Dampak Fasilitas Data Center terhadap Wilayah Pemukiman Penduduk Sekitarnya

Dimitrie Hardjo | Beautynesia
Rabu, 30 Sep 2026 15:30 WIB
Dampak Fasilitas Data Center terhadap Wilayah Pemukiman Penduduk Sekitarnya/ Foto: Dok. Schneider Electric

Di balik canggihnya artificial intelligence (AI) seperti ChatGPT dan Gemini, terdapat infrakstruktur raksasa yang menjadi tempat penyimpanan, memproses, dan mengatur data dalam jumlah besar. Seiring dengan meningkatnya penggunaan AI secara masif, maka kebutuhan pembangunan pusat data juga semakin gencar dilakukan.

Belakangan ini, kabar pusat data atau data center akan dibangun di Indonesia menjadi perbicangan hangat, Beauties. Namun tak hanya Indonesia saja, pembangunan pusat data di negara-negara lain turut dikerahkan dan mendapat kritik hingga penolakan tegas dari masyarakat setempat.

Pasalnya, pusat data memiliki dampak ekologis yang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan dan kesejahteraan manusia. Di Sydney, Australia, contohnya. Melansir dari CNBC Indonesia, proyek pembangunan data center senilai 1,2 miliar AUD (sekitar Rp15 triliun) resmi dibatalkan pada Senin (28/9/2026), setelah warga setempat demo menolak keras pembangunan itu.

Di Amerika Serikat sendiri, lebih dari 1.300 pusat data telah beroperasi saat ini, menurut Cleanview, yang dikutip dari CBS News. Bahkan, melansir dari World Resources Institute (WRI), Virginia disebut sebagai ibu kota pusat data dunia karena menampung jumlah fasilitas terbanyak setelah Texas dan California. Dijelaskan dalam laman Forbes, hampir sepertiga lokasi pusat data di Virginia berada dalam jarak sekitar 200 kaki (sekitar 60,9 meter) dari kawasan permukiman.

Pembangunan tersebut tidak tanpa dampak negatif. Pusat data membutuhkan banyak sekali konsumsi energi listrik dan air sehingga warga sekitar pun mengeluhkan dampaknya.

(dmh/dmh)