4 Alasan Memberikan Reward ke Anak Bisa Mengganggu Motivasinya

Budi Rahmah Panjaitan | Beautynesia
Kamis, 15 Oct 2026 19:00 WIB
4 Alasan Memberikan Reward ke Anak Bisa Mengganggu Motivasinya
Reward Bisa Mengganggu Motivasi Anak, Ini Alasannya!/ Foto: Magnific.com/Tirachardz

“Kalau sayurannya habis, boleh main tablet.”

Kalimat seperti ini mungkin sudah tidak asing bagi kita, terutama bagi para orang tua. Ya, memberikan hadiah memang bisa membuat anak lebih cepat melakukan sesuatu.

Namun, jika terlalu sering digunakan, reward atau penghargaan justru bisa membuat anak terbiasa melakukan sesuatu hanya karena mengharapkan imbalan. Padahal, yang ingin dibangun bukan sekadar kepatuhan, melainkan motivasi dari dalam diri anak. Lantas sejauh mana reward ini bisa mengganggu motivasi anak?

Reward Dapat Berhasil, Tetapi Sementara

Reward dapat membuat anak lebih termotivasi dalam jangka pendek, tetapi motivasi tersebut bisa menurun ketika hadiah tidak lagi diberikan/ Foto: Magnific.com/Magnific
Reward dapat membuat anak lebih termotivasi dalam jangka pendek, tetapi motivasi tersebut bisa menurun ketika hadiah tidak lagi diberikan/ Foto: Magnific.com/Magnific

Memberikan hadiah dapat meningkatkan semangat anak dalam jangka pendek. Anak mungkin lebih rajin belajar karena dijanjikan mainan atau lebih cepat membereskan kamar karena mendapat tambahan waktu bermain. Masalahnya, ketika hadiah tersebut tidak lagi diberikan, motivasinya bisa ikut menurun. Anak akhirnya lebih fokus pada apa yang akan didapat daripada memahami alasan mengapa ia perlu melakukan hal tersebut.

Lebih Fokus pada Hadiah daripada Prosesnya

Anak dapat lebih berfokus pada imbalan daripada menikmati proses atau memahami alasan di balik kegiatan yang dilakukan/ Foto: Magnific.com/Lookstudio

Ketika reward menjadi tujuan utama, anak dapat bergeser dari motivasi intrinsik menuju motivasi eksternal. Misalnya, anak belajar bukan karena ingin memahami pelajaran, tetapi karena ingin mendapatkan hadiah setelah nilainya bagus. Begitu hadiah tidak ada, aktivitas tersebut bisa terasa kurang menarik. Dalam jangka panjang, pola ini berisiko membuat anak lebih terbiasa mencari imbalan daripada menemukan kepuasan dari proses belajar atau menyelesaikan tanggung jawabnya.

Reward Bisa Membuat Terjebak dalam “Lingkaran Hadiah”

Hadiah yang terus diberikan dapat kehilangan daya tarik, sehingga orang tua perlu memberikan imbalan yang semakin besar agar anak tetap termotivasi/ Foto: Magnific.com/Jcomp

Masalah lainnya, hadiah yang awalnya terasa menarik lama-lama bisa menjadi biasa saja. Mengutip dari Psychology Today, kondisi ini dikenal sebagai hedonic adaptation, ketika sesuatu yang awalnya menyenangkan menjadi kurang menarik setelah sering diberikan.

Akibatnya, orang tua mungkin merasa perlu memberikan hadiah yang lebih besar atau lebih menarik agar anak tetap mau melakukan sesuatu. Tanpa disadari, terbentuklah pola di mana anak melakukan sesuatu karena hadiah, lalu hadiah harus terus ditingkatkan agar motivasinya tetap muncul.

Anak Menolak Belum Tentu Membangkang

Penolakan anak tidak selalu berarti membangkang karena bisa saja ada kebutuhan, rasa takut, atau masalah lain yang mendasarinya/ Foto: Magnific.com/Magnific

Ketika anak tidak mau melakukan sesuatu, memberikan hadiah atau ancaman mungkin memang membuatnya menurut. Namun, cara tersebut belum tentu menyelesaikan penyebab sebenarnya.

Anak yang sulit tidur, misalnya, mungkin bukan sekadar ingin menonton TV lebih lama, tetapi sedang takut tidur sendirian, cemas menghadapi hari berikutnya, atau justru masih membutuhkan waktu bersama orang tua. Karena itu, daripada langsung menawarkan hadiah, orang tua bisa mencoba memahami alasan di balik penolakan anak.

Ganti Kontrol dengan Rasa Ingin Tahu

Alih-alih langsung memberi hadiah, orang tua dapat bertanya dan memahami alasan anak agar mereka belajar mengambil keputusan serta membangun motivasi dari dalam diri/ Foto: Magnific.com/Tirachardz

Daripada selalu berkata, “Kalau kamu mau tidur sekarang, besok boleh main,” orang tua bisa mencoba bertanya, “Kamu sebenarnya kenapa belum mau tidur?”

Pertanyaan sederhana seperti ini membuka kesempatan untuk memahami kebutuhan anak dan memberikan bantuan yang lebih tepat. Tujuannya bukan membuat anak selalu patuh, tetapi membantu mereka memahami alasan di balik sebuah tindakan, membangun rasa memiliki terhadap keputusan, dan perlahan menumbuhkan motivasi yang berasal dari dalam diri.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE