5 Fakta Taman Nasional Way Kambas, Rumah Bagi Satwa yang Hampir Punah

Narita Fuji Triani | Beautynesia
Rabu, 28 Oct 2026 12:30 WIB
1. Sejarah Dimulai Sejak Masa Kolonial
Sejarah dimulai sejak masa kolonial. Taman Nasional Way Kambas jadi kawasan konservasi tertua di Indonesia/Foto: instagram.com/harikonservasialamnasional

Taman Nasional Way Kambas di Lampung Timur merupakan kawasan konservasi yang menjadi habitat gajah Sumatera dan berbagai satwa liar lainnya. Namun, kelestarian kawasan Way Kambas kembali menghadapi tantangan akibat kebakaran hutan yang terjadi saat ini.

Taman Nasional Way Kambas menjadi kawasan yang harus dijaga dan dilestarikan. Kawasan ini menjadi rumah bagi satwa langka yang kritis dan hampir punah. Berikut ini 5 fakta Taman Nasional Way Kambas yang perlu kamu tahu, Beauties!

1. Sejarah Dimulai Sejak Masa Kolonial

Sejarah dimulai sejak masa kolonial. Taman Nasional Way Kambas jadi kawasan konservasi tertua di Indonesia/Foto: instagram.com/harikonservasialamnasional

Taman Nasional Way Kambas (TNWK) menjadi salah satu kawasan konservasi tertua di Indonesia. Kawasan hutan Way Kambas dijadikan sebagai daerah hutan lindung oleh pemerintah kolonial tahun 1924. Gagasan tersebut kemudian diresmikan pada tanggal 26 Januari 1937 yang menetapkan Way Kambas sebagai Suaka Margasatwa dengan tujuan melindungi kelimpahan satwa liar seperti gajah sumatera, badak sumatera, tapir, hingga harimau.

Pasca kemerdekaan, Way Kambas berubah menjadi Kawasan Pelestarian Alam pada tahun 1978. Lalu, pada tahun 1985, Way Kambas berubah menjadi Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) dan didirikan Pusat Pelatihan Gajah (PLG). Pada tahun 1989, kawasan ini resmi sebagai Kawasan Taman Nasional Way Kambas dan pada tahun 1991 status lembaganya menjadi Balai Taman Nasional Way Kambas. Luas total Kawasan TNWK sekitar  sekitar 125.621,30 hektare atau setara dengan 1.256 kilometer persegi.

2. Habitat untuk Satwa yang Hampir Punah

TNWK jadi habitat untuk satwa yang hampir punah. Gajah, Badak, dan Harimau Sumatera/Foto: instagram.com/badak.indonesia

Kawasan Taman Nasional Way Kambas menjadi rumah bagi satwa langka yang hampir punah. TNWK menjadi rumah bagi hewan The Big Five atau mamalia besar yang terancam punah, seperti Gajah Sumatera, Harimau, Sumatra, Badak Sumatera. Tapir Asia, Beruang Madu, berbagai primata, burung, reptil hingga amfibi. 

Berdasarkan data yang dilansir dari laman Pemerintahan Kabupaten Lampung Timur, populasi harimau Sumatera di kawasan TNWK diperkirakan sekitar 12 ekor, populasi gajah liar sekitar 150-200 ekor dengan populasi gajah binaan sekitar 63 ekor.

3. Pusat Konservasi Gajah

Pusat konservasi Gajah. Ikon utama TNWK yang berdiri tahun 1985/Foto: instagram.com/harikonservasialamnasional

Pusat Konservasi Gajah (PKG) didirikan sejak tahun 1985 dan menjadi ikon utama TNWK di Lampung Timur. Tempat ini menjadi pusat konservasi, penjinakan, pelatihan, dan penanganan konflik antara manusia dan gajah Sumatera.

Sejak Januari 2026, area inti PKG masih ditutup untuk kunjungan wisata reguler karena sedang revitalisasi total dan peralihan ke sistem perawatan yang lebih ramah satwa. Penutupan kawasan wisata tersebut menjadi upaya penanganan dan penanggulangan konflik demi keselamatan satwa, petugas, dan masyarakat sekitar.

4. Diakui Sebagai ASEAN Heritage Park

Taman Nasional Way Kambas. Diakui sebagai ASEAN Heritage Park/Foto: instagram.com/btn_waykambas

Tak hanya terdiri dari satu jenis hutan, TNWK merupakan kawasan yang terdiri dari beberapa ekosistem, Beauties, seperti hutan dataran rendah, hutan rawa air tawar, hutan mangrove, dan hutan pantai. Sehingga, TNWK merupakan habitat bagi tumbuhan dan satwa liar.

Way Kambas masuk dalam daftar ASEAN Heritage Park pada 28 Oktober 2015. Dengan demikian, TNWK menjadi kawasan pelestarian keanekaragaman hayati di regional Asia Tenggara yang menjadi upaya perlindungan alam di ASEAN. 

5. Menghadapi Karhutla Sepanjang 2026

Menghadapi Karhutla Sepanjang 2026. Satwa liar aman/Foto: instagram.com/btn_waykambas

Balai Taman Nasional Way Kambas mencatat terjadi 21 kejadian karhutla dengan total sekitar 7.000 hektar yang terdampak sepanjang tahun 2026. Sementara itu, penanganan kebakaran yang terjadi sejak September lalu masih berlangsung hingga saat ini. 

Karhutla yang terjadi melaporkan tidak adanya satwa liar dilindungi yang mati atau terluka langsung karena api. Populasi satwa, seperti gajah maupun badak dinyatakan aman. Meski demikian, pemadaman api masih terus dilakukan hingga saat ini.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.