Mengenal Istilah "Girl's Girl", Solidaritas Perempuan di Tengah Budaya Persaingan

Candra Anisa | Beautynesia
Jumat, 30 Oct 2026 08:30 WIB
Budaya yang Mereproduksi Persaingan Perempuan
Ilustrasi/Foto: Magnific/ Lookstudio

Istilah girl’s girl belakangan ini kerap muncul dalam percakapan media sosial. Istilah ini merujuk pada pilihan perempuan untuk mendukung perempuan lain, alih-alih menyatakan persaingan.

Misalnya, seorang perempuan akan memberitahu perempuan lain ketika riasannya luntur hingga memberikan pembalut kepada perempuan manapun yang membutuhkannya. Menjadi girl’s girl berarti membela perempuan lain dan menolongnya dari perlakuan merendahkan yang diterimanya.

Popularitas istilah ini mencerminkan bagaimana perempuan semakin sadar akan solidaritas antar perempuan, untuk saling mendukung tanpa harus mengorbankan satu sama lain. Namun, bagaimana perjalanan menuju solidaritas? Apakah label girl’s girl benar-benar mampu meruntuhkan persaingan, atau justru menciptakan perpecahan baru di balik ilusi solidaritas?

Budaya yang Mereproduksi Persaingan Perempuan

Setelah berkeluarga sering kali membawa perubahan, begitu pun dengan hubungan dengan sahabat. Tak jarang, sahabat jadi dinomorduakan setelah keluarga. Namun, saling berkomunikasi menjadi cara untuk menjaga persahabatan meskipun sudah berkeluarga

Ilustrasi/Foto: Magnific/ Lookstudio

Istilah girl’s girl muncul dari evolusi akan konsep solidaritas antar perempuan selama beberapa dekade. Jauh sebelum istilah ini menjadi populer, ekspektasi sosial menempatkan perempuan dalam persaingan untuk memperoleh validasi eksternal. Dilanggengkan oleh budaya patriarki dan misogini, nilai perempuan ditentukan dari bagaimana posisinya terhadap perempuan lain.

Perbandingan yang terus menerus dilakukan terhadap perempuan pada akhirnya melekat dalam benak mereka, bahwa dirinya harus lebih baik dibandingkan dari perempuan lain. Konsep persaingan antarperempuan ini terus direproduksi antar satu generasi ke generasi lain, hingga munculnya gerakan feminisme gelombang kedua di tahun 1960-an.

Munculnya Istilah Girl’s Girl sebagai Representasi Solidaritas Perempuan

Film The Sisterhood of The Travelling Pants/Foto: IMDb.com

Seiring berkembangnya gerakan feminisme, solidaritas antarperempuan semakin mendapat perhatian sebagai bagian dari perjuangan untuk memperoleh hak dan kesetaraan. Gagasan ini semakin digaungkan lewat romantisasi hubungan pertemanan perempuan dalam berbagai media.

Film The Sisterhood of The Travelling Pants, misalnya, menampilkan bagaimana persahabatan membantu para tokoh perempuan menghadapi kesulitan dan perubahan dalam hidup mereka. Sebaliknya, film Mean Girls memperlihatkan bagaimana persaingan, hierarki sosial, dan keinginan memperoleh pengakuan dapat merusak hubungan antarperempuan.

Seiring meluasnya pembahasan mengenai solidaritas perempuan di media mainstream hingga media sosial, istilah girl’s girl lahir sebagai representasi sikap saling mendukung antarperempuan, Beauties. Namun, ketika solidaritas mulai dilekatkan pada sebuah label, muncul pertanyaan mengenai siapa yang berhak menentukan perempuan mana yang pantas menyandangnya.

Paradoks di Balik Label Girl’s Girl

Film Mean Girls/Foto: IMDb.com

Namun, di sisi lain, pelabelan solidaritas perempuan melalui istilah girl’s girl berpotensi menciptakan batas baru di antara perempuan. Ketika istilah ini dijadikan tolok ukur dalam menilai sikap seseorang, perempuan dapat terbagi menjadi mereka yang dianggap sebagai girl’s girl dan mereka yang tidak.

Akibatnya, alih-alih membangun solidaritas, perempuan justru berisiko kembali membandingkan diri dan menilai satu sama lain berdasarkan standar tersebut. Boleh jadi, mereka akan merasa perlu membuktikan dirinya sebagai girl’s girl, lalu memandang rendah perempuan yang dianggap tidak memenuhi standar serupa.

Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa girl’s girl hanyalah istilah untuk mempopulerkan gagasan solidaritas perempuan, bukan standar untuk menentukan perempuan mana yang layak mendapat dukungan. Lebih dari sekadar label, solidaritas seharusnya tercermin dalam kesediaan untuk saling mendukung dan menghargai perbedaan tanpa menjadikannya alasan untuk saling menghakimi.

Menjadi Girl’s Girl

Solidaritas Perempuan dalam Gerakan Feminisme/Foto: Unsplash.com/Giacomo Ferroni

Pada akhirnya, girl’s girl menjadi pengingat bahwa perempuan tidak harus saling bersaing untuk memperoleh pengakuan dan validasi. Di tengah budaya yang kerap membandingkan perempuan satu sama lain, solidaritas membuka ruang bagi perempuan untuk saling mendukung dan tumbuh bersama.

Namun, solidaritas tidak berhenti pada sebuah istilah atau tren yang populer di media sosial, Beauties. Lebih dari itu, solidaritas berarti mengubah cara perempuan memandang dan memperlakukan satu sama lain, dari melihat sesama perempuan sebagai saingan menjadi menyadari bahwa mereka dapat saling menguatkan.

Menjadi girl’s girl bukan berarti mendukung perempuan lain tanpa mempertimbangkan benar atau salahnya tindakan mereka. Sebaliknya, menjadi girl’s girl berarti mampu merayakan keberhasilan perempuan lain tanpa menjadikannya alasan untuk merasa tertinggal, merangkul mereka untuk tumbuh bersama, dan tidak menjatuhkan mereka demi merasa lebih unggul.

Pada akhirnya, solidaritas bukan tentang selalu menyetujui satu sama lain, melainkan tentang membangun hubungan yang memungkinkan perempuan untuk berkembang tanpa harus saling merugikan. Bagaimana menurutmu, Beauties?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE