Artificial Intelligence (AI) sering dipuji sebagai teknologi masa depan yang membantu membuat kinerja sehari-hari jadi lebih efisien dan canggih. Sistem ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan, karena kini digunakan dalam berbagai bidang, mulai dari perekrutan kerja, layanan kesehatan, keamanan publik, hingga distribusi informasi di internet.
Melansir Tech Radar, konsep kecerdasan buatan telah dicetuskan sejak tahun 1950an oleh Alan Turing. Seiring perkembangan zaman, gagasan ini berkembang pesat sehingga membawa kita pada era AI Generatif (2020-sekarang) yang kita kenal sekarang. Tidak hanya mempermudah pekerjaan, penggunaan AI juga bisa membantu meminimalkan human error dan memudahkan pengambilan keputusan secara efektif dan sistematis.
Namun, di balik optimisme tersebut, ada sejumlah risiko yang mengintai. Beberapa peneliti perempuan sebenarnya sudah lama memperingatkan bahwa AI tidak selalu netral dan mungkin bisa berbahaya, terutama bagi perempuan. Sayangnya, peringatan tersebut justru diabaikan dan dianggap menghambat inovasi teknologi hingga akhirnya hal yang ditakutkan benar-benar terjadi saat ini.
1. Timnit Gebru
|
Timnit Gebru/Foto: Instagram.com/@pocstock |
Dr. Timnit Gebru adalah salah satu peneliti AI yang paling vokal dalam mengkritik bias dalam teknologi. Peneliti lulusan Stanford University ini memperingatkan bahwa model AI berskala besar dapat mereplikasi rasisme, seksisme, dan berbagai bentuk ketimpangan sosial karena dilatih menggunakan data internet yang sudah mengandung bias manusia. Hal ini dapat memperparah ketidaksetaraan gender dan ras dalam teknologi modern
Menurutnya, semakin besar model AI yang dibuat, semakin besar pula risiko sistem tersebut menyerap dan memperkuat bias dari data pelatihannya. Hal ini bisa berdampak luas, karena AI kini digunakan dalam banyak keputusan penting, termasuk rekrutmen kerja, moderasi konten, hingga sistem rekomendasi digital. Karenanya, Gebru mendorong transparansi dalam pengembangan AI dan menekankan pentingnya akuntabilitas perusahaan teknologi terhadap dampak produk mereka.