Kenapa Pelajar Prancis Punya Kemampuan Berpikir Kritis yang Tinggi?

Dimitrie Hardjo | Beautynesia
Selasa, 20 Oct 2026 12:30 WIB
Warisan Sejarah
Warisan sejarah Prancis/ Foto: Pexels.com/David Henry/David Henry

Baru-baru ini, aksi protes pelajar Prancis yang menuntut kualitas pendidikan lebih baik kepada pemerintah menjadi sorotan dunia. Para siswa berani menyuarakan pendapatnya, mengevaluasi kinerja pemerintah yang dinilainya masih kurang, dan berdampak pada kehidupan mereka. Kondisi ruang kelas yang buruk, kurangnya jumlah guru, banyaknya jumlah murid dalam satu kelas, hingga jam pelajaran yang terkikis adalah beberapa pemicu protes tersebut.

Walaupun dengan anggaran pendidikan yang masih tergolong melimpah, para siswa sekolah di Prancis tetap menuntut haknya yang belum terpenuhi. Hal ini tak lain dipicu pemikiran mereka yang kritis terhadap kesejahteraan dan kualitas pendidikan, Beauties. Kemampuan berpikir kritis itu tidak terbentuk secara instan, tapi sesuatu yang dilatih, termasuk oleh sekolahnya.

Esprit Critique yang Menjadi Gol Pendidikan Prancis

Esprit critique atau kemampuan berpikir kritis menjadi gol pendidikan di Prancis

Esprit critique atau kemampuan berpikir kritis menjadi gol pendidikan di Prancis/ Foto: Pexels.com/RDNE Stock Project

Pemerintah Prancis memahami pentingnya esprit critique (berpikir kritis), yakni kecenderugan pikiran yang tidak langsung menerima pernyataan, penilaian, atau fakta secara mentah-mentah, tanpa terlebih dahulu mengakui keabsahan rasionalnya. Di tengah kemajuan teknologi dan informasi, kemampuan berpikir kritis semakin penting seiring dengan perkembangan zaman. Bahkan kemampuan itu diakui sebagai salah satu kemampuan paling penting di abad ke-21.

Melansir dari situs resmi Kementerian Pedidikan Nasional Prancis, pemerintah Prancis pun menerapkan pendekatan kemampuan berpikir kritis secara holistik bagi para siswanya.

Berpikir kritis dibangun melalui suatu kondisi pikiran (rasa ingin tahu, mendengarkan, otonomi, kerendahan hati, dan kejernihan), praktik (mencari informasi, memahami sebelum menghakimi, mengevaluasi informasi, mencari sumber, membedakan fakta dari interpretasinya, menerima debat, menolak intuisi langsung), dan pengetahuan.

Pembelajaran di Sekolah Termasuk Filsafat

Mata pelajaran di sekolah termasuk Filsafat yang melatih kemampuan berpikir kritis

Mata pelajaran di sekolah termasuk Filsafat yang melatih kemampuan berpikir kritis/ Foto: Pexels.com/Calil Encarnación

Kemampuan berpikir kritis pun menjadi tujuan besar sistem pendidikan di Prancis, Beauties. Untuk mengasah kemampuan tersebut, sistem pendidikan Prancis menerapkannya di semua mata pelajaran dan terdapat pula dalam kurikulum, khususnya dalam Pendidikan Moral dan Kewarganegaraan (EMC) dan dalam Literasi Media dan Informasi (EMI).

Pendidikan Moral dan Kewarganegaraan bertujuan untuk melatih siswa untuk memiliki kesadaran yang jelas tentang kewarganegaraan mereka. Dengan mempelajarinya, para siswa diharapkan dapat bertumbuh menjadi orang dewasa yang dapat berkontribusi dalam memecahkan masalah kolektif di masa depan.

Literasi Media dan Informasi (EMI) bertujuan untuk menumbuhkan pemahaman yang kritis dan objektif terhadap konten dan format media, khususnya melalui pengembangan teknologi digital. Siswa diajak untuk mengenali informasi yang dapat diandalkan, memerangi disinformasi atau "manipulasi informasi" sesuai dengan istilah dalam Education Code Prancis.

Tak hanya itu, Beauties. Filsafat ditetapkan menjadi mata pelajaran wajib bagi para siswa di sekolahnya. Mengutip dari The New York Times, ujian Filsafat di jenjang SMA termasuk pertanyaan-pertanyaan dari buku karya Friedrich Nietzsche, seorang Filsuf asal Jerman. Pelajaran Filsafat turut berperan penting dalam membentuk kemampuan berpikir kritis para siswanya. Dikutip dari France24, Filsafat telah menjadi mata pelajaran wajib di sekolah menengah atas Prancis sejak tahun 1808, Beauties.

Warisan Sejarah

Warisan sejarah Prancis

Warisan sejarah Prancis/ Foto: Pexels.com/David Henry/David Henry

Pelajaran Filsafat yang wajib di sekolah juga disebutkan sebagai sebuah tradisi yang diwarisi oleh para Filsuf di zaman “Siècle des Lumières”, yakni Zaman Pencerahan periode 1715 hingga 1789. Filsuf yang populer pada masa itu antara lain Voltaire, Jean-Jacques Rousseau, Montesquieu, dan Denis Diderot.

Pada periode itu pula, banyak peristiwa bersejarah terjadi, mulai dari dimulainya pemerintahan Raja Louis XV, pengangkatan Raja Louis XVI, hingga dimulainya Revolusi Prancis.

Revolusi Prancis (1789-1799) termasuk dalam sejarah dunia yang paling terkenal, Beauties. Pemberontakan oleh rakyat tersebut berujung pada dieksekusinya Raja Louis XVI dan Ratu Marie Antoinette dan transformasi sosial politik. Peristiwa itu dilatarbelakangi krisis keuangan negara akibat pendanaan perang, ketidaksejahteraan yang dirasakan rakyat, dan ketidakadilan terhadap rakyat. Revolusi Prancis turut melahirkan semboyan "Liberté, égalité, fraternité" yang berarti kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan.

Sejarah perlawanan rakyat Prancis tak berhenti pada Revolusi Prancis saja, tetapi juga Gerakan Mei 1968 yang melibatkan buruh dan pelajar di Paris, diarahkan kepada kepemimpinan Presiden Charles de Gaulle. Para pelajar menuntut reformasi sistem pendidikan setelah menerima kebijakan yang represif. Para buruh serta seluruh lapisan masyarakat Prancis kemudian ikut mendukung upaya tersebut.

Bagaimana menurut kamu, Beauties?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE