7 Kebiasaan Orang Bermental Baja Menurut Ilmu Psikologi

Nazwa Yuliana | Beautynesia
Kamis, 24 Sep 2026 07:15 WIB
2. Menerima dan Beradaptasi dengan Perubahan
Menerima dan beradaptasi dengan perubahan/ Foto: Pexels.com/ Sóc Năng Động

Beauties, memiliki mental yang kuat bukan berarti seseorang tidak pernah merasa sedih, kecewa, takut, atau mengalami kegagalan. Justru, ketangguhan mental dapat terlihat dari bagaimana seseorang menghadapi berbagai situasi sulit tanpa membiarkan keadaan sepenuhnya mengendalikan dirinya.

Orang tangguh biasanya memiliki cara tertentu dalam menghadapi tekanan dan perubahan. Mereka memahami bahwa tidak semua hal dalam kehidupan dapat dikendalikan. Karena itu, mereka belajar mengatur respons, menjaga disiplin, mengelola emosi, serta mengambil pelajaran dari pengalaman yang pernah dilalui.

Dilansir dari New Trader U dan Medium, terdapat sejumlah kebiasaan yang sering dikaitkan dengan kekuatan mental. Lantas, apa saja kebiasaan orang tangguh yang membuat mereka mampu menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan? Yuk, simak selengkapnya!

1. Fokus pada Hal yang Bisa Dikendalikan

Fokus pada hal yang bisa dikendalikan/ Foto: Pexels.com/ Rama Dhanu

Tidak semua hal yang terjadi dalam hidup berada di bawah kendali kita. Pendapat orang lain, keputusan seseorang, perubahan keadaan, hingga hasil akhir dari sebuah usaha terkadang berada di luar kemampuan untuk dikontrol.

Karena itu, orang tangguh cenderung tidak menghabiskan terlalu banyak energi untuk memikirkan sesuatu yang tidak dapat mereka ubah. Mereka lebih memilih mengarahkan perhatian pada tindakan yang masih bisa dilakukan.

Misalnya, ketika hasil pekerjaan tidak sesuai harapan, seseorang dapat terus menyalahkan keadaan atau memikirkan mengapa orang lain tidak memberikan dukungan. Namun, orang yang tangguh akan mencoba melihat bagian mana yang masih dapat diperbaiki dan apa langkah selanjutnya yang bisa dilakukan.

Dengan berfokus pada hal yang dapat dikendalikan, seseorang juga dapat mengurangi kecenderungan untuk terus-menerus terjebak dalam kekhawatiran terhadap sesuatu yang belum tentu dapat diubah.

2. Menerima dan Beradaptasi dengan Perubahan

Menerima dan beradaptasi dengan perubahan/ Foto: Pexels.com/ Sóc Năng Động

Perubahan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Rencana yang sudah dibuat dengan matang dapat berubah karena keadaan, pekerjaan bisa mengalami perubahan, hubungan dapat memasuki fase baru, dan berbagai situasi tidak terduga dapat muncul.

Salah satu kebiasaan orang tangguh adalah tidak terus-menerus menolak kenyataan ketika perubahan sudah terjadi. Mereka mungkin merasa kecewa atau tidak nyaman, tetapi berusaha menerima keadaan dan mencari cara untuk menyesuaikan diri.

Menerima perubahan bukan berarti menyukai semua hal yang terjadi. Seseorang tetap dapat merasa sedih karena kehilangan sesuatu atau kecewa karena rencana tidak berjalan sesuai harapan. Namun, setelah mengakui perasaan tersebut, mereka berusaha menentukan langkah baru.

Kemampuan beradaptasi juga membuat orang tangguh tidak mudah kehilangan arah ketika rencana pertama mengalami kegagalan. Mereka dapat mengubah strategi tanpa harus langsung menganggap bahwa seluruh tujuan telah berakhir.

3. Mempraktikkan Disiplin Diri

Mempraktikkan disiplin diri/ Foto: Pexels.com/ Anna Shvets

Tidak setiap hari seseorang memiliki motivasi yang sama. Ada kalanya rasa malas, lelah, bosan, atau tidak bersemangat muncul ketika seseorang sedang berusaha mencapai sesuatu. Namun, orang yang tangguh memahami bahwa mencapai tujuan tidak dapat sepenuhnya bergantung pada motivasi. Mereka belajar membangun disiplin agar tetap melakukan hal-hal yang memang perlu dilakukan.

Disiplin dapat terlihat dari kebiasaan sederhana, seperti menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal, menepati komitmen, menjalankan rutinitas, atau tetap berusaha meskipun hasil yang diinginkan belum terlihat. Bagi orang tangguh, konsistensi menjadi bagian penting dari proses. Mereka tidak selalu menunggu sampai merasa siap atau bersemangat untuk mulai bertindak.

Disiplin diri juga berkaitan dengan kemampuan mengendalikan tindakan impulsif. Ketika menghadapi emosi yang kuat, mereka berusaha memberikan waktu untuk berpikir sebelum mengambil keputusan yang dapat memberikan dampak jangka panjang. Dengan begitu, disiplin tidak hanya membantu seseorang mencapai tujuan, tetapi juga membuatnya lebih mampu mengatur perilaku ketika menghadapi berbagai situasi.

4. Tidak Terus Terpaku pada Masa Lalu dan Kegagalan

Tidak terus terpaku pada masa lalu dan kegagalan/ Foto: Pexels.com/ Nataliya Vaitkevich

Kegagalan memang dapat meninggalkan rasa kecewa. Seseorang mungkin terus memikirkan kesalahan yang pernah dilakukan, keputusan yang salah, atau kesempatan yang terlewatkan. Namun, terlalu lama terpaku pada masa lalu dapat membuat seseorang sulit bergerak maju.

Orang yang tangguh berusaha melihat pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang dapat dipelajari, bukan sebagai alasan untuk terus menghukum diri sendiri. Ketika mengalami kegagalan, mereka dapat mengevaluasi apa yang salah dan mencari bagian yang masih bisa diperbaiki. Setelah mendapatkan pelajaran tersebut, mereka berusaha membawa pengalaman itu sebagai bekal untuk menghadapi situasi berikutnya.

Hal ini bukan berarti orang tangguh melupakan semua pengalaman buruk. Mereka tetap mengingatnya, tetapi tidak membiarkan masa lalu menentukan seluruh identitas atau masa depan mereka. Kesalahan yang pernah dilakukan tidak harus menjadi akhir dari perjalanan, melainkan dapat menjadi bagian dari proses seseorang untuk berkembang.

5. Mampu Mengelola Emosi

Mampu mengelola emosi/ Foto: Pexels.com/ Roberto Hund

Memiliki mental yang kuat bukan berarti tidak memiliki emosi. Orang yang tangguh tetap dapat merasa marah, takut, sedih, kecewa, maupun cemas. Perbedaannya terletak pada cara mereka menghadapi emosi tersebut. Mereka berusaha mengenali apa yang sedang dirasakan sebelum memberikan respons terhadap situasi.

Misalnya, ketika sedang marah kepada seseorang, seseorang mungkin memiliki dorongan untuk langsung mengirim pesan atau mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Namun, kemampuan mengelola emosi membuat seseorang memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak dan mempertimbangkan konsekuensi tindakannya.

Mengenali emosi juga dapat membantu seseorang memahami kebutuhan dirinya. Rasa marah mungkin berasal dari kekecewaan, sementara rasa frustrasi dapat muncul karena seseorang merasa kehilangan kendali atas suatu keadaan.

6. Mempertahankan Optimisme yang Realistis

Mempertahankan optimisme yang realistis/ Foto: Pexels.com/ Mizuno K

Optimisme sering dianggap sebagai kemampuan untuk selalu melihat sisi positif. Namun, optimisme yang dimiliki orang tangguh bukanlah keyakinan bahwa semua hal pasti berjalan sesuai keinginan.

Mereka tetap mampu mengakui ketika sebuah keadaan memang sulit. Jika mengalami kegagalan, mereka tidak perlu berpura-pura bahwa kegagalan tersebut tidak mengecewakan. Optimisme realistis membuat seseorang mampu mengatakan bahwa suatu keadaan memang buruk, tetapi masih ada sesuatu yang dapat dilakukan. Perspektif seperti ini membantu seseorang mempertahankan harapan tanpa mengabaikan fakta.

Misalnya, ketika gagal mendapatkan sesuatu yang diinginkan, orang yang tangguh dapat menerima rasa kecewa sekaligus mempertimbangkan pilihan lain. Mereka tidak langsung menyimpulkan bahwa satu kegagalan berarti seluruh masa depan akan gagal.

Dengan mempertahankan optimisme yang realistis, seseorang dapat melihat masalah secara lebih seimbang. Ia mengakui kesulitan yang ada, tetapi tetap percaya bahwa dirinya memiliki kesempatan untuk mengambil tindakan dan membuat perubahan.

7. Menetapkan Batasan yang Sehat

Menetapkan batasan yang sehat/ Foto: Pexels.com/ Thành Tú Lê

Tidak semua permintaan harus dipenuhi dan tidak semua perlakuan dari orang lain harus diterima. Salah satu tanda orang tangguh adalah memahami bahwa dirinya memiliki batas yang perlu dihargai.

Batasan yang sehat dapat berkaitan dengan waktu, energi, privasi, pekerjaan, maupun hubungan dengan orang lain. Misalnya, seseorang dapat mengatakan tidak ketika mendapatkan permintaan yang berlebihan atau memilih tidak melanjutkan percakapan ketika lawan bicara mulai memperlakukannya dengan tidak menghargai.

Menetapkan batasan bukan berarti menjadi egois atau tidak peduli kepada orang lain. Justru, batasan dapat membantu seseorang memahami apa yang nyaman dan tidak nyaman baginya sekaligus mengomunikasikan dengan jelas.

Beauties, menjadi orang tangguh bukan berarti harus selalu terlihat kuat atau tidak pernah mengalami kegagalan. Ketangguhan mental justru dapat terlihat dari kemampuan seseorang dalam menghadapi kenyataan, mengelola respons, dan tetap bergerak meskipun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Pada akhirnya, orang yang tangguh bukanlah seseorang yang tidak pernah jatuh. Mereka juga dapat merasa takut, kecewa, dan lelah. Namun, mereka berusaha tidak membiarkan satu kegagalan, emosi, atau keadaan sulit menentukan seluruh arah hidupnya.

Ketangguhan mental pun bukan sesuatu yang harus dimiliki seseorang sejak lahir. Kebiasaan tersebut dapat terus dibangun melalui pengalaman, refleksi, dan pilihan-pilihan kecil yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

___

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!  

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE