Media sosial kini tak hanya memuat tren untuk remaja dan orang dewasa. Bahkan sebagian besar orang tua ingin mengabadikan potret dan momen penuh kenangan, sejak anak masih kecil dan ingin menunjukkan perkembangan sang anak ke publik.
Namun seiring dengan respon yang positif, komentar, dan mendapatkan likes dari media sosial itu, akhirnya orang tua menjadi berlebihan mengunggah berbagai post untuk anak, hingga berujung pada sharenting. Tak jarang hal ini melewati batas privacy anak, karena terkadang informasi yang diberikan berlebihan demi menaikkan followers atau engagement.
Dikutip dari situs Verywellmind, simak berbagai fakta yang patut dicermati dengan bijak sebelum membagikan konten tentang anak di media sosial, agar tak berujung pada sharenting, Beauties!
Apa Itu Sharenting?
|
Apa Itu Sharenting |
Sharenting merujuk pada fenomena membagikan berbagai momen pertumbuhan anak, kegiatan anak secara berlebihan, baik dalam bentuk prestasi anak, kegiatan sehari-hari dari anak di media sosial atau internet. Terkadang orang tua jadi terus-menerus mengunggah postingan anak secara berlebihan demi mendapatkan followers dan likes yang tinggi. Mereka merasa tertantang untuk konsisten memposting sebanyak mungkin kegiatan anak ke media sosial, tapi lupa mempertimbangkan atau bahkan tidak bertanya terlebih dahulu ke anak, meminta persetujuan dari anak.
Tak jarang anak jadi dituntut atau terkesan dipaksa untuk mengikuti tren viral atau membuat konten-konten yang mungkin belum tentu mereka sukai, tapi terpaksa dibuat untuk menjadi bahan konten media sosial yang dikelola oleh orangtua.
Sebetulnya membagikan unggahan masih dapat tergolong wajar, asalkan tidak melanggar privacy dari anak. Perhatikan juga usia anak dan kemungkinan dampak yang terjadi ke depannya. Bukan hanya sekedar lucu-lucuan atau tren semata.