4 Ciri Kepribadian Anak yang Terlalu Diawasi Orang Tua saat Kecil Menurut Psikolog

Nadya Quamila | Beautynesia
Rabu, 30 Sep 2026 21:30 WIB
Sulit Menjalin Hubungan dengan Orang Lain
Ciri Kepribadian Anak yang Terlalu Diawasi Orang Tua saat Kecil Menurut Psikolog/Foto: Pexels.com

Beauties, pernah mendengar istilah helicopter parenting? Istilah ini merujuk pada jenis pola asuh ketika orang tua terlalu mengawasi, mengontrol, dan ikut campur secara berlebihan dalam setiap aspek kehidupan anak.

Misalnya, orang tua ikut mengerjakan, bukan membantu, tugas sekolah anak yang seharusnya mereka kerjakan sendiri. Di lingkup pertemanan, orang tua yang menerapkan gaya parenting ini biasanya akan menentukan siapa yang boleh berteman dengan sang anak. Bahkan, mereka juga akan sigap pasang badan jika anak melakukan kesalahan sekecil apa pun.

Sekilas, gaya parenting ini terlihat seperti kasih sayang orang tua yang begitu besar kepada anaknya. Namun, di sisi lain, anak yang terlalu diawasi orang tuanya akan tumbuh dengan ciri kepribadian tertentu yang mungkin bisa menghambat mereka dalam menjalani kehidupan.

Menurut psikolog klinis Dr. Samantha Rodman Whiten, pola asuh yang berlebihan membuat anak merasa rapuh dan bergantung pada orang dewasa bahkan untuk memenuhi kebutuhan yang paling sepele sekalipun. Iironisnya, naluri orang tua untuk melindungi anak dari segala hal buruk di dunia secara berlebihan justru menjadi faktor utama yang memperkuat kerapuhan anak yang ingin mereka cegah tersebut.

Dirangkum dari Your Tango, yuk, simak ulasannya berikut ini!

Anak Kesulitan Menyelesaikan Masalah atau Konflik

Anak yang terlalu diawasi orang tuanya akan tumbuh dengan ciri kepribadian tertentu yang mungkin bisa menghambat mereka dalam menjalani kehidupan. Mereka jadi sulit menyelesaikan masalah, sulit menjalin hubungan, enggan bangkit dari kegagalan, hingga alami kecemasan.

Ciri Kepribadian Anak yang Terlalu Diawasi Orang Tua saat Kecil Menurut Psikolog/Foto: Pexels.com

Menurut psikolog Mariana Brussoni, ketika orang tua terlalu mengawasi dan mengekang anak, maka anak tidak dapat mengembangkan keterampilan penting yang mereka butuhkan di kehidupan mereka saat dewasa, yaitu menyelesaikan masalah atau konflik.

Anak-anak yang terlalu dilindungi tidak belajar cara memecahkan masalah atau menyelesaikan konflik secara mandiri. Padahal, ketika diberi ruang untuk melakukannya, mereka justru dapat berkembang dengan pesat, Beauties. Brussoni juga mencatat bahwa situasi yang mengharuskan anak mencari jalan keluar sendiri dapat membantu mereka mengembangkan fungsi eksekutif, yaitu serangkaian keterampilan kognitif di otak (seperti perencanaan, memori kerja, dan kontrol diri) yang digunakan manusia untuk mengatur perilaku dan mencapai tujuan.

Sulit Menjalin Hubungan dengan Orang Lain

Anak yang terlalu diawasi orang tuanya akan tumbuh dengan ciri kepribadian tertentu yang mungkin bisa menghambat mereka dalam menjalani kehidupan. Mereka jadi sulit menyelesaikan masalah, sulit menjalin hubungan, enggan bangkit dari kegagalan, hingga alami kecemasan.

Ciri Kepribadian Anak yang Terlalu Diawasi Orang Tua saat Kecil Menurut Psikolog/Foto: Pexels.com

Semasa kecil, ketika anak dibebaskan untuk menjalin hubungan dengan teman sebaya, mereka melakukan lebih dari sekadar mencari teman bermain. Mereka sedang mengembangkan aspek penting dalam pembentukan diri mereka seutuhnya, yaitu kecerdasan emosional.

Sering kali, orang tua memiliki naluri untuk segera turun tangan saat anak menghadapi kesulitan. Sebenarnya ini adalah naluri yang wajar dari orang tua. Tentu orang tua ingin melindungi anak-anak mereka dari bahaya. Namun, memberikan ruang bagi anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri sangatlah berharga, karena hal itu mengajarkan mereka untuk memercayai kemampuan diri sendiri.

Sulit untuk Bangkit dari Kegagalan

Anak yang terlalu diawasi orang tuanya akan tumbuh dengan ciri kepribadian tertentu yang mungkin bisa menghambat mereka dalam menjalani kehidupan. Mereka jadi sulit menyelesaikan masalah, sulit menjalin hubungan, enggan bangkit dari kegagalan, hingga alami kecemasan.

Foto: Pexels.com

Jika anak terlalu diawasi, bahkan untuk kegiatan yang mereka bisa lakukan, mereka akan tumbuh jadi sosok yang kesulitan untuk bangkit dari kegagalan, Beauties.

Aktivitas sederhana yang dilakukan sendiri, seperti mengajak hewan peliharaan berjalan-jalan di sekitar lingkungan rumah, menunjukkan kepada anak-anak bahwa mereka mampu menghadapi tantangan baru. Berhasil menyelesaikan tugas yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya mengajarkan mereka bahwa mereka adalah sosok yang tangguh dan cakap.

"Anak-anak yang percaya diri tumbuh berkat orang tua yang perannya bukan sekadar melindungi mereka dari dunia luar, melainkan membantu mereka dalam mengarungi dunia tersebut," jelas psikolog Dr. Lisa Kaplin. "Keberhasilan-keberhasilan kecil inilah yang melatih dan memperkuat kemampuan mereka dalam menghadapi berbagai situasi."

Tak Bisa Mengelola Kecemasan

Anak yang terlalu diawasi orang tuanya akan tumbuh dengan ciri kepribadian tertentu yang mungkin bisa menghambat mereka dalam menjalani kehidupan. Mereka jadi sulit menyelesaikan masalah, sulit menjalin hubungan, enggan bangkit dari kegagalan, hingga alami kecemasan.

Ciri Kepribadian Anak yang Terlalu Diawasi Orang Tua saat Kecil Menurut Psikolog/Foto: Pexels.com

Anak-anak sama sekali tidak kebal terhadap masalah kesehatan mental. Wajar jika anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang terlalu protektif bergulat dengan masalah seperti kecemasan akan perpisahan dan ketakutan terhadap hal-hal baru. 

Namun, melindungi anak-anak dari sisi sulit kehidupan justru merugikan mereka. Hal ini dapat membuat mereka terjebak dalam kecemasan alih-alih menunjukkan bahwa mereka mampu menghadapinya. Psikolog Dr. Sharon Saline memperingatkan orang tua agar tidak terus-menerus menuruti naluri untuk meredakan kekhawatiran anak.

"Meskipun kecemasan menyukai kata-kata penenang karena hal itu memberikan kelegaan sesaat dari rasa tidak nyaman, mengatakan kepada anak bahwa semuanya akan baik-baik saja atau meminta mereka untuk tidak khawatir justru meningkatkan kecemasan dalam jangka panjang," jelasnya.

Penelitian tahun 2021 menunjukkan bahwa melakukan permainan yang memacu jiwa petualang dapat mengurangi kecemasan pada anak. Aktivitas seperti memanjat pohon, bersepeda menuruni bukit, atau melompat dari papan loncat di kolam renang bermanfaat bagi anak-anak karena adanya faktor risiko yang melekat dalam kegiatan tersebut. Saat melakukan permainan semacam ini, anak-anak merasakan kegembiraan yang memuncak dan peningkatan kadar adrenalin.

Studi tersebut juga menyatakan bahwa permainan yang memacu jiwa petualang membantu mengendalikan kecemasan anak, karena kegiatan ini memungkinkan mereka melihat bahwa mereka mampu melakukan sesuatu meskipun merasa takut, sehingga mengurangi ketidakmampuan mereka dalam mentoleransi ketidakpastian.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE