Mengenal 7 Tradisi Memanggil Hujan di Nusantara, Warisan Budaya yang Masih Dikenal

Budi Rahmah Panjaitan | Beautynesia
Kamis, 29 Oct 2026 09:15 WIB
3. Tradisi Cowongan, Banyumas
Cowongan merupakan ritual memohon hujan menggunakan boneka yang dilakukan secara turun-temurun oleh perempuan di Banyumas dan berkaitan dengan kepercayaan lokal/ Foto: pdk.cilacapkab.go.id/DinasPendidikandan KebudayaanKabupatenCilacap

Jauh sebelum teknologi modern digunakan untuk memantau cuaca, masyarakat di berbagai daerah Indonesia sudah memiliki tradisi tersendiri untuk memohon turunnya hujan saat kemarau panjang. Tradisi ini tidak hanya berkaitan dengan harapan akan datangnya air, tetapi juga mencerminkan warisan budaya yang dijaga secara turun-temurun.

Mulai dari pertunjukan tari hingga ritual, setiap daerah memiliki cara unik untuk mengungkapkan harapan tersebut. Mengutip dari Kemenko PMK, yuk, kenali tujuh tradisi memanggil hujan yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia berikut ini

1. Tradisi Tiban, Tulungagung

Tiban merupakan ritual saling mencambuk menggunakan cambuk berbahan alami yang dipercaya masyarakat setempat sebagai bentuk permohonan turunnya hujan saat kemarau panjang/ Foto: jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id/ Pusaka Jawatimuran
Tiban merupakan ritual saling mencambuk menggunakan cambuk berbahan alami yang dipercaya masyarakat setempat sebagai bentuk permohonan turunnya hujan saat kemarau panjang/ Foto: jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id/ Pusaka Jawatimuran

Tradisi Tiban merupakan ritual yang dikenal masyarakat Tulungagung, Jawa Timur, ketika kemarau panjang menyebabkan kesulitan air. Dalam ritual ini, dua pria bertelanjang dada saling mencambuk menggunakan alat tertentu, seperti cambuk dari bahan alami. Masyarakat setempat meyakini bahwa darah yang keluar selama ritual dapat menjadi simbol permohonan turunnya hujan. Tradisi serupa juga dikenal di sejumlah daerah lain dengan nama dan pelaksanaan yang berbeda.

2. Tradisi Ujungan, Purbalingga

Ujungan adalah tradisi adu cambuk menggunakan rotan yang dilakukan sebagai ritual memohon hujan, dengan aturan tertentu dalam pelaksanaannya/ Foto: dinrumkim.purbalinggakab.go.id/ DinasPerumahandanPermukiman

Di Purbalingga dan Banjarnegara, Jawa Tengah, terdapat tradisi Ujungan yang dilakukan sebagai bagian dari permohonan hujan saat kemarau panjang. Ritual ini melibatkan dua pria yang saling berhadapan menggunakan rotan untuk mencambuk lawannya. Dalam pelaksanaannya, terdapat aturan mengenai jumlah pukulan yang dilakukan. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat setempat mewariskan ritual yang berkaitan dengan harapan akan turunnya hujan dan keberlangsungan kehidupan mereka.

3. Tradisi Cowongan, Banyumas

Cowongan merupakan ritual memohon hujan menggunakan boneka yang dilakukan secara turun-temurun oleh perempuan di Banyumas dan berkaitan dengan kepercayaan lokal/ Foto: pdk.cilacapkab.go.id/DinasPendidikandan KebudayaanKabupatenCilacap

Berbeda dari tradisi yang melibatkan pertarungan, Cowongan di Banyumas, Jawa Tengah, menggunakan media boneka sebagai bagian dari ritual memohon hujan. Tradisi ini secara turun-temurun dilakukan oleh perempuan di Desa Plana, Kecamatan Somagede, terutama ketika kemarau berlangsung panjang. Cowongan dimaknai sebagai bentuk permohonan sekaligus penghormatan terhadap peninggalan leluhur. Pelaksanaannya juga berkaitan dengan kepercayaan lokal dan waktu tertentu dalam kalender Jawa, sehingga menjadi bagian dari kekayaan tradisi masyarakat Banyumas.

4. Tari Sintren, Cirebon

Sintren merupakan kesenian tradisional dengan unsur magis yang dalam tradisi tertentu dikaitkan dengan ritual memohon hujan saat kemarau panjang/ Foto: rri.co.id/ RadioRepublikIndonesia

Tari Sintren dikenal sebagai kesenian tradisional yang memiliki unsur magis dan berkaitan dengan kisah cinta Sulasih dan Sulandono. Dalam tradisi yang diceritakan sebagai ritual memohon hujan, pertunjukan ini dilaksanakan ketika masyarakat mengalami kemarau panjang, disertai doa yang dipimpin oleh seorang pawang. Tarian Sintren memiliki ciri khas berupa penampilan penari perempuan, sementara pertunjukan Lais yang berkaitan dengannya melibatkan penari laki-laki. Tradisi ini menunjukkan bagaimana seni pertunjukan dapat menjadi bagian dari ekspresi kepercayaan masyarakat setempat.

5. Tari Gundala-Gundala, Karo

Tari Gundala-Gundala merupakan tradisi masyarakat Karo yang berkaitan dengan ritual Ndilo Wari Udan, yaitu permohonan turunnya hujan, dengan ciri khas kostum dan topeng kayu/ Foto: gubug-wayang.com/MuseumGubugWayang

Masyarakat Karo di Sumatera Utara mengenal Tari Gundala-Gundala, yang dikaitkan dengan ritual Ndilo Wari Udan atau permohonan turunnya hujan. Tarian ini ditampilkan ketika wilayah tersebut mengalami kemarau panjang. Salah satu ciri khasnya adalah penggunaan kostum menyerupai jubah dan topeng berbahan kayu. Selain menjadi bagian dari tradisi masyarakat Karo, pertunjukan ini juga memperlihatkan kekayaan seni dan identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

6. Tradisi Gebug Ende, Karangasem

Gebug Ende adalah tradisi pertarungan menggunakan rotan dan tameng yang dilakukan masyarakat Bali sebagai bagian dari ritual memohon hujan/ Foto: bulelengkab.go.id/PemerintahKabupatenBuleleng

Di Karangasem, Bali, terdapat tradisi Gebug Ende yang melibatkan dua kelompok pria dewasa dalam pertarungan menggunakan rotan dan tameng sebagai pelindung. Pertunjukan ini dipimpin oleh seorang wasit yang disebut Saye. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, ritual tersebut berkaitan dengan harapan agar hujan turun setelah musim kemarau. Gebug Ende menjadi salah satu contoh tradisi yang memadukan unsur ritual, keberanian, dan kebersamaan masyarakat dalam menjaga warisan budaya daerah.

7. Tradisi Ojung, Bondowoso

Ojung merupakan ritual adu cambuk menggunakan rotan yang dilakukan masyarakat setempat sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan agar hujan turun setelah kemarau panjang/ Foto: rri.co.id/RadioRepublikIndonesia

Tradisi Ojung dikenal di wilayah Jawa Timur, termasuk Desa Tapen, Bondowoso, sebagai ritual yang berkaitan dengan permohonan hujan setelah kemarau panjang. Dalam pelaksanaannya, dua pria bertelanjang dada saling berhadapan sambil menggunakan rotan, dengan seorang wasit yang mengawasi jalannya pertarungan. Masyarakat melaksanakan tradisi ini sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar hujan segera turun. Meski memiliki kemiripan dengan ritual di daerah lain, Ojung tetap menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.