Aksi demonstrasi masyarakat dan mahasiswa pada 28 Oktober 2026 yang berlangsung di Bundaran HI, Jl. MH Thamrin, Jakarta, mengangkat tajuk "Indonesia Sadar". Banyak hal yang menuai sorotan publik, salah satunya ialah salib merah berukuran besar terlihat di antara luasnya kerumunan.
Salib merah tersebut menjadi elemen penting dalam aksi protes karena berhubungan dengan tuntutan massa. Namun, tak hanya pada demonstrasi saja. Sebelumnya, salib merah ini juga pernah dijumpai pada film dokumenter "Pesta Babi".
Lantas, apa sih makna dari simbol tersebut? Simak, yuk!
Arti Simbol Salib Merah
Salib merah erat kaitannya dengan perjuangan rakyat Papua untuk mempertahankan tanahnya dan pelestarian ekologi, Beauties. Salib ini pertama kali digunakan dalam perlawanan tanpa kekerasan oleh komunitas masyarakat adat Papua Selatan pada tahun 2014 untuk melawan perampasan lahan oleh korporasi dan pemerintah, sebagaimana dikutip dari AJPlus. Sejak itu, mereka menancapkan salib merah pada tanah leluhur dan hutannya sebagai bentuk perlawanan dan harapan agar wilayahnya terlindungi sehingga dapat diwariskan ke generasi selanjutnya.
Pasalnya, melansir dari Greenpeace, pembabatan hutan tidak hanya menghilangkan kayu, tapi sumber kehidupan. Hutan menyediakan pangan, obat-obatan, hingga pengetahuan bagi manusia. Masyarakat Papua menjaga sumber daya ini serta keseimbangan alam agar di masa depan, mereka masih memiliki tempat untuk berpijak.
Masyarakat adat Papua, seperti Awyu, Malind, Muyu, dan Yei, menancapkan salib merah yang tingginya bisa mencapai 12 meter dan lebar 7 meter ini bukan sebagai penolakan terhadap masa depan, melainkan penolakan atas kehancuran.
Salib itu sendiri ialah simbol kemenangan atas maut serta lambang keselamatan, Beauties. Melansir dari situs CRCS UGM, agama menjadi identitas penting bagi suku Awyu sehingga mereka menyebut salib merah tersebut sebagai salib suci. Tinggi salib 12 meter merepresentasikan 12 murid Yesus, sedangkan lebarnya menyimbolkan jumlah wilayah adat Awyu.
Selain salib, mereka memasang papan yang tertulis isi Putusan MK No. 35 tahun 2012. Dengan begitu, mereka menegaskan status bahwa tanah tersebut adalah tanah adat, bukan milik negara.
Signifikansi makna inilah yang kemudian dibawa ke aksi demonstrasi di Jakarta pada Hari Sumpah Pemuda lalu, Beauties. Salib merah yang dibawa menjadi respon masyarakat terhadap masalah kebakaran hutan dan lahan yang melanda di wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Mereka menuntut tanggung jawab atas karhutla, penetapan status bencana nasional, serta perlindungan terhadap alam.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!