Hari Kesehatan Mental Sedunia: Mengenal Mental Load yang Sering Dialami Perempuan

Anggita Kusmadewi | Beautynesia
Sabtu, 10 Oct 2026 08:00 WIB
Mengapa Mental Load Sering Dikaitkan dengan Perempuan?
Ilustrasi perempuan yang sibuk mengatur pekerjaan rumah tangga. /Foto: Magnific/magnific

Hari Kesehatan Mental Sedunia diperingati setiap 10 Oktober untuk mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan mental. Melansir World Federation for Mental Health (WFMH), peringatan ini pertama kali digelar pada 10 Oktober 1992 dan mulai mengangkat tema yang berbeda setiap tahunnya sejak 1994.

Tahun ini, tema yang diangkat adalah “Lived experiences heard: real voices, real change” atau “Pengalaman hidup yang didengar: suara nyata, perubahan nyata”. Melansir WHO, kampanye tahun ini mendorong agar pengalaman dan suara orang yang pernah atau sedang menghadapi masalah kesehatan mental ikut didengar. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi pertimbangan dalam kebijakan, layanan, dan keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka.

Pengalaman tentang kesehatan mental juga bisa muncul dari hal-hal yang dekat dengan keseharian kita, Beauties. Salah satunya ketika pikiran terus sibuk mengingat berbagai urusan, memikirkan tanggung jawab, dan memastikan semuanya berjalan lancar.

Beban seperti ini dikenal sebagai mental load dan cukup sering dikaitkan dengan perempuan. Lantas, apa sebenarnya mental load dan mengapa beban ini sering dikaitkan dengan perempuan? Yuk, simak penjelasannya!

Apa Itu Mental Load?

Ilustrasi perempuan yang sedang memikirkan berbagai urusan sehari-hari/Foto: Magnific/katemangostar

Melansir Cleveland Clinic, mental load adalah beban yang muncul ketika seseorang harus terus memikirkan berbagai hal agar urusan sehari-hari tetap berjalan. Jadi, yang melelahkan bukan hanya pekerjaan yang dilakukan, tetapi juga berbagai hal yang perlu dipikirkan agar pekerjaan tersebut selesai.

Karena sebagian besar prosesnya terjadi di dalam pikiran, mental load sering tidak terlihat dari luar. Seseorang mungkin terlihat hanya melakukan satu pekerjaan, padahal ada beberapa hal lain yang sedang dipikirkan dalam waktu bersamaan.

Contohnya saat menyiapkan makan malam. Selain memasak, ada yang perlu menentukan menu, mengecek bahan yang masih tersedia, mengingat apa yang harus dibeli, sampai memikirkan makanan untuk besok.

Dari contoh tersebut, terlihat bahwa satu pekerjaan bisa melibatkan beberapa hal sekaligus. Inilah yang membuat mental load berbeda dari sekadar memiliki banyak pekerjaan.

Karena terus aktif, pikiran bisa membuat seseorang merasa lelah meski tidak banyak melakukan aktivitas fisik. Beban tersebut juga bisa tetap terasa meski pekerjaan yang dipikirkan belum dilakukan.

Mengapa Mental Load Sering Dikaitkan dengan Perempuan?

Ilustrasi perempuan yang sibuk mengatur pekerjaan rumah tangga. /Foto: Magnific/magnific

Mental load sebenarnya bisa dialami siapa saja. Namun, perempuan sering kali menghadapi banyak urusan rumah tangga dan keluarga yang harus dipikirkan dalam waktu bersamaan.

Menurut UN Women, perempuan masih lebih banyak terlibat dalam pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan. Bebannya pun bukan hanya soal pekerjaan yang terlihat, tetapi juga berbagai hal yang perlu dipikirkan, direncanakan, dan diingat.

Misalnya, ketika anak akan pergi sekolah. Ada seragam dan perlengkapan yang harus disiapkan, bekal yang perlu dipikirkan, jadwal yang harus diingat, hingga informasi dari sekolah yang tidak boleh terlewat.

Meski terlihat sederhana, hal tersebut bisa terasa melelahkan ketika harus dipikirkan dan dilakukan berulang setiap hari. Apalagi, masih ada urusan lain yang perlu diperhatikan dalam waktu yang sama.

Anggapan kalau urusan rumah dan keluarga lebih banyak menjadi tanggung jawab perempuan masih melekat di sebagian masyarakat. Menurut UN Women, pembagian peran seperti ini banyak dipengaruhi oleh kebiasaan dan norma sosial.

Dampak Mental Load yang Bisa Dirasakan

Ilustrasi perempuan yang sudah lelah setelah memikirkan banyak hal/Foto: Magnific/DC Studio

Ketika pikiran terus sibuk memikirkan banyak hal, seseorang bisa merasa lelah meski tidak banyak melakukan aktivitas fisik. Menurut Cleveland Clinic, beban mental yang tinggi dapat memengaruhi kesejahteraan, termasuk suasana hati, tidur, dan kemampuan mengambil keputusan.

Salah satu yang mungkin dirasakan adalah decision fatigue atau kelelahan dalam mengambil keputusan. Setelah seharian menentukan banyak hal, keputusan yang sebenarnya sederhana pun bisa terasa lebih berat.

Misalnya, setelah bekerja dan mengurus berbagai kebutuhan keluarga seharian, memilih pakaian untuk besok atau membalas beberapa pesan penting saja bisa terasa lebih berat. Bukan karena hal tersebut sulit, tetapi karena sepanjang hari sudah terlalu banyak keputusan yang dibuat.

Beban mental juga bisa membuat pikiran tetap aktif ketika tubuh sebenarnya sudah waktunya beristirahat. Sudah berbaring di tempat tidur, tetapi kamu masih bisa teringat pekerjaan yang belum selesai atau urusan yang harus dilakukan besok. Kalau Beauties sering mengalami hal seperti ini, mungkin yang butuh istirahat bukan hanya tubuh, tetapi juga pikiran.

Bagaimana Cara Mengurangi Beban Mental?

Ilustrasi pasangan yang sedang berbincang dan membagi tanggung jawab rumah tangga bersama /Foto: Magnific/magnific

Mental load yang sudah menumpuk mungkin tidak bisa hilang begitu saja. Namun, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membuat beban tersebut terasa lebih ringan.

Melansir BBC, salah satunya adalah membicarakan beban yang dirasakan dengan orang yang dipercaya. Coba ceritakan hal-hal yang selama ini memenuhi pikiran, termasuk urusan kecil yang mungkin tidak terlihat tetapi terus dipikirkan.

Obrolan seperti ini sebaiknya dilakukan ketika suasana sedang tenang. Psikolog Natasha Wallace menyarankan agar pembicaraan tidak dilakukan saat sedang marah atau kewalahan, sehingga fokusnya bisa pada mencari solusi bersama.

Setelah itu, coba lihat lagi semua urusan yang selama ini ada di kepala. Tidak semuanya harus dikerjakan sendiri, dan tidak semua hal juga harus selalu dilakukan.

Selain itu, bisa juga lepaskan beberapa pekerjaan kecil yang sebenarnya tidak perlu terus dikerjakan. Dengan begitu, ada ruang untuk mengurangi hal-hal yang selama ini memenuhi pikiran.

Bagi yang sudah punya pasangan, pembagian tanggung jawab juga bisa dibuat lebih jelas. Bukan sekadar membantu ketika diminta, tetapi ikut mengambil alih suatu urusan dan bertanggung jawab sampai selesai.

Lewat isu mental load, kita jadi tahu kalau rasa lelah itu bukan hanya soal fisik, tapi juga bisa dari pikiran. Di Hari Kesehatan Mental Sedunia ini, yuk, kita lebih peduli lagi pada kondisi mental diri sendiri dan perempuan di sekitar kita, Beauties! Sebab, seseorang bisa saja terlihat baik-baik saja, padahal pikirannya sedang dipenuhi banyak hal.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.