5 Film tentang Perjalanan Perempuan, Mulai dari Pencarian Jati Diri hingga Persahabatan

Candra Anisa | Beautynesia
Kamis, 29 Oct 2026 10:00 WIB
The Virgin Suicides (1999)
The Virgin Suicides (1999)/Foto: IMDb.com

Di era ketika isu-isu perempuan semakin gencar digaungkan, solidaritas antarperempuan menjadi semakin penting. Representasi perjalanan hidup dari sudut pandang perempuan dalam media pun layak diperbincangkan.

Lewat film-film bertemakan girlhood dan womanhood, perempuan dapat merasa “dilihat” dengan mengenali manisnya solidaritas sekaligus pahitnya perjuangan menjadi perempuan, baik yang telah maupun yang hendak mereka jalani. Berikut lima film bertemakan girlhood dan womanhood yang relate dengan kehidupan perempuan.

Little Women (2019)

Little Women (2019)/Foto: IMDb.com

Berlatar Massachusetts tahun 1860-an, Little Women menceritakan perjalanan lima bersaudara Jo (Saoirse Ronan), Amy (Florence Pugh), Meg (Emma Watson), dan Beth (Eliza Scanlen) dalam masa pendewasaan. Dengan ambisi dan karakter yang berbeda, mereka menemukan tantangan di tengah perjuangan mereka mengejar mimpinya.

Jo memiliki ambisi menjadi penulis, dan ingin membuktikan bahwa perempuan lebih dari sekedar kecantikan dan cinta mereka. Namun, Jo juga pada akhirnya menyadari konflik batin untuk juga menginginkan cinta dan pasangan.

Amy memiliki impian untuk menjadi pelukis hebat, di saat yang sama perempuan pada masa itu punya kebebasan terbatas dalam kepemilikan dan kekayaan. Meg dengan mimpinya membangun keluarga kecilnya yang bahagia, serta Beth dengan ambisinya di bidang musik.

Namun, terlepas dari kesulitan yang mereka hadapi, film ini memperlihatkan bagaimana para perempuan menemukan kehangatan dan dukungan dalam persaudaraan mereka. Di tengah perbedaan dan pertentangan, mereka menemukan makna baru dalam hubungan persaudaraan yang mereka miliki.

Lady Bird (2017)

Lady Bird (2017)/Foto: IMDb.com

Film ini menceritakan perjalanan pendewasaan seorang gadis SMA bernama Christine McPherson (Saoirse Ronan). Christine kemudian menamai dirinya sendiri “Lady Bird” sebagai upaya mengklaim kebebasan dan otonomi atas identitas serta hidupnya. Film ini menyorot bagaimana Lady Bird selalu ingin keluar dari kota kelahirannya, Sacramento. Dia menginginkan lebih dari apa yang ditawarkan kota kecil itu.

Dia menginginkan kehidupan yang lebih luas dan bebas. Terlebih lagi, terdapat dinamika love-hate relationship yang rumit antara Lady Bird dan ibunya, yang turut merepresentasikan hubungannya dengan Sacramento dan asal-usulnya. Kerap ditampilkan perselisihan Lady Bird dan ibunya akibat perbedaan pandangan akan masa depan, pendidikan, dan pilihan hidup Lady Bird. Namun, di saat yang sama film ini juga menampilkan cinta dan kasih sayang yang tulus antara keduanya.

Seiring perjalanan Lady Bird meninggalkan Sacramento demi menemukan jati dirinya, ia justru mulai memahami hubungan dengan ibunya dan asal-usulnya melalui perspektif yang berbeda. Film ini menggambarkan proses pendewasaan sebagai perjalanan untuk mengenali diri sendiri, termasuk memahami hubungan yang sebelumnya terasa sulit.

20th Century Women (2016)

20th Century Women (2016)/Foto: IMDb.com

Berlatar California pada 1979, 20th Century Women menceritakan kehidupan tiga perempuan dari generasi berbeda yang tinggal bersama seorang remaja laki-laki bernama Jamie Fields (Lucas Jade Zumann). Film ini berfokus pada bagaimana pengalaman dan perspektif ketiga perempuan tersebut turut memengaruhi proses Jamie dalam memahami dunia, hubungan, dan dirinya sendiri.

Dorothea Fields (Annette Bening), ibu tunggal 55 tahun yang membesarkan Jamie di sebuah rumah yang juga ditumpangi oleh Abbie Porter (Greta Gerwig) dan Julie Hamlin (Elle Fanning). Abbie adalah seorang fotografer berusia 24 tahun dengan pandangan hidup bebas dan feminis. Julie adalah sahabat Jamie yang tengah menghadapi dinamika emosional dan pencarian identitasnya sendiri.

Film ini menampilkan banyak percakapan antar-karakter tentang hidup, cinta, dan kebebasan di tengah latar budaya tahun 70-an yang diwarnai gaya hidup perlawanan punk dan gelombang kedua feminisme. Perbedaan pandangan antara Dorothea, Abbie, dan Julie tidak lantas menimbulkan perselisihan berarti, tetapi justru membuka ruang bagi mereka untuk saling belajar, mempertanyakan keyakinan masing-masing, dan memahami diri sendiri maupun orang lain.

Frances ha (2012)

Frances ha (2012)/Foto: IMDb.com

Frances Ha menceritakan Frances Halladay (Greta Gerwig), perempuan berusia 27 tahun yang menjalani kehidupannya di New York sebagai seorang penari. Di tengah ketidakpastian karier dan kehidupan dewasa, Frances berusaha mengejar impiannya meskipun jalan yang ditempuh tidak selalu sesuai dengan harapannya.

Kekacauan hidup Frances turut memengaruhi hubungannya dengan Sophie Levee (Mickey Sumner), sahabat yang selama ini menjadi salah satu sosok terdekat dalam hidupnya. Ketika Sophie mulai menjalani kehidupan yang berbeda, Frances harus menghadapi perubahan dalam persahabatan mereka sekaligus mencari cara untuk berdiri sendiri.

Di tengah keraguan dalam menentukan arah hidup, Frances perlahan belajar menerima perubahan dan menemukan makna dalam hubungan yang ia miliki. Bagi Frances, kedekatan dengan Sophie merepresentasikan rasa memiliki yang selama ini ia cari. Sebab, terlepas dari berbagai pengalaman buruk yang ditawarkan kehidupan, seseorang mungkin akan selalu menemukan kenyamanan dalam sosok yang ia anggap sebagai “their person.”

The Virgin Suicides (1999)

The Virgin Suicides (1999)/Foto: IMDb.com

Film ini menceritakan lima bersaudara keluarga Lisbon, yaitu Cecilia Lisbon (Hanna R. Hall), Lux Lisbon (Kirsten Dunst), Bonnie Lisbon (Chelse Swain), Mary Lisbon (A. J. Cook), dan Therese Lisbon (Leslie Hayman). Kelima remaja perempuan ini tumbuh dalam keluarga religius dengan orang tua yang sangat membatasi kehidupan mereka, termasuk kebebasan untuk menjalani pengalaman remaja seperti teman-teman sebaya mereka.

Kehidupan para saudari Lisbon diceritakan melalui perspektif sekelompok pemuda yang tinggal di sekitar rumah mereka. Dari kejauhan, kelima saudari itu tampak menarik dan sulit dipahami. Namun, di balik citra keluarga yang terlihat biasa, terdapat pergulatan batin dan penderitaan yang tidak sepenuhnya diketahui oleh orang-orang di sekitar mereka.

Sebuah tragedi kemudian meninggalkan pertanyaan yang terus menghantui para pemuda tersebut. Film ini menyoroti keterbatasan orang luar dalam memahami kehidupan batin perempuan, terutama ketika pengalaman dan penderitaan mereka hanya diamati tanpa benar-benar dipahami. Di balik sosok yang terlihat dari luar, terdapat kehidupan personal yang jauh lebih kompleks daripada yang mampu dibayangkan orang lain.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.