Alasan Tidak Ada Petugas Kebersihan di Sekolah Jepang

Hanny A | Beautynesia
Jumat, 09 Oct 2026 15:16 WIB
Alasan Tidak Ada Petugas Kebersihan di Sekolah Jepang
Ilustrasi petugas kebersihan / Foto: pexels.com/Brett Sayles

Jika kamu bersekolah di sekolah publik di Indonesia, pasti sudah akrab dengan jadwal piket bergilir untuk membersihkan ruang kelas. Di Jepang, siswa juga punya tanggung jawab serupa, hanya saja cakupannya lebih luas dan terstruktur. Bahkan, banyak sekolah di Jepang tidak memiliki petugas kebersihan khusus karena urusan kebersihan menjadi bagian dari sistem pendidikan karakter siswa. 

Semua murid di Jepang bertanggung jawab menjaga kebersihan seluruh sekolah, bukan hanya ruang kelas. Kegiatan piket dilakukan setiap hari dengan pembagian kelompok kecil berdasarkan area tanggung jawab masing-masing.

Semua kebutuhan kebersihan lingkungan sekolah menjadi tanggung jawab siswa sampai-sampai sekolah di Jepang tidak memerlukan adanya petugas khusus.

Mengapa Sekolah di Jepang Tidak Memiliki Petugas Kebersihan?

Ilustrasi alat kebersihan / Foto: pexels.com/David Brown

Inti alasan tidak ada petugas kebersihan di sekolah Jepang adalah karena kegiatan bersih-bersih dianggap sebagai bagian penting dari sistem pendidikan dan budaya di Jepang. Kegiatan ini bertujuan menanamkan nilai kerja sama tanpa memandang status, rasa hormat terhadap lingkungan, serta tanggung jawab bersama.

Sederhananya, melalui kegiatan bersih-bersih lingkungan, siswa diajarkan untuk:

  • menghargai ruang dan fasilitas yang mereka gunakan,
  • bertanggung jawab atas kebersihan lingkungan sendiri,
  • bekerja sama dalam tim tanpa memandang tingkatan kelas.

Kegiatan bersih-bersih di sekolah Jepang dikenal dengan istilah “souji no jikan” (掃除の時間) yang artinya “waktu bersih-bersih”. Tugas ini dilakukan setiap hari sekolah tepatnya setelah jam makan siang atau menjelang pulang selama 15–30 menit.

Bagian sekolah yang dibersihkan tidak sebatas pada ruang kelas masing-masing, tapi juga lorong sekolah, kamar mandi sekolah, hingga halaman sekolah. Tugas tersebut dibagi dalam kelompok kecil terstruktur, ada yang menyapu, mengepel, membersihkan jendela, hingga membersihkan toilet.

Semua tugas ini diberlakukan bagi seluruh tingkatan siswa, mulai dari kelas bawah sampai atas. Tak jarang, guru juga ikut terlibat dalam kegiatan souji ini untuk memberi contoh langsung. Setiap pekan juga diberlakukan rotasi peran agar setiap siswa dapat mencoba semua jenis tugas kebersihan secara merata.

Karena urusan kebersihan sudah dipegang oleh siswa, sangat masuk akal jika sekolah di Jepang tidak memiliki petugas yang khusus menangani kebersihan.

Sekolah di Jepang Tidak Ada Petugas Kebersihan Harian, Tapi Ada Yomuin

Ilustrasi petugas kebersihan / Foto: pexels.com/Mario Spencer

Tidak adanya petugas kebersihan atau “pak bon” seperti di sekolah publik Indonesia bukan berarti sekolah di Jepang tidak ingin mempekerjakan tenaga kebersihan.

Di sekolah Jepang tetap ada staf yomuin (用務員) yang bertugas menangani perawatan fasilitas berat, kerusakan, dan membantu kegiatan bersih-bersih besar. Mereka umumnya tidak menangani pekerjaan kebersihan harian karena sudah dilakukan oleh siswa dan guru. 

Pemberlakuan kegiatan souji ini pada dasarnya dirancang untuk membangun karakter, keterampilan hidup dasar, rasa tanggung jawab, serta kepekaan sosial masyarakat Jepang sejak masih di bangku sekolah. Pembiasaan ini diharapkan dapat bermanfaat ketika mereka kelak terjun langsung ke masyarakat dan berinteraksi dalam kehidupan sosial.

____

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE