5 Ciri Perempuan yang Pernah Melewati Banyak Hal

Florence Febriani Susanto | Beautynesia
Minggu, 04 Oct 2026 15:00 WIB
Selalu Bersiap Menghadapi Kemungkinan Terburuk
Bersiap Menghadapi Kemungkinan Terburuk/Foto: Magnific

Pernah bertemu perempuan yang kelihatannya selalu tenang, mandiri, dan siap menghadapi apa pun? Bisa jadi, kamu melihat seseorang yang memang punya karakter kuat. Namun, ciri perempuan yang pernah melewati banyak hal terkadang muncul dari cara seseorang belajar bertahan menghadapi pengalaman sulit di masa lalu.

Menariknya, pengalaman tersebut tidak selalu terlihat jelas dari luar. Ada perempuan yang justru tampak sangat mandiri. Ada juga yang mudah bereaksi terhadap hal kecil, tetapi tetap tenang ketika menghadapi masalah besar.

Menurut sejumlah psikoterapis dan konselor yang dikutip dari Your Tango, pola seperti ini dapat berkaitan dengan pengalaman masa lalu. Meski begitu, tentu tidak semua perempuan dengan ciri-ciri berikut pernah mengalami trauma. Jadi, jangan buru-buru menyimpulkan hanya dari satu perilaku, ya, Beauties.

Lantas, seperti apa tanda-tandanya?

Reaksinya Bisa Terlihat Berlebihan untuk Hal Kecil

Reaksinya Berlebihan/Foto: Magnific

Pernah lihat seseorang tiba-tiba sangat kesal karena hal yang menurutmu sepele? Di sisi lain, saat menghadapi masalah besar, dia justru terlihat sangat tenang. Pola seperti ini bisa terasa membingungkan bagi orang di sekitarnya.

Menurut psikoterapis Ilene Strauss Cohen, orang yang cenderung “overreact” terhadap hal kecil dapat memiliki pemicu tertentu dari pengalaman masa lalu. Pemicu tersebut bisa memunculkan rasa takut, cemas, atau stres secara intens pada situasi yang tidak disangka.

Misalnya, sebuah perkataan sederhana bisa mengingatkan seseorang pada pengalaman yang tidak menyenangkan. Tubuh dan emosinya kemudian bereaksi seolah sedang menghadapi ancaman yang lebih besar.

Hal ini juga dapat berkaitan dengan kebutuhan masa kecil yang tidak terpenuhi atau pengalaman sulit tertentu. Bagi perempuan yang banyak beban, respons emosional seperti ini bisa menjadi cara tubuh menghadapi sesuatu yang terasa familiar. Hanya saja, orang lain belum tentu mengetahui cerita di baliknya.

Terlihat Jauh Lebih Dewasa dari Usianya

Terlihat Lebih Dewasa/Foto: Magnific

Ada tipe perempuan yang dari dulu terbiasa mengurus semuanya sendiri. Saat teman lain masih bisa meminta bantuan, dia sudah terbiasa mencari solusi tanpa banyak mengeluh.

Sekilas, sifat tersebut memang terlihat seperti kedewasaan. Namun, menurut Jessica MacNair, seorang licensed professional counselor, pengalaman traumatis pada anak dapat membuat mereka belajar menghindari ancaman sejak dini.

Kondisi ini juga dapat berkaitan dengan parentification, yaitu ketika anak mengambil tanggung jawab yang seharusnya menjadi tugas orang tua atau pengasuhnya.

Akibatnya, seorang anak bisa terbiasa menjadi “orang dewasa” sebelum waktunya. Kebiasaan tersebut kemudian dapat terbawa hingga dewasa.

Sulit Meminta dan Menerima Bantuan

Sulit Menerima dan Meminta Bantuan/Foto: Magnific

“Biar aku saja yang urus.” Kalimat sederhana ini mungkin terdengar biasa. Namun, bagi sebagian perempuan, melakukan semuanya sendiri sudah menjadi kebiasaan yang sulit dilepaskan.

Menurut para ahli dari Grouport Therapy, penyintas trauma dan orang yang mengalami banyak pengalaman sulit dapat mengembangkan pola pikir sangat mandiri untuk melindungi diri. Mereka merasa lebih aman ketika kebutuhan mereka tidak bergantung pada orang lain.

Alasannya bisa beragam. Misalnya, pernah dikecewakan, ditinggalkan, atau merasa tidak mendapatkan dukungan dari orang terdekat.

Akhirnya, meminta bantuan justru terasa tidak nyaman. Menerima bantuan pun bisa menimbulkan rasa sungkan atau khawatir akan mengecewakan orang lain.

Padahal, penelitian yang dipublikasikan dalam Psychological Science menunjukkan bahwa meminta, menerima, dan memberikan bantuan kepada orang lain berkaitan dengan rasa bahagia dan keterhubungan sosial yang lebih baik.

Jadi, kalau ada perempuan yang selalu berkata “aku bisa sendiri”, belum tentu dia tidak membutuhkan bantuan. Bisa saja dia hanya belum terbiasa merasa aman ketika bergantung kepada orang lain.

Tidak Mudah Mempercayai Orang Lain

Tidak Mudah Percaya dengan Orang Lain/Foto: Magnific

Kepercayaan tidak selalu datang dengan mudah, terutama bagi seseorang yang pernah mengalami hubungan yang membuatnya kecewa.

Menurut Darius Cikanavicius, seorang mental health coach, pengalaman masa kecil seperti kurang mendapatkan kasih sayang, perlindungan, atau perhatian dari orang tua dapat berkaitan dengan masalah kepercayaan saat dewasa.

Temuan penelitian yang dilakukan pada 1996 juga turut mendukung adanya hubungan antara pengalaman masa lalu dengan pola kepercayaan seseorang.

Pada perempuan yang banyak beban, sikap waspada tersebut bisa terlihat dalam hubungan sehari-hari. Dia mungkin membutuhkan waktu lebih lama sebelum benar-benar membuka diri.

Bukan karena dia sengaja menjaga jarak. Bisa jadi, pengalaman sebelumnya membuatnya belajar bahwa orang yang paling dekat sekalipun dapat mengecewakan.

Masalahnya, terlalu sulit mempercayai orang lain juga bisa membuat hubungan baru terasa melelahkan. Ketika terus bersiap menghadapi kemungkinan buruk, seseorang bisa kehilangan kesempatan untuk merasa aman bersama orang lain.

Selalu Bersiap Menghadapi Kemungkinan Terburuk

Bersiap Menghadapi Kemungkinan Terburuk/Foto: Magnific

Kamu punya teman yang selalu membawa payung meski langit sedang cerah? Atau seseorang yang sudah memikirkan sepuluh kemungkinan buruk sebelum sesuatu benar-benar terjadi?

Kalau iya, bisa jadi dia memang tipe orang yang sangat suka bersiap. Namun, dalam beberapa kondisi, kebiasaan selalu mengantisipasi hal terburuk dapat berkaitan dengan pengalaman sulit di masa lalu.

Psikoterapis Sharon Martin menjelaskan konsep catastrophizing, yaitu kecenderungan membayangkan atau mengantisipasi skenario terburuk. Pola ini dapat berkaitan dengan trauma maupun kondisi kesehatan mental seperti kecemasan.

Seseorang yang tumbuh tanpa merasa cukup didukung atau dilindungi dapat terbiasa mengambil tanggung jawab tersebut untuk dirinya sendiri.

Akhirnya, kewaspadaan menjadi seperti “mode otomatis”. Sebelum sesuatu terjadi, dia sudah memikirkan jalan keluar. Sebelum ada masalah, dia sudah menyiapkan kemungkinan terburuk.

Dari luar, sikap ini memang terlihat sangat siap. Namun, terus-menerus berada dalam kondisi waspada juga bisa membuat seseorang sulit benar-benar santai.

Lima perilaku di atas memang dapat ditemukan pada orang yang pernah mengalami pengalaman sulit. Namun, satu atau dua ciri saja tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang memiliki trauma.

Jadi, kalau kamu menemukan ciri perempuan yang pernah melewati banyak hal pada seseorang di sekitarmu, mungkin yang paling dibutuhkan bukan penilaian. Bisa jadi, dia hanya membutuhkan ruang yang aman untuk bercerita dan menjadi dirinya sendiri.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE