5 Ciri Kepribadian Orang yang Tetap Tertawa Meski Nggak Paham Leluconnya Menurut Psikolog

Sri Purwantiningrum | Beautynesia
Minggu, 11 Oct 2026 15:00 WIB
3. Tipe Pemikir Harfiah
Ciri kepribadian orang yang tetap tertawa meski nggak paham leluconnya menurut psikolog/ Foto: Magnific/nampix

Pernahkah kamu berada di tengah obrolan seru, lalu mendadak semua orang tertawa terbahak-bahak dan kamu refleks ikut tertawa, padahal otakmu masih bingung mencari letak lucunya? Tenang, kamu tidak sendirian, Beauties.

Faktanya, tawa sering kali bukan sekadar reaksi terhadap kelucuan, melainkan alat perekat relasi sosial. Studi dalam Philosophical Transactions of the Royal Society B menemukan bahwa manusia 30 kali lebih mungkin tertawa saat bersama orang lain. Menariknya, kecenderungan ini sangat konsisten terlepas dari seberapa lucu lawan bicaranya. Artinya, kebiasaan ikut tertawa ini juga bisa mencerminkan karakter bawaanmu sebagai pendengar.

Merangkum ulasan psikolog klinis Dr. Natalie Feinblatt di laman Parade, mari simak 5 ciri kepribadian orang yang tetap tertawa meski tidak sepenuhnya paham leluconnya!

1. Sensitif terhadap Penilaian Orang Lain

Ciri kepribadian orang yang tetap tertawa meski nggak paham leluconnya menurut psikolog/ Foto: Pexels/Fox

Seseorang dengan kecemasan sosial sering kali memiliki kekhawatiran berlebih akan dihakimi secara negatif di ruang publik. Mereka takut dianggap kurang cerdas, tidak asyik, atau kurang update jika hanya terdiam saat semua orang tertawa. 

Agar tidak merusak suasana atau menjadi pusat perhatian, mereka memilih ikut tertawa. Tawa di sini berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri yang aman untuk menutupi rasa panik sekaligus menghindari sorotan canggung. 

2. Kecenderungan sebagai People Pleaser

Ciri kepribadian orang yang tetap tertawa meski nggak paham leluconnya menurut psikolog/ Foto: Magnific/Magnific

Seorang people pleaser cenderung mendahulukan kenyamanan orang lain di atas perasaannya sendiri. Mereka merasa bertanggung jawab menjaga keharmonisan suasana. Saat seseorang melempar cerita, mereka refleks tertawa untuk menyelamatkan perasaan si pencerita agar tidak merasa garing atau malu.

Mereka juga menggunakan tawa sebagai sinyal yang membantu mereka merasa menjadi bagian dari kelompok. Tawa ikut-ikutan ini memiliki niat tulus untuk menjalin koneksi, sehingga lawan bicara biasanya akan merasa lebih dihargai dan nyaman berada di dekat mereka.

3. Tipe Pemikir Harfiah

Ciri kepribadian orang yang tetap tertawa meski nggak paham leluconnya menurut psikolog/ Foto: Magnific/nampix

Terkadang juga penyebabnya terletak pada cara otak memproses informasi. Beberapa orang, termasuk individu neurodivergen, mencerna bahasa secara harfiah atau apa adanya. Humor bernada sarkasme atau makna ganda membutuhkan waktu ekstra untuk mereka pahami.  

Mereka biasanya baru sadar kalau itu adalah sebuah jokes berkat isyarat sosial dari orang-orang di sekitarnya yang tertawa. Karena obrolan terus melaju cepat, mereka pun ikut tertawa dulu mengikuti respons kelompok, lalu memproses maknanya belakangan.

4. Peka Secara Sosial Tapi Kurang Referensi Konteks

Ciri kepribadian orang yang tetap tertawa meski nggak paham leluconnya menurut psikolog/ Foto: Magnific/Magnific

Seseorang tidak selalu harus tahu segalanya. Sering kali mereka yang ketinggalan lelucon memang murni karena tidak memiliki pengetahuan latar belakang topik tersebut, seperti referensi pop culture atau internal jokes.

Meski secara kognitif tidak paham, kepekaan sosial mereka yang tajam tetap bisa menangkap sinyal bahwa momen itu lucu. Tawa yang mereka berikan bekerja efektif membangun kehangatan dan membuat lawan bicara merasa dihargai dan memiliki kesamaan.

5. Fokusnya Mudah Terdistraksi

Ciri kepribadian orang yang tetap tertawa meski nggak paham leluconnya menurut psikolog/ Foto: Magnific/lookstudio

Apakah kamu sering daydreaming atau melamun di tengah obrolan? Seseorang yang sering kali ketinggalan punchline biasanya karena kehilangan fokus di awal cerita. Ketika tiba-tiba semua orang tertawa, mereka yang terdistraksi ini refleks ikut tertawa untuk menyamakan ritme obrolan. Tujuannya sederhana yakni menutupi kecanggungan karena ketahuan tidak menyimak percakapan.

Studi juga menunjukkan bahwa orang yang terlalu sering ikut tertawa tanpa paham konteksnya, justru cenderung kurang menikmati obrolan tersebut. Maka dari itu, Dr. Feinblatt menyarankan untuk tidak selalu merasa harus berpura-pura demi diterima dalam kelompok.

Sesekali, cobalah respons dengan jujur yang santai, misalnya, "Duh, aku nggak paham, nih, maksudnya gimana, sih?" Menunjukkan kejujuran yang autentik seperti ini akan membuat interaksi sosialmu jauh lebih lega, bermakna, dan menyenangkan, lho , Beauties!

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE