Beauties, mungkin kamu pernah merasa ingin memperbaiki hubunganmu dengan sahabatmu atau dengan pasanganmu, tapi kamu terus menundanya. Bukan karena kamu sibuk atau tak punya cukup waktu, tapi karena kamu ketakutan, merasa cemas dengan keberhasilannya.
Daripada kamu nanti terjebak pada risiko atau hasil yang di luar harapan, akhirnya kamu memilih untuk menghindari menyelesaikan masalah itu. Istilah ini di dunia psikologi, dikenal dengan nama avoidance coping.
Sayangnya semakin kamu menghindari masalah, ternyata masalah itu akan semakin menumpuk, Beauties. Ada beberapa fakta seputar avoidance coping yang dirangkum dari penelitian psikologi dari Elizabeth Scott, pakar di bidang coping management dan positive psychology, serta dari situs Verywellmind yang perlu kamu ketahui. Simak, yuk!
Apa Itu Avoidance Coping?
Ketika kamu khawatir dengan hasil suatu masalah, kamu cenderung menghindari perasaan yang tidak nyaman. Akhirnya, kamu mencoba untuk mengalihkan ke arah lain yang terkesan lebih menyenangkan, seperti bermain media sosial, hang out, menonton serial kesukaan dalam beberapa waktu. Namun, cara ini sebenarnya tidak benar-benar menyelesaikan masalah.
Awalnya mungkin kamu merasa sepertinya masalahnya selesai, tapi ternyata itu hanya pelarian sesaat, sebagai bentuk menghindari rasa sakit atau tidak nyaman akibat masalah itu. Semakin kamu hindari, maka masalah itu akan semakin menumpuk dan menimbulkan stres yang berkepanjangan. Maka kondisi ini dikenal dengan nama avoidance coping, yakni hanya sekadar menghindar, tapi masalah tak kunjung diselesaikan.