Fenomena Stop The Wedding: Bagaimana Lagu Ashe Menjadi Dukungan untuk Perempuan

Adinda Dhini Firlianti | Beautynesia
Rabu, 28 Oct 2026 08:00 WIB
Suara Bagi Mereka yang Takut Berkata 'Tidak'
Suara bagi mereka yang takut berkata 'tidak'/ Foto: Magnific/bristekjegor

Beauties, sadar nggak sih? Kini sebuah lagu tidak lagi hanya sekedar pemuas telinga, melainkan bisa berubah menjadi gerakan sosial yang bergerak masif di media sosial. Fenomena ini terjadi pada lagu terbaru penyanyi asal Amerika Serikat, Ashe, yang berjudul Stop The Wedding. 

Sejak dirilis pada Agustus lalu di bawah naungan Atlantic Record, lagu yang diproduseri Noah Conrad ini langsung melesat. Menariknya, lagu ini bertransformasi menjadi anthem gerakan women support women di berbagai platform media sosial, terutama TikTok. 

Kira-Kira mengapa lagu tentang menghentikan pernikahan ini menarik perhatian perempuan seluruh dunia, ya? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!

Suara Bagi Mereka yang Takut Berkata 'Tidak'

Pertanyaan Seputar Pernikahan dan Keturunan/Foto: Magnific/bristekjegor

Suara bagi mereka yang takut berkata 'tidak'/ Foto: Magnific/bristekjegor

Secara garis besar, Stop The Wedding memotret momen yang seringkali dianggap tabu oleh masyarakat kita, yaitu keberanian untuk mundur ketika menyadari adanya tanda bahaya (red flags) menjelang  pernikahan. 

Adanya beban sosial, rasa malu keluarga, kerugian materiil, hingga ketakutan akan judgement dari masyarakat membuat banyak perempuan takut untuk membatalkan pernikahan.

Namun, lagu Ashe mengingatkan bahwa menyelamatkan masa depan diri sendiri jauh lebih penting daripada menjaga gengsi melalui liriknya yang tajam “Even though the table's set / The guests are waiting / You can burn the dress, and run away / Stop the wedding!” (Meskipun meja sudah ditata, para tamu sudah menunggu, kamu bisa membakar gaun itu dan lari menjauh. Hentikan pernikahannya!).

Ruang 'Pengingat' di Media Sosial

Tren Pernikahan Kekinian/Foto: Magnific/senivpetro

Ruang pengingat di kolom media sosial/ Foto: Magnific/senivpetro

Banyak perempuan menggunakan audio lagu ini untuk membagikan kisah personal atau pendapat mereka. Ada yang mengingatkan untuk menghentikan pernikahan ketika bertemu dengan pasangan yang mengekang bahkan para penyintas perceraian menggunakan lagu ini untuk mengenang masa lalu mereka. 

Hebatnya, ruang komentar dari video-video ini menjelma menjadi ruang yang sangat suportif. Sesama perempuan yang tidak saling kenal memberikan pelukan virtual dan kata-kata penguatan untuk bangkit dari hubungan yang toksik, Beauties.

Berasal dari Pengalaman Nyata Penyanyi

Berasal dari Pengalaman Nyata Penyanyi/Foto:Spotify/Ashe

Beauties, lagu ini terasa begitu magis karena lahir dari pengalaman pribadi penyanyi. Melansir dari BBC News, Ashe pernah melewati perceraian pertama yang emosional, yang juga menginspirasi lahirnya karya terdahulu seperti Moral of the Story. 

Dipadukan dengan aransemen yang megah, lagu ini tidak terdengar mendayu-dayu meratapi nasib, melainkan penuh amarah yang menuntut keadilan bagi diri sendiri.

Pada akhirnya, Stop The Wedding bukan sekedar tren, lagu ini menjadi pengingat keras dan pelukan hangat bagi sesama perempuan bahwa sekencang apa pun tuntutan sosial, kendali kebahagiaan hidup tetap berada di tangan mereka sendiri. 

Nah, apa pendapatmu mengenai lagu ini, Beauties?

---

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(sim/sim)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE