4 Kebiasaan yang Harus Ditinggalkan Orang yang Ingin Jadi Bijaksana

Florence Febriani Susanto | Beautynesia
Kamis, 22 Oct 2026 16:30 WIB
Menganggap Setiap Percakapan Harus Berakhir dengan Kamu yang Benar
Setiap Percakapan Harus Berakhir dengan Kamu yang Benar/Foto: Magnific

Beauties, menjadi orang bijaksana bukan berarti harus selalu punya jawaban paling cepat atau memenangkan setiap perdebatan. Ada kalanya kamu perlu memahami apa kebiasaan yang harus ditinggalkan orang yang ingin menjadi bijaksana.

Mungkin kamu perlu diam sebentar, mengakui bahwa kamu belum tahu, atau mempertanyakan kembali keyakinan sendiri. Lantas, kebiasaan apa saja yang sebaiknya mulai ditinggalkan kalau kamu ingin punya kemampuan judgment yang lebih matang? Yuk, simak daftarnya dilansir dari Bolde!

Selalu Menjawab Sebelum Orang Lain Selesai Bicara

Menjawab Sebelum Orang Lain Selesai Bicara/Foto: Magnific

Seseorang baru setengah selesai bertanya tetapi kamu sudah tahu mau menjawab apa? Bahkan, tanpa sadar kamu mungkin sudah menyusun respons sebelum lawan bicara menyelesaikan kalimatnya.

Kebiasaan ini memang bisa membuat seseorang terlihat cepat tanggap. Namun, ada kemungkinan kamu sebenarnya sedang menjawab pertanyaan yang kamu kira akan ditanyakan, bukan pertanyaan yang benar-benar disampaikan.

Psikolog Igor Grossmann dari University of Waterloo yang mempelajari wisdom atau kebijaksanaan membedakan kemampuan bekerja secara efisien dengan kemampuan membuat penilaian yang baik. Menurutnya, metakognisi membutuhkan waktu untuk melihat sesuatu di luar penilaian spontan.

Jadi, orang bijaksana tidak selalu buru-buru mengisi keheningan. Coba beri jeda sebentar setelah seseorang selesai berbicara. Mungkin hanya setengah detik, tetapi jeda kecil itu bisa membuatmu benar-benar memahami maksudnya sebelum memberikan respons.

Menganggap Setiap Percakapan Harus Berakhir dengan Kamu yang Benar

Setiap Percakapan Harus Berakhir dengan Kamu yang Benar/Foto: Magnific

Perdebatan soal restoran, tanggal tenggat pekerjaan, sampai hal kecil dengan pasangan bisa berubah menjadi pertandingan. Kamu menemukan bukti, menyusun argumen, lalu merasa percakapan baru selesai ketika orang lain mengakui bahwa kamu benar. Masalahnya, kemenangan dalam percakapan belum tentu menghasilkan hubungan yang lebih baik, Beauties.

Bayangkan seorang teman akhirnya berhenti menceritakan rencananya karena setiap ide selalu dikoreksi. Atau rekan kerja yang tidak lagi menyampaikan pendapat dalam rapat karena takut argumennya langsung dibantah. Kalau hal ini terus terjadi, mungkin persoalannya bukan karena orang lain terlalu sensitif.

Psikolog Tenelle Porter dari Rowan University yang meneliti intellectual humility atau kerendahan hati intelektual menjelaskan bahwa lawan dari sikap tersebut adalah intellectual rigidity, yaitu kecenderungan memiliki keyakinan yang sangat kaku dan merasa terlalu pasti.

Penelitian Porter bersama rekan-rekannya pada remaja juga menemukan bahwa siswa yang lebih memiliki intellectual humility cenderung lebih terbuka terhadap pembelajaran, menerima feedback dengan lebih baik, dan memperoleh nilai akademik yang lebih tinggi.

Jadi, menjadi orang bijaksana bukan berarti harus selalu mengalah. Kamu tetap boleh mempertahankan pendapat, tetapi tidak harus menjadikan setiap percakapan sebagai arena pembuktian bahwa dirimu paling benar.

Menggunakan Kepintaran untuk Membela Keyakinan Sendiri

Menggunakan Kepintaran untuk Membela Diri Sendiri/Foto: Magnific

Ini mungkin salah satu jebakan yang paling sulit disadari. Ketika menemukan informasi yang bertentangan dengan keyakinan sendiri, orang yang pintar bisa saja tidak langsung berubah pikiran. Sebaliknya, mereka justru semakin jago mencari alasan mengapa informasi tersebut tidak berlaku.

Dari dalam, perilaku ini terasa seperti berpikir kritis. Kamu memeriksa metode penelitian, mempertanyakan sampel, menemukan kelemahan argumen, dan mencari pengecualian. Semuanya terdengar sangat rasional.

Namun, bagaimana kalau semua kemampuan tersebut hanya digunakan untuk mempertahankan kesimpulan yang sejak awal sudah kamu pilih?

Profesor hukum Yale, Dan Kahan, bersama rekan-rekannya pernah meneliti bagaimana kemampuan numerik seseorang dapat berinteraksi dengan keyakinan politik. Peserta diberikan data matematika yang sebenarnya sama, tetapi konteksnya dibuat berbeda.

Ketika data tersebut dikaitkan dengan penelitian krim kulit, orang yang memiliki kemampuan numerik lebih tinggi cenderung lebih baik dalam membaca hasilnya. Namun, ketika angka yang sama dibingkai sebagai data mengenai isu pengendalian senjata, peserta dengan kemampuan numerik tinggi justru menunjukkan polarisasi yang lebih besar berdasarkan posisi politik mereka.

Artinya, kemampuan berpikir yang tinggi tidak otomatis membuat seseorang selalu objektif. Kadang, kecerdasan justru bisa menjadi alat yang semakin canggih untuk membela apa yang sudah ingin kita percayai.

Orang bijaksana belajar mengenali titik ini. Mereka bukan hanya bertanya, “Apa yang salah dari informasi ini?” tetapi juga berani bertanya, “Kalau informasi ini benar, apakah saya siap mengubah pendapat?”

Memberi Nasihat Lebih Bijak kepada Orang Lain daripada kepada Diri Sendiri

Hanya Memberi Nasehat Bijak ke Orang Lain/Foto: Magnific

Coba bayangkan seorang teman datang kepadamu karena sedang mengalami masalah hubungan. Kamu mungkin bisa melihat situasinya dengan cukup jernih. Kamu tahu kapan dia harus memberi ruang, kapan perlu berbicara, bahkan kapan sebaiknya berhenti mempertahankan sesuatu.

Tapi ketika masalah yang sama terjadi pada dirimu sendiri, semuanya mendadak terasa berbeda. Kamu menjadi lebih defensif, sulit melihat kesalahan sendiri, dan merasa situasinya terlalu rumit untuk mengikuti nasihat yang biasanya kamu berikan kepada orang lain.

Ternyata, kecenderungan ini memang pernah diteliti. Igor Grossmann dan psikolog University of Michigan, Ethan Kross, mempelajari bagaimana orang membuat penilaian ketika menghadapi masalah milik sendiri dibandingkan masalah orang lain.

Mereka menemukan bahwa orang cenderung memberikan pertimbangan yang lebih bijaksana ketika memikirkan masalah orang lain. Fenomena tersebut dikenal sebagai Solomon's Paradox, mengambil nama Raja Solomon yang dikenal karena kebijaksanaannya tetapi tetap menghadapi masalah dalam mengambil keputusan pribadi.

Menariknya, penelitian tersebut juga menemukan cara sederhana untuk mengurangi jarak tersebut. Ketika seseorang membicarakan masalahnya menggunakan sudut pandang orang ketiga, misalnya menyebut namanya sendiri, kemampuan mereka untuk mengambil jarak dari persoalan dapat meningkat.

Jadi, ketika sedang bingung mengambil keputusan, coba tanyakan sesuatu yang sederhana, “Kalau sahabatku mengalami hal yang sama, apa yang akan aku sarankan kepadanya?” Bisa jadi, jawaban yang selama ini kamu cari sebenarnya sudah kamu punya.

Kalau kamu melihat empat kebiasaan tadi dalam dirimu, Beauties, mana yang paling sulit ditinggalkan? Atau jangan-jangan, justru ada satu kebiasaan yang baru kamu sadari setelah membaca penjelasan di atas?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE