Kisah Fariba Hashimi, Atlet Sepeda Peraih Perak Asian Games yang Pernah Menyamar Jadi Pria Demi Gapai Cita-Cita

Sri Purwantiningrum | Beautynesia
Selasa, 27 Oct 2026 11:30 WIB
Dari Tim Nasional, Mengungsi ke Italia, hingga Berdiri di Panggung Dunia
Momen saat Fariba Hashimi mencapai garis finish dan menang di UCI Tour de l’Ardèche/ Foto: Instagram/fariba__hashimi

Memiliki mimpi besar terkadang membutuhkan perjuangan yang tidak mudah, apalagi di tengah berbagai keterbatasan. Hal inilah yang dirasakan oleh Fariba Hashimi, atlet balap sepeda muda berusia 23 tahun asal Afghanistan yang baru saja meraih medali perak di Asian Games 2026.

Pencapaian ini menjadi medali pertama bagi atlet perempuan Afghanistan sejak tahun 2002, sekaligus simbol ketangguhan mereka yang kebebasannya dibatasi oleh pemerintahnya sendiri. Dilansir dari The Guardian dan Olympic Channel, ini kisah Fariba Hashimi, mulai dari menyamar jadi pria hingga berdiri di podium dunia.

Awal Mengenal Sepeda: Bagai Burung yang Terbang Bebas

Saat bersepeda, Fariba Hashimi merasakan momen kebebasan seperti burung yang terbang/ Foto: Instagram/fariba__hashimi

Perjalanan Fariba mengenal dunia balap sepeda dimulai pada 2017 di Provinsi Faryab, Afghanistan. Saat itu, Fariba dan kakaknya, Yulduz Hashimi, melihat iklan lomba balap sepeda lokal. Meski belum pernah naik sepeda dan tidak memilikinya, mereka nekat meminjam sepeda tetangga dan berlatih hanya beberapa jam. Hasilnya, Fariba meraih juara pertama dan sang kakak meraih juara kedua. Momen itu memberinya rasa kebebasan luar biasa bagai burung yang terbang bebas.

Namun, tinggal di lingkungan konservatif yang menganggap perempuan bersepeda sebagai hal tabu memberinya tantangan tersendiri. Demi terhindar dari bahaya saat berlatih, Fariba harus menyamar menggunakan pakaian pria, jilbab, masker, hingga kacamata hitam. Bahkan untuk bertanding mereka juga sempat menyembunyikan identitasnya dengan memakai nama palsu.

Mereka sering diserang warga dengan lemparan batu dan botol. Sang kakak bahkan pernah ditabrak pengemudi becak hingga pergelangan tangannya patah. Ketakutan sang ayah terhadap keselamatan putrinya tetap tak menghentikan langkah Fariba. Lemparan batu itu justru ia jadikan bahan bakar untuk terus berjuang.

Dari Tim Nasional, Mengungsi ke Italia, hingga Berdiri di Panggung Dunia

Momen saat Fariba Hashimi mencapai garis finish dan menang di UCI Tour de l’Ardèche/ Foto: Instagram/fariba__hashimi

Berkat ketekunannya, Fariba dan Yulduz bergabung dengan tim nasional Afghanistan pada tahun 2020. Di sinilah ia mengenal sosok mantan juara dunia asal Italia, Alessandra Cappellotto. Ketika rezim Taliban kembali berkuasa pada tahun 2021, pembatasan hak perempuan berubah menjadi aturan resmi negara. Demi mimpinya, Fariba terpaksa melarikan diri ke Veneto dengan bantuan Alessandra melalui penerbangan yang diatur pemerintah Italia.

Keputusan ini menuntut pengorbanan besar karena Fariba harus terpisah dari keluarganya dan menjadi pengungsi. Di Italia, ia memulai lagi dari nol, bahkan mengikuti kursus dasar bersepeda anak sekolah sebelum terbiasa berlatih di Pegunungan Dolomite.

Dari sana, karier internasionalnya melesat. Pada tahun 2022, ia menjuarai Kejuaraan Nasional Afghanistan di Swiss yang diikuti 50 atlet pengungsi demi menyuarakan hak-hak perempuan di negaranya. Kemenangan ini merupakan gelar nasional pertamanya dan membukakan jalan baginya menembus Women's WorldTour. 

Pada 2023, ia dan kakaknya mengukir sejarah di Kejuaraan Dunia UCI di Glasgow sebagai wakil perempuan Afghanistan pertama sejak Taliban berkuasa, hingga meraih Beasiswa Solidaritas Olimpiade. Puncaknya pada 2024, Fariba sukses berlaga di Olimpiade Paris dan mencetak rekor sebagai pesepeda perempuan Afghanistan pertama yang menang di ajang UCI Tour de l’Ardèche.

Simbol Ketangguhan untuk Perempuan yang Berani Bermimpi

Pencapaian Fariba Hashimi di Asian Games 2026 jadi simbol ketangguhan perempuan yang berani bermimpi/ Foto: Instagram/yuldoz_hashimi

Puncak perjuangannya semakin terlihat di Asian Games 2026. Fariba bertanding dalam kondisi serba terbatas karena hanya didampingi satu perwakilan federasi yang bertindak sebagai sopir. Tanpa tim mekanik, ia merawat dan memperbaiki sepedanya sendiri, sebelum akhirnya dibantu oleh tim mekanik Jepang yang sangat ia apresiasi.

Bagi Fariba, kehadirannya menjadi bukti bahwa perempuan Afghanistan terus berjuang. Medali perak ini menjadi simbol ketangguhan yang ia harapkan bisa menginspirasi perempuan Afghanistan yang sedang dibatasi ruang geraknya. Selain itu, Fariba bermimpi suatu hari nanti bisa kembali ke tanah airnya dan membawa perubahan agar generasi perempuan berikutnya tidak perlu lagi menangis, melarikan diri, atau dilempari batu demi mengejar cita-cita.

Dari kegigihan Fariba Hashimi, kita belajar bahwa rintangan sebesar apa pun tak akan pernah sanggup menghentikan langkah perempuan yang percaya pada mimpinya. Jadi, untuk Beauties yang sedang berjalan menuju impiannya, ingatlah bahwa kamu tidak sendirian, sebab ada semangat Fariba dan jutaan perempuan di dunia yang selalu mendukungmu, ya!

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE