5 Kalimat Sopan untuk Menyampaikan Perbedaan Pendapat Menurut Psikolog
Pernah nggak, Beauties, sebenarnya kamu punya pendapat sendiri, tetapi memilih diam karena takut salah ngomong? Apalagi kalau orang di depanmu punya pandangan yang benar-benar berlawanan. Mau menyampaikan pendapat takut terdengar nyolot, sementara kalau diam malah kepikiran terus.
Menurut psikolog Dr. Michele Goldman, Ph.D., berbagi pendapat memang bisa membuat seseorang merasa rentan terhadap penilaian, keraguan diri, bahkan potensi konflik. Pengalaman buruk saat menyampaikan opini sebelumnya juga bisa membuat seseorang semakin ragu untuk bicara.
Oleh karena itu, punya beberapa kalimat yang bisa dijadikan pegangan ternyata dapat membantu. Berikut kalimat sopan untuk menyampaikan perbedaan pendapat yang bisa kamu gunakan dalam berbagai situasi dilansir dari Parade!
“Aku Punya Pemikiran Soal Ini. Mungkin Kita Bisa Ngobrol Saat Sama-Sama Sempat.”
Susun Pikiran Sebelum Berdiskusi/Foto: Magnific
Siapa bilang kamu harus selalu punya jawaban saat itu juga? Kalau tiba-tiba ditanya sesuatu dan pikiranmu masih berantakan, mengambil waktu sebentar justru bisa membuat percakapan berjalan lebih baik.
Dr. Goldman menyarankan kalimat ini untuk memberi kesempatan kepada diri sendiri dalam memikirkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Kamu juga tetap menunjukkan bahwa kamu bersedia membicarakannya, hanya saja ingin memilih waktu yang lebih nyaman.
Jadi, daripada spontan menjawab dengan emosi atau malah asal bicara karena merasa terdesak, nggak ada salahnya bilang kamu butuh waktu. Apalagi kalau topiknya cukup sensitif, baik dengan pasangan, teman, maupun rekan kerja.
“Sudut Pandangku Mungkin Berbeda. Aku Mau Dengar Pendapatmu Dulu, Lalu Aku Ceritakan Pikiranku.”
Akui Perbedaan Pendapat/Foto: Magnific
Berbeda pendapat nggak otomatis berarti salah satu orang harus kalah. Kadang, dua orang memang hanya melihat satu persoalan dari sisi yang berbeda.
Kalimat ini menarik karena kamu nggak langsung menempatkan pendapatmu sebagai sesuatu yang paling benar. Kamu justru menunjukkan keinginan untuk mendengarkan terlebih dahulu sebelum memberikan sudut pandang sendiri.
Menurut Dr. Goldman, cara tersebut menyampaikan pesan bahwa kamu peduli terhadap apa yang dipikirkan lawan bicara. Di saat yang sama, kamu juga berharap pendapatmu mendapatkan ruang untuk didengarkan.
Cara seperti ini bisa banget dipakai ketika ngobrol dengan pasangan atau teman. Suasana diskusi pun terasa lebih seperti bertukar pikiran daripada adu argumen.
“Kalau Pendapatku Memang Dibutuhkan, Aku dengan Senang Hati Akan Menyampaikannya.”
Pahami Konteks Sebelum Menyampaikan Pendapat/Foto: Magnific
Ada situasi ketika kamu memang punya pendapat, tetapi bukan berarti pendapat tersebut harus langsung dikeluarkan. Contohnya di tempat kerja ketika ada struktur atau jenjang tertentu dalam pengambilan keputusan.
Dr. Goldman menyebut kalimat ini berguna dalam situasi yang memiliki hubungan kekuasaan atau chain of command, seperti antara karyawan dan atasan. Dengan mengatakannya, kamu menunjukkan bahwa kamu siap memberikan pandangan ketika memang dibutuhkan.
Kalimat ini juga bisa digunakan dalam situasi lain ketika kamu ingin memastikan bahwa orang tersebut memang menginginkan masukan darimu. Misalnya saat memberikan saran tentang pengasuhan anak atau persoalan kesehatan.
Dengan begitu, kamu nggak terkesan tiba-tiba ikut campur. Kamu juga memberi ruang bagi orang lain untuk menentukan apakah mereka memang ingin mendengar pendapatmu.
“Aku Sudah Memikirkan dan Mencari Tahu soal Ini. Kalau Kamu Mau, Aku Senang Berbagi.”
Pertimbangkan Dulu Pendapatmu/Foto: Magnific
Kadang, masalahnya bukan cuma berbeda pendapat. Kita juga takut ketika berbicara nanti malah dianggap sok tahu. Nah, kalimat ini bisa menjadi jalan tengah.
Kamu bisa memberi tahu bahwa pendapat tersebut sudah dipikirkan atau dicari tahu sebelumnya. Namun, bukan berarti kamu harus menyampaikannya dengan nada seolah-olah paling mengetahui semuanya.
Menurut Dr. Goldman, menjelaskan bahwa kamu sudah melakukan usaha sebelumnya dapat membuat orang lain lebih terbuka untuk mendengarkan. Setelah itu, kamu tetap bisa memberikan ruang bagi mereka untuk menerima atau menanggapi pendapat tersebut.
Kuncinya ada pada bagian “kalau kamu mau”. Ada kesan bahwa kamu menawarkan sudut pandang, bukan memaksakan informasi kepada orang lain.
“Aku Menghargai Sudut Pandangmu. Menurutku…”
Hargai Pendapat Orang Lain/Foto: Magnific
Ini mungkin salah satu kalimat yang paling gampang dipakai ketika kamu berada di tengah diskusi. Setelah orang lain selesai bicara, kamu bisa mengakui perspektifnya terlebih dahulu sebelum masuk ke pendapatmu sendiri.
Dr. Goldman menyarankan pendekatan ini karena kamu memberikan ruang bagi kontribusi orang lain dalam percakapan. Setelah itu, barulah kamu menyampaikan apa yang kamu percaya atau pikirkan.
Ingat, menghargai perspektif seseorang bukan berarti kamu wajib setuju dengannya. Kamu tetap boleh punya pandangan berbeda, kok, Beauties.
Justru di situlah perbedaan pendapat menurut psikolog bisa menjadi percakapan yang sehat. Bukan soal siapa yang paling keras atau paling cepat menjawab, melainkan apakah kedua pihak sama-sama mendapatkan kesempatan untuk didengar.
Kalau selama ini kamu sering menahan opini karena takut memicu konflik, mungkin masalahnya bukan karena kamu nggak punya pendapat. Bisa jadi, kamu hanya belum menemukan cara menyampaikannya dengan nyaman.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!