan biaya perbaikan mobil, atau dana untuk membayar tagihan tertentu, semua ini bisa dirasakan sebagai bentuk dukungan tanpa adanya tekanan.
3. Batasan Mengenai Waktu
Ilustrasi ibu dan anak dewasa/ Foto: magnific.com
Beauties, batasan mengenai waktu bisa sangat personal. Bagi orang tua, menelepon anak yang sudah dewasa secara rutin merupakan cerminan dari rasa sayang dan prioritas, sehingga banyak orang tua berharap si anak bisa menjawabnya dengan cepat.
Namun, anak yang sudah dewasa bisa menganggap kebiasaan ini seperti mereka seolah-olah sedang diawasi. Di sisi lain, jika anak dewasa membatasi komunikasi dengan orang tua, hal itu bisa membuat orang tua merasa tersisihkan.
Oleh karena itu, orang tua dan anak sebaiknya bisa mulai membangun ‘ritme’ bersama. Misalnya, jika anak tinggal berjauhan dari orang tua, jadwalkan panggilan telepon di akhir minggu, mengirim pesan singkat di malam hari, atau membuat acara makan bersama setiap bulan.
Hal ini bisa memberikan pola konsisten dalam hubungan, sekaligus penting untuk menjaga kedekatan emosional antara orang tua dan anak.
---
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!