5 Tanda Kamu Terlalu Sering Memikirkan Pendapat Orang Lain Menurut Psikologi

Florence Febriani Susanto | Beautynesia
Jumat, 25 Sep 2026 16:30 WIB
Kamu Tetap Mencari Kepastian Meski Semuanya Sudah Berjalan Baik
Terus Mencari Kepastian/Foto: Magnific

Salah satu tanda kamu terlalu sering memikirkan pendapat orang lain memang bisa muncul ketika perhatianmu lebih banyak tertuju pada bagaimana orang lain menilaimu daripada bagaimana kamu sendiri merasakan interaksi tersebut.

Pernah nggak, Beauties, setelah mengobrol dengan seseorang kamu malah sibuk memikirkan apakah perkataanmu tadi terdengar aneh? Padahal percakapannya sudah selesai, tetapi kepalamu masih memutarnya berulang kali. 

Hal ini sebenarnya cukup manusiawi. Kita semua tentu ingin diterima, disukai, dan dianggap baik oleh lingkungan sekitar. Namun, kalau kamu mulai terus-menerus menyesuaikan diri, mencari kepastian, atau mempertanyakan keputusan sederhana, mungkin sudah waktunya melihat pola tersebut lebih dekat.

Dilansir dari Cottonwood Psychology, ini beberapa tanda kamu terlalu memikirkan pendapat orang lain!

Kamu Memutar Ulang Percakapan untuk Memastikan Kesanmu

Memutar Ulang Percakapan/Foto: Magnific

Percakapan sudah selesai, kamu sudah sampai rumah, tetapi otak malah seperti menekan tombol play lagi. Kamu mengingat cerita yang tadi disampaikan, kata-kata yang digunakan, bahkan ekspresi wajah lawan bicaramu. “Tadi dia mengernyit kenapa, ya?” atau “Jangan-jangan jawabanku kedengaran jutek?”

Kalau sesekali terjadi, sebenarnya tidak perlu langsung khawatir. Namun, ketika kamu sering memutar ulang percakapan normal hanya untuk mencari kemungkinan kesalahan, kebiasaan tersebut bisa membuatmu lelah secara mental.

Dalam psikologi, ada gagasan bernama sociometer theory yang mengaitkan harga diri dengan penerimaan dan penolakan sosial. Sebuah meta-analisis mengenai teori tersebut juga menemukan hubungan antara harga diri, penerimaan sosial, serta karakteristik yang dianggap memengaruhi nilai seseorang dalam hubungan.

Jadi, ketika kamu terus memikirkan pendapat orang lain, otakmu mungkin sedang melakukan semacam pemeriksaan keamanan sosial. Kamu ingin memastikan bahwa hubunganmu masih baik dan kamu masih diterima.

Kepribadianmu Berubah Tergantung dengan Siapa Kamu Berada

Kepribadian Berubah Tergantung dengan Siapa/Foto: Magnific

Kamu mungkin menjadi satu versi dirimu ketika bersama teman, versi lain saat bersama rekan kerja, lalu berubah lagi ketika berada di depan keluarga. Sebenarnya, menyesuaikan perilaku berdasarkan situasi adalah hal yang normal. Kamu tentu tidak akan berbicara dengan atasan sama persis seperti ketika bercanda bersama sahabat.

Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika penyesuaian tersebut membuatmu merasa seperti kehilangan diri sendiri. Misalnya, kamu tertawa pada lelucon yang sebenarnya tidak lucu, cepat menyetujui sesuatu meski hatimu berkata tidak, atau terus membaca suasana sebelum berani menjadi diri sendiri.

Dalam psikologi sosial, pola ini dapat berkaitan dengan self-monitoring, yaitu sejauh mana seseorang menyesuaikan perilakunya berdasarkan isyarat sosial. Kemampuan tersebut bisa membantu dalam kerja sama dan membangun relasi, tetapi terlalu sering merasa harus “siap tampil” juga dapat menguras energi.

Nah, coba cek dirimu setelah meninggalkan suatu kelompok. Ketika kamu sudah sendirian di mobil atau sedang mencuci piring, apakah kamu merasa tenang? Atau malah muncul perasaan seperti baru saja menggunakan “suara” milik orang lain?

Kalau kamu lebih sering merasa harus mendapatkan izin dari lingkungan untuk menjadi diri sendiri, mungkin ini salah satu tanda kamu terlalu sering memikirkan pendapat orang lain.

Pujian Terasa seperti Kelegaan, Bukan Sekadar Kebahagiaan

Pujian Hanya Membawa Kelegaan/Foto: Magnific

Bayangkan seseorang berkata, “Kamu tadi bagus banget.” Kamu tersenyum dan menjawab terima kasih. Namun, yang terjadi di dalam tubuhmu justru seperti baru saja melepaskan napas panjang setelah menahannya cukup lama.

Perasaan lega tersebut bisa menunjukkan bahwa sebelumnya kamu sedang bersiap menghadapi penilaian. Pujian akhirnya membuatmu merasa aman karena kamu mendapatkan bukti bahwa dirimu dianggap cukup baik.

Pola seperti ini terkadang muncul pada orang yang terbiasa berprestasi. Kamu sudah menyelesaikan pekerjaan dengan baik, tetapi bukannya merasa puas, kamu malah menunggu reaksi orang lain. Ketika mendapat pujian, tubuh terasa lebih rileks. Ketika tidak mendapatkannya, kamu mulai mencari-cari kesalahan sendiri.

Di sinilah pentingnya membangun validasi dari dalam diri. Sebelum bertanya, “Menurut mereka aku sudah bagus belum?”, coba jawab dulu, “Apa yang menurutku sudah kulakukan dengan baik?”

Mungkin kamu berhasil menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, tetap tenang ketika menghadapi masalah, atau berani meminta bantuan. Hal-hal tersebut tetap menjadi pencapaian meskipun tidak ada orang yang memberikan pujian.

Kamu Tetap Mencari Kepastian Meski Semuanya Sudah Berjalan Baik

Terus Mencari Kepastian/Foto: Magnific

Email sudah dikirim dan isinya sebenarnya sudah jelas. Tapi kamu membacanya lagi empat kali. Setelah itu, kamu mengirimkannya kepada teman sambil bertanya, “Menurut kamu aneh nggak?” Bahkan setelah mendapat jawaban bahwa semuanya baik-baik saja, kamu masih bertanya-tanya.

Kebiasaan mencari reassurance memang sering terlihat seperti kehati-hatian. Kamu ingin memastikan tidak ada yang salah. Namun, kalau dilakukan berulang kali, kamu bisa menjadi semakin bergantung pada jawaban orang lain untuk merasa tenang.

Pertanyaan seperti “Kamu marah sama aku?” atau “Tadi aku salah nggak?” mungkin terdengar sederhana. Namun, ketika kamu terus membutuhkannya bahkan setelah situasinya berjalan baik, ada kemungkinan kamu sedang kesulitan menoleransi ketidakpastian.

Hal tersebut bisa semakin terasa jika sebelumnya kamu terbiasa menghadapi reaksi orang yang tidak terduga. Sistem dalam dirimu mungkin belajar untuk terus mencari tanda bahwa keadaan aman.

Kamu bisa mencoba membuat batas reassurance. Misalnya, cukup meminta satu orang terpercaya mengecek pesanmu sekali. Setelah itu, beri kesempatan kepada dirimu untuk membiarkan rasa tidak pasti tersebut ada tanpa langsung mencari jawaban kedua, ketiga, atau keempat.

Daripada bertanya, “Aku tadi menyebalkan nggak?”, kamu juga bisa menggantinya dengan pertanyaan yang lebih konkret seperti, “Pesanku sudah menjawab kebutuhanmu belum?” Dengan begitu, fokus berpindah dari nilai dirimu menuju informasi yang memang kamu butuhkan.

Kamu Terlalu Banyak Menjelaskan Keputusan Sederhana

Terlalu Banyak Menjelaskan Kebutuhan Sederhana/Foto: Magnific

“Kali ini aku nggak bisa ikut, soalnya besok harus bangun pagi, terus tadi juga agak pusing, sebenarnya pengin ikut, tapi…”

Beauties, pernah nggak kamu memberikan penjelasan sepanjang itu hanya karena menolak satu ajakan? Atau ketika memesan kopi tanpa kafein, kamu merasa perlu menjelaskan bahwa kamu sedang sakit kepala?

Kebiasaan menjelaskan secara berlebihan sering muncul karena ada ketakutan akan penilaian. Kamu merasa harus memberikan alasan yang cukup kuat supaya orang lain menganggap keputusanmu masuk akal.

Sebagian orang bahkan belajar sejak lama bahwa mengatakan “tidak” bisa membawa konsekuensi. Ketika menolak, orang lain menjadi dingin. Ketika mengubah rencana, mereka diejek atau dibuat merasa bersalah. Akhirnya, terlalu banyak bicara terasa seperti perlindungan.

Padahal, kamu sebenarnya bisa tetap sopan tanpa memberikan pembelaan panjang. “Aku nggak bisa datang, semoga acaranya seru, ya,” sudah cukup. Kamu juga bisa mengatakan, “Aku skip dulu hari ini,” atau “Itu belum cocok buatku.”

Perhatikan juga reaksi orang lain ketika kamu mulai memberikan batasan dengan singkat. Banyak orang mungkin ternyata bisa menerimanya dan melanjutkan aktivitas seperti biasa.

Pengalaman tersebut penting karena mengajarkan bahwa kamu tidak harus selalu mendapatkan persetujuan semua orang agar keputusanmu tetap valid. Justru, semakin kamu mampu mengambil keputusan tanpa terus memikirkan pendapat orang lain, semakin kuat pula rasa percaya terhadap dirimu sendiri.

Mempertimbangkan perasaan orang lain bukan sesuatu yang buruk, Beauties. Kita memang hidup berdampingan dan membutuhkan kemampuan membaca situasi agar hubungan tetap sehat. Masalahnya muncul ketika penerimaan orang lain menjadi satu-satunya ukuran untuk menentukan apakah kamu cukup baik.

Jadi, lain kali kamu mulai bertanya, “Mereka pikir aku gimana, ya?”, coba tambahkan satu pertanyaan lagi “Kalau tidak ada yang menilaiku, sebenarnya aku sendiri merasa bagaimana?”

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.