Jangan Abaikan, 11 Tanda Kamu Harus 'Stop the Wedding!'

Natasha Riyandani | Beautynesia
Rabu, 28 Oct 2026 15:15 WIB
5. Berbeda Prinsip Hidup
Ilustrasi pasangan bertengkar karena berbeda pendapat/ Foto: Magnific.com/DC Studio

Lagu “Stop the Wedding!” dari musisi Amerika Serikat, Ashe, belakangan ini tengah viral di media sosial. Lagu tersebut ramai digunakan sebagai latar konten tentang hubungan yang tidak sehat. Pesannya mengingatkan kita untuk tidak mengabaikan “red flag” dalam hubungan hanya karena terlanjur sayang.

Sayangnya, banyak orang yang justru denial dan menahan diri karena takut malu, takut sendirian, atau takut mengulang dengan orang baru. Padahal, pernikahan seharusnya menjadi fase yang paling membahagiakan. Tapi, bagaimana kalau pasanganmu bukanlah orang yang tepat?

So, penting untuk mengenali tanda kamu harus membatalkan pernikahan, yang akan menyelamatkanmu dari luka jangka panjang. Dilansir dari Families for Life, berikut rangkuman informasinya.

1. Mengalami Kekerasan Fisik

Ilustrasi kekerasan fisik/ Foto: Magnific.com/KamranAydinov

Kalau sebelum menikah saja, pasanganmu sudah berani melakukan kekerasan seperti menampar, memukul, mendorong, mencekik, hingga mengancam, baik secara verbal maupun seksual, jangan berharap pernikahan akan otomatis mengubah perilaku tersebut.

Siklusnya cenderung berulang, mereka melakukan kekerasan, lalu meminta maaf, menangis, berjanji akan berubah, dan kemudian mengulanginya lagi, bahkan dengan tindakan yang lebih parah.

Tidak ada cinta dan kasih sayang yang harus mempertaruhkan keselamatan. Membatalkan pernikahan jauh lebih baik dan mudah daripada harus terjebak dalam kekerasan rumah tangga.

2. Pernah Selingkuh

Ilustrasi pasangan ketahuan selingkuh/ Foto: Magnific.com/Drazen Zigic

Membatalkan pernikahan karena pasangan pernah berselingkuh adalah keputusan yang mutlak dan rasional. Kebohongan dan perselingkuhan yang terjadi berulang kali sebelum menikah, itu biasanya dapat menjadi gambaran mengenai hubungan rumah tangga di masa depan.

Tak ada jaminan, status pernikahan akan membuat orang yang pernah berselingkuh benar-benar berubah. Polanya pun cenderung berulang: ketahuan selingkuh, minta maaf, berjanji tidak mengulanginya, lalu ketahuan lagi?

Jika rencana pernikahan sedang dipersiapkan, membatalkan pernikahan mungkin akan mendatangkan rasa malu dan rugi sejumlah materi, namun itu lebih baik daripada harus menanggung kerugian emosional.

3. Terlalu Mengontrol Hidupmu

Ilustrasi pasangan memilihkan pakaian/ Foto: Magnific.com/wavebreakmedia-micro

Mendapat perhatian dari pasangan adalah hal yang menyenangkan karena kamu merasa diperhatikan. Namun, hal ini bisa jadi “alarm” bahaya jika diikuti upaya mengontrol dan membatasi kebebasan pribadimu.

Dia melarangmu bertemu teman, mengatur pakaian, memeriksa ponsel tanpa izin, hingga membatasi hubunganmu dengan keluarga, sampai kamu merasa tidak mampu membuat keputusan sendiri dan bergantung sepenuhnya padanya.

Perlu diingat, perhatian dan kontrol adalah dua hal yang berbeda. Hubungan yang sehat bukanlah yang membuat seseorang kehilangan kendali atas dirinya, justru saling mendukung dan percaya.

4. Sering Bertengkar

Ilustrasi pasangan bertengkar/ Foto: Magnific.com/magnific

Kehidupan rumah tangga sudah seharusnya dilandasi kasih sayang dan cinta. Saling pengertian dan mengalah adalah salah satu kunci utamanya. Namun, jika kamu dan pasangan sering bertengkar karena perbedaan nilai dan cara berpikir, itu patut diwaspadai.

Pertengkaran yang terjadi dengan topik yang sama berulang kali, saling menyalahkan, dan tidak pernah mendapat penyelesaian bisa memicu ketegangan dan merusak keharmonisan dalam rumah tangga.

Kamu jadi sering merasa cemas, tertekan, bahkan membayangkan hidup yang lebih tenang tanpa pasanganmu. Hal itu bisa menjadi sinyal serius yang mengharuskan kamu membatalkan pernikahan.

5. Berbeda Prinsip Hidup

Ilustrasi pasangan bertengkar karena berbeda pendapat/ Foto: Magnific.com/DC Studio

Ketika memutuskan menikah dengan pasangan, cinta saja sering kali tidak cukup untuk menyatukan dua arah hidup yang bertolak belakang. Misalnya, kamu ingin punya anak, dia tidak. Kamu ingin tetap bekerja setelah menikah, dia berharap kamu berhenti. Bahkan, saat kamu ingin tinggal mandiri, dia justru bersikeras harus tinggal bersama orang tuanya.

Meskipun, pasti akan selalu ada perbedaan dan perdebatan dalam setiap hubungan. Namun, kalau menyangkut keputusan besar dan tidak bisa dikompromikan bersama, jangan berharap semuanya akan selesai setelah menikah.

Pernikahan tidak cukup hanya bermodalkan cinta, tetapi kalian juga perlu memiliki kesepakatan tentang visi-misi kehidupan yang ingin dibangun bersama. Jangan sampai ketika membicarakan masa depan kamu harus menyembunyikan diri atau ambisi demi menjaga hubungan.

6. Membuat Kamu Merasa Tidak Jadi Diri Sendiri

Ilustrasi pasangan bertengkar/ Foto: Magnific.com/tirachardz

Merasa kehilangan jati diri atau tidak bisa berkembang saat berpacaran, itu bisa jadi sinyal penting yang menunjukkan bahwa hubungan yang kamu jalani mungkin tidak sehat lagi.

Kamu merasa tidak punya kendali atas dirimu sendiri, selalu meminta maaf untuk segala hal, sampai harus menyembunyikan karakter asli (hobi, pendapat) karena takut tidak disukai pasangan.

Sebelum menikah, pastikan kamu dan pasangan bersedia saling menerima kekurangan, merendahkan ego, dan ingin terus tumbuh bersama. Namun, bukan berarti memaklumi sikap atau kebiasaan buruk, melainkan berusaha menjadi yang terbaik untuk satu sama lain.

7. Tidak Mau Berbagi Beban Rumah Tangga

Ilustrasi pasangan membantu menjemur pakaian/ Foto: Magnific.com/magnific

Pernikahan adalah bentuk kerja sama tim, bukan berarti salah satu pihak harus mendapatkan pekerjaan tambahan sebagai pengurus rumah tangga tunggal, terutama jika keduanya sama-sama bekerja.

Pastikan kamu dan pasangan memiliki pandangan yang sama mengenai peran rumah tangga sebelum menikah. Sepakati pembagian tugas domestik seperti memasak, mencuci baju, mencuci piring, membersihkan rumah, serta mengurus anak.

Jika pasanganmu menganggap pekerjaan domestik sepenuhnya tanggung jawab satu pihak, sementara ia hanya ingin bekerja, beristirahat, dan dilayani, itu bisa memicu kebencian dalam hubungan.

Bukan soal siapa yang harus mengerjakan semuanya 50:50 setiap saat, tetapi apakah kalian mau sama-sama berkontribusi dan saling meringankan beban ke depannya. Ingat, kamu mencari pasangan hidup, bukan mencari orang yang akan menambah beban pekerjaanmu sehari-hari!

8. Tidak Mampu Mengatur Keuangan

Ilustrasi keuangan yang buruk/ Foto: Magnific.com/jcomp

Ketidakmampuan mengelola keuangan merupakan salah satu sumber konflik utama dalam rumah tangga, bahkan sering jadi pemicu perceraian. Tapi, apakah hal ini otomatis menjadi alasan untuk membatalkan pernikahan?

Bukan sekadar jumlah uang yang dimiliki sebelum menikah, tetapi yang perlu diwaspadai adalah utang yang disembunyikan, berjudi, serta kebiasaan berutang tanpa tanggung jawab dan membebankan masalahnya kepada orang lain. Bayangkan baru menikah, kamu justru harus menghadapi atau membayar tagihan yang selama ini tidak pernah kamu ketahui.

Sebelum menikah, bicarakan kondisi keuangan masing-masing secara terbuka. Jangan sampai kamu baru tahu kondisi finansial pasangan setelah ikut menanggung akibatnya.

9. Silent Treatment

Ilustrasi pasangan silent treatment/ Foto: Magnific.com/magnific

Kesepian yang paling menyakitkan bukan saat sendirian, justru ketika memiliki pasangan tapi tak punya tempat bersandar. Pasangan mungkin ada secara fisik, tetapi bersikap dingin, tak acuh, dan silent treatment setiap kali terjadi konflik atau melakukan kesalahan.

Ketika diajak berkomunikasi secara dewasa tentang kebiasaan diamnya, ia justru bersikap defensif atau mewajarkan sifatnya tersebut tanpa berniat memperbaiki cara komunikasinya.

Jika selama berpacaran pasanganmu sering melakukan silent treatment untuk menghukum atau membuatmu merasa bersalah, itu patut dijadikan pertimbangan atau menghentikan langkah menuju pernikahan. Pernikahan yang sehat dibangun dengan komunikasi terbuka, sedangkan silent treatment justru bisa merusak hubungan.

10. Menikah karena Tekanan Sosial

Ilustrasi pernikahan/ Foto: Magnific.com/magnific

Banyak pasangan menikah karena sudah terlalu lama berpacaran atau merasa “sudah waktunya”. Keputusan seperti ini sering kali didorong oleh harapan keluarga, takut kehilangan kesempatan, atau merasa telah mengorbankan banyak waktu, energi, dan materi, sehingga merasa “sayang” jika hubungan tersebut harus berakhir begitu saja.

Jika alasan utama menikah karena kewajiban atau tekanan usia, bukan karena kesiapansatu sama lain, ada baiknya untuk menunda atau membatalkan pernikahan. Pernikahan yang dipaksakan demi memenuhi ekspetasi sosial sering kali tidak berjalan lancar.

Pernikahan adalah komitmen seumur hidup, yang harus dilakukan dengan kesiapan dan persiapan yang matang. Jangan biarkan tekanan dari orang di sekelilingmu, membuat kamu merasa tidak punya ruang untuk berkata “belum siap”.

11. Hubungan yang Buruk dengan Calon Mertua

Ilustrasi makan bersama keluarga pasangan/ Foto: Magnific.com/magnific

Ada yang mengatakan bahwa pernikahan bukan hanya menikahi pasangan yang kamu cintai saja, tetapi menikahkan antara kedua keluarga. Hal itu benar adanya, terutama di Indonesia.

Jika selama berpacaran sudah muncul perdebatan-perdebatan, seperti salah satu keluarga tidak menyukai keluarga calon mempelai atau merasa berbeda latar belakang saat kedua keluarga dipertemukan, itu bisa jadi “tanda” pembatalan pernikahan adalah keputusan terbaik.

Meskipun kamu sangat mencintai pasanganmu, tetapi hubungan baik dan harmonis antara kedua keluarga adalah resep langgengnya pernikahan.

Keraguan dan pertimbangan adalah hal wajar yang dirasakan menjelang pernikahan. Namun, jika beberapa hal di atas ada di dalam hubunganmu, menunda atau membatalkan pernikahan terkadang bisa jadi pilihan terbaik. Semoga bermanfaat, Beauties!

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE