Alasan Orang Indonesia Belum Makan Kalau Belum Makan Nasi

Pratitis Nur Kanariyati | Beautynesia
Sabtu, 07 Nov 2026 09:00 WIB
Masa Orde Lama dan Orde Baru Kian Menaikkan Hegemoni Beras
Segerombolan orang panen padi/Foto: Pexels.com/Ahmad Nafik Mundzir

Pernah nggak sih, kamu mempertanyakan, “kenapa warga Indonesia sangat ketergantungan dengan nasi (beras)?” Bahkan, sampai ada doktrin, “Kalau belum makan nasi, artinya belum makan.”

Padahal, sumber karbohidrat bukan cuma nasi. Ada kentang, singkong, ubi jalar, dan pangan lokal lainnya. Kalau ditilik dari segi nutrisi, nasi putih termasuk karbohidrat sederhana yang tinggi indeks glikemik dan rendah serat.

Ternyata, ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras sudah mendarah daging sejak zaman kolonial hingga menguat di masa Orde Baru.

Ketergantungan terhadap Beras Berakar dari Zaman Kerajaan (Sebelum Abad ke-10 M)

Perempuan memanen padi/Foto: Pexels.com/Tuherdias Awang

Menurut sejarawan Fadly Rahman, masyarakat khususnya Jawa Kuno sudah banyak mengonsumsi beras sebelum abad ke-10 Masehi. Hal tersebut bisa dibuktikan pada naskah-naskah kuno dan relief-relief candi.

Bagaimana dengan pribumi luar Jawa? Masyarakat di sana tetap membudidayakan dan mengonsumsi pangan lokal lain sesuai kondisi pertanian setempat, bukan hanya beras.

“Selain makan nasi, penduduk (zaman kuno) juga membudidayakan ubi, singkong, sagu, dan sorgum,” ujar Rahman, dilansir dari CNBC Indonesia.

Dominasi Beras Menguat saat VOC Berkuasa

Orang menanam padi/Foto: Magnific.com/Jcomp

Kedatangan pemerintah kolonial mendorong terjadinya pergeseran produksi pangan di Indonesia. Mereka aktif melakukan ekstensifikasi beras di seluruh wilayah untuk kepentingan sendiri ihwal kebutuhan tenaga kerja pribumi.

Lalu, lahirlah kebijakan seperti preanger stelsel, cultur stelsel, hingga liberalisasi 1870, yang semakin membuat pangan lokal terpinggirkan. Semuanya perlahan tergantikan oleh beras.

Di beberapa wilayah luar Jawa, misalnya Maluku, beras dianggap sebagai bahan makanan yang sangat prestisius. Padahal, Maluku telah memiliki sagu yang menjadi makanan pokok sejak lama.

Masa Orde Lama dan Orde Baru Kian Menaikkan Hegemoni Beras

Segerombolan orang panen padi/Foto: Pexels.com/Ahmad Nafik Mundzir

Usai Indonesia merdeka, tepatnya di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno, konsumsi beras tercatat terus meningkat. Pemerintah Orde Lama sangat mengedepankan swasembada pangan, termasuk beras.

Salah satu upaya intensif yang dilakukan pemerintah saat itu adalah Padi Sentra (1959-1961). Namun, upaya tersebut gagal karena situasi politik dalam negeri tidak stabil.

Lantas, apa yang terjadi pada komoditas beras di era Orde Baru? Hegemoni atau dominasi beras semakin melonjak. Lewat Kebijakan Revolusi Hijau, Presiden Soeharto menggemborkan untuk meningkatkan produk pertanian, termasuk beras.

Selain Campur Tangan Pemerintah, Stigma Kultural Masyarakat Juga Pengaruhi Hegemoni Beras

Orang yang sedang menyantap nasi/Foto: Magnific.com/Jcomp

MeCampur tangan pemerintah memang punya andil besar terhadap ketergantungan masyarakat terhadap konsumsi beras. Namun, ada faktor lain selain itu, yakni stigma kultural masyarakat.

Pada zaman kuno, beras diidentikkan dengan status sosial yang tinggi. Beras tidak hanya dikonsumsi rakyat jelata, tetapi juga para raja. Yang membedakan hanya pada varietas beras yang ditanam.

Sebaliknya, mengonsumsi pangan lokal selain beras sering diberi stigma negatif sebagai makanan orang tidak mampu. Makanya, banyak orang yang sampai sekarang masih gengsi untuk makan-makanan semacam singkong hingga umbi-umbian.

Berdasarkan penjelasan yang ada, kita tahu bahwa ketergantungan terhadap konsumsi beras di Indonesia dipengaruhi oleh multifaktorial: kebijakan pemerintah, stigma kultural masyarakat, dan kemauan individu.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

 

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE