5 Kalimat yang Menunjukkan Orang Hidup Penuh Privilege, Pernah Kamu Dengar?

Henny Alifah | Beautynesia
Jumat, 23 Oct 2026 12:30 WIB
Orang-orang ber-privilege biasanya menganggap kegagalan terjadi karena kemalasan. Karena itu mereka enteng memberi nasihat pada orang lain untuk berusaha lebih dan lebih lagi./ Foto: Pexel.com/Karola G

Di dunia ini ada beberapa orang yang menjalani kehidupannya penuh dengan kemewahan. Kemewahan itu kemudian memberikan keistimewaan atau privilege pada keseharian mereka. Karena terus-menerus mendapat privilege ke manapun kaki melangkah, mereka pun tidak bisa memahami realitas yang ada di sekitarnya.

Bagi orang biasa, berada di dekat mereka dan mentolerir perilaku seperti itu bisa jadi sulit, terutama karena orang-orang yang hidup penuh privilege itu berpikir tidak ada yang salah dengan cara hidupnya. Mereka pun kadang begitu enteng mengucapkan kata-kata berikut ini, Beauties.

"Uang tidak bisa membeli kebahagiaan"

Orang-orang ber-privilege yang hidup bergelimang harta biasanya tidak memahami bahwa uang bisa mendatangkan rasa aman. Mereka tidak tahu, di luar sana ada orang-orang yang terus menerus dihantui ketakutan finansial./ Foto: Pexel.com/bangunstockproduction

Biasanya, orang yang memiliki privilese akan mengatakan bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Yang sering tidak mereka diketahui, uang dapat mendatangkan kebahagiaan atau rasa puas karena memberikan rasa aman, serta mengurangi kecemasan dan ketakutan finansial yang terus-menerus.

Terkadang, uang memang bukan penyebab utama yang membawa kebahagiaan, namun tingkat stabilitas yang diberikannya dapat membuat seseorang lebih bahagia karena terhindar dari stres akibat masalah keuangan. Orang-orang yang ber-privilege dan terbiasa hidup tanpa kesulitan finansial tidak memahami hal ini.

"Jangan malas, cobalah usaha lebih keras lagi"

Orang-orang ber-privilege biasanya menganggap kegagalan terjadi karena kemalasan. Karena itu mereka enteng memberi nasihat pada orang lain untuk berusaha lebih dan lebih lagi./ Foto: Pexel.com/Karola G

Salah satu ciri kepribadian orang ber-privilege biasanya tidak mengerti bahwa tidak semua situasi buruk bisa diatasi dengan bekerja keras. Kebiasaan mendapatkan segalanya dengan mudah di sepanjang hidup membuat mereka berasumsi bahwa yang dibutuhkan untuk sukses hanya perlu usaha dan kerja keras.

Padahal, sebenarnya ada banyak faktor lain yang menentukan kesuksesan. Mulai dari kemudahan akses pendidikan, sarana pendukung dari berbagai pihak, dan masih banyak lagi. Jika seseorang berkata "cobalah lebih keras," kemungkinan besar ia hidup penuh privilese sehingga tidak memahami betapa seriusnya kesulitan yang sedang dialami orang lain. Mereka tidak memahami bahwa tidak setiap usaha selalu berujung keberhasilan.

"Daripada memperbaiki yang rusak, mending beli yang baru"

Saat ada barang yang rusak, orang-orang yang memiliki privilege lebih suka beli barang baru daripada memperbaikinya./ Foto: Pexel.com/Nataliya Vaitkevich

Seseorang yang kurang memahami situasi mungkin akan menyarankan untuk mengganti sesuatu yang sebenarnya mudah diperbaiki. Mengapa harus memanggil tukang reparasi untuk kulkas atau mesin cuci kalau bisa membeli yang baru? Mengapa repot-repot menjahit kancing pakaian yang lepas kalau bisa beli yang baru? Begitu seterusnya.

Bagi seseorang yang secara finansial memiliki privilese, membeli barang baru memang terasa masuk akal. Mereka terbiasa memiliki barang versi terbaru dan terbaik, jadi mereka berasumsi bahwa semua orang juga bisa memilikinya. Namun bagi kebanyakan orang, memperbaiki sesuatu sampai benar-benar tidak berfungsi lagi jauh lebih masuk akal karena bisa menghemat uang.

"Kalau suntuk, ya liburan!"

Orang-orang yang memiliki privilege menjadikan liburan sebagai sarana pelepas stres. Mereka bisa pergi liburan ke manapun dan kapan pun mereka mau. / Foto: Pexel.com/Ron Lach

Saat menghadapi banyak masalah, respons logis orang-orang ber-privilege adalah meluangkan waktu untuk menjauh dari dunia dan berlibur. Liburan memang terbukti bermanfaat untuk mengurangi stres dan meningkatkan produktivitas. Berlibur juga dapat membantu tidur lebih nyenyak dan bahkan menurunkan risiko serangan jantung.

Namun, orang-orang tanpa privilege biasanya tidak memiliki kesempatan untuk berlibur, baik dari segi waktu maupun finansial. Mereka tidak punya cukup uang. Mereka pun tidak bisa mengambil cuti dari pekerjaan. Perencanaannya sangat rumit sehingga terasa tidak sepadan.

"Aku nggak punya privilege, kok!"

Orang-orang yang memiliki privilege biasanya tidak sadar mereka memiliki privilege./ Foto: Pexel.com/Gustavo Fring

Ibarat maling tidak mau mengaku maling. Orang-orang ber-privilege biasanya tidak menyadari bahwa hidupnya penuh privilege. Mereka akan membantah bahwa hidupnya serba mudah. Sebaliknya, mereka ingin mendapat pengakuan bahwa hidupnya juga sama sulitnya seperti orang-orang kebanyakan.

Kemungkinannya ada dua. Mereka benar-benar tidak sadar memiliki hak istimewa atau mereka terlalu gengsi untuk mengakui bahwa kesuksesannya dicapai dengan hak-hak istimewa yang tidak dimiliki orang lain.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

 

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE