9 Tanda Abusive Relationship yang Sering Tidak Disadari

Sierra Ayuningtyas Muktisari | Beautynesia
Selasa, 21 Apr 2026 13:00 WIB
Tanda abusive relationship yang sering tidak disadari/ Foto: freepik.com

Beauties, tanggal 21 April merupakan hari istimewa yang selalu diperingati sebagai Hari Kartini setiap tahunnya.

Momentum ini juga menjadi hari spesial untuk perempuan di seluruh Indonesia untuk merayakan semangat membangun keberdayaan, penyadaran terhadap hak-hak perempuan, keberanian berbicara, hingga perlindungan diri dari berbagai bentuk kekerasan seperti kekerasan fisik, psikis, seksual, maupun ekonomi.

Berbicara mengenai perlindungan dari kekerasan, di era modern kini sayangnya masih terdapat banyak perempuan yang menjadi korban dari hubungan toksik hingga hubungan abusive, di mana hal tersebut bisa menghancurkan kesehatan mental seseorang yang mengalaminya.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk lebih menyadari bahwa ada sejumlah tanda yang menunjukkan hubungan yang dijalani tersebut toksik atau abusive, bahkan melalui tanda-tanda yang sering tidak disadari sebelumnya.

Disampaikan oleh Dr. Livia Iskandar, M.Sc., Psikolog dari Yayasan Pulih melalui acara Abuse Is Not Love bersama YSL Beauty pada Senin, (20/4/2026), berikut ini ada sembilan tanda  abusive relationship  yang sering tidak disadari.

1. Mengabaikan dengan sengaja saat sedang marah

Mengabaikan dengan sengaja saat sedang marah/ Foto: freepik.com

Tanda abusive relationship yang pertama yakni pasangan mengabaikan kamu dengan sengaja saat sedang marah. Tindakan ini kerap dilakukan sebagai bentuk 'hukuman' alih-alih penyelesaian masalah apabila terjadi konflik.

Bahkan, hal ini dilakukan agar si korban merasa bahwa dirinya 'invisible' atau tidak terlihat, hingga dianggap seolah-olah keberadaannya tidak penting, Beauties.

"Misalnya, ada yang setelah habis bertengkar, butuh waktu untuk menenangkan (diri). Kan bisa bilang, 'Gue butuh waktu untuk inhale-exhale, jadi I will go (sementara)'. Tapi, kadang-kadang ada yang benar-benar (mendiamkan) untuk menghukum. Untuk membuat (seseorang) dianggap invisible, dianggap nggak ada," jelas Dr. Livia.

(sim/sim)