Pernah bertanya-tanya kenapa anak-anak di Jepang terlihat begitu mandiri sejak usia dini? Bayangkan anak usia enam tahun sudah terbiasa naik kereta sendiri, membereskan ruang kelas tanpa disuruh, atau rela antre dengan tenang tanpa drama.
Menariknya, kebiasaan ini bukan sekadar hasil dari aturan yang ketat, melainkan bagian dari nilai-nilai parenting yang sudah mengakar dalam budaya Jepang selama berabad-abad, Beauties. Di balik kemandirian tersebut, ada cara pandang tentang harmoni, disiplin, empati, dan tanggung jawab bersama yang perlahan diajarkan sejak anak masih kecil.
Lantas, apa saja nilai dalam parenting Jepang yang membuat anak terbiasa melakukan banyak hal sendiri?
Shitsuke: Disiplin Lewat Contoh, Bukan Hukuman
|
Shitsuke/Foto: pexels.com/Annushka Ahuja |
Dalam parenting Jepang, ada konsep shitsuke yang kurang lebih berarti mengajarkan disiplin lewat kebiasaan dan keteladanan. Jadi, daripada sering memarahi atau menghukum anak, orang tua justru berusaha menunjukkan langsung perilaku yang ingin mereka ajarkan.
Misalnya, saat anak berbuat salah di tempat umum, orang tua cenderung tetap tenang dan memilih menegur secara pribadi daripada memarahinya di depan banyak orang. Anak pun belajar bahwa bersikap baik bukan karena takut dihukum, tapi karena memahami bagaimana seharusnya bertindak. Dari kebiasaan inilah, kemampuan anak untuk mengatur diri dan bersikap mandiri perlahan terbentuk.