Mengenal Museum Radya Pustaka di Solo, Museum Tertua di Indonesia

Pratitis Nur Kanariyati | Beautynesia
Senin, 12 Oct 2026 09:00 WIB
Daya Tarik Museum Radya Pustaka
Museum Radya Pustaka/Foto: TikTok.com/racundolan

Jalan-jalan ke Solo, jangan lupa mampir ke museum Radya Pustaka. Mungkin, museum ini tidak sefamiliar museum Fatahillah, tetapi dia punya nilai sejarah yang tinggi.

Radya Pustaka merupakan museum tertua di Indonesia yang berdiri sejak 28 Oktober 1890. Ia berada di kawasan Jalan Slamet Riyadi, tidak jauh dari Taman Sriwedari.

Lebih dari 100 tahun berdiri, museum Radya Pustaka menyimpan banyak koleksi peninggalan sejarah. Selain itu, museum ini pernah melakukan relokasi sebelum akhirnya menetap di jalur protokol Kota Solo.

Radya Pustaka Dipelopori oleh Kaum Pribumi

Museum Radya Pustaka/Foto: TikTok.com/masgi00

Selain tertua, museum ini juga termasuk museum pertama di Indonesia yang dipelopori oleh kaum pribumi. Ia adalah Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV, seorang patih di Keraton Kasunanan Surakarta.

Menurut penuturan salah satu pengelola museum, Radya Pustaka awal mulanya tidak berlokasi di Jalan Slamet Riyadi, melainkan Balai Pantiwibawan Kepatihan Surakarta.

“Pada awalnya, museum itu (Radya Pustaka) berada di kompleks Kepatihan,” kata Totok Yasmiran, seperti dikutip dari detikcom.

Sekitar Januari 1913, bangunan tersebut baru dipindahkan ke Loji Kadipolo, lokasi yang ditempati hingga saat ini.

Sebelum menjadi relokasi Radya Pustaka, Loji Kadipolo merupakan bekas kediaman warga Belanda, Johannes Busselaar. Kemudian, rumah tersebut dibeli oleh Sri Susuhunan Pakubuwono X, yang akhirnya diserahkan pada Pamehan Radya Pustaka untuk dijadikan museum.

Sebelum Jadi Museum, Radya Pustaka Merupakan Pusat Pembelajaran Budaya

Museum Radya Pustaka/Foto: detikcom/Agung Mardika

Radya Pustaka berasal dari kata “Radya” yang berarti keraton, dan “Pustaka” berarti perpustakaan. Maka secara harfiah, Radya Pustaka merupakan perpustakaan keraton.

Lembaga ini awalnya berfungsi sebagai pusat bagi masyarakat untuk belajar bahasa Jawa, gamelan, hingga seni membuat keris dan wayang kulit. Ini menjadikannya salah satu pusat pembelajaran budaya paling berpengaruh pada masanya.

Lambat laun, tempat ini tidak hanya sebagai pusat pembelajaran dan ruang arsip, tetapi juga penyimpanan benda-benda penting lain yang berhubungan dengan keraton. Berlatar dari situlah, perlahan Radya Pustaka beralih fungsi menjadi museum.

Daya Tarik Museum Radya Pustaka

Museum Radya Pustaka/Foto: TikTok.com/racundolan

Banyak hal yang menarik dari museum tua ini. Tata ruangnya berbeda dari museum pada umumnya. Hal ini karena bangunannya merupakan bekas rumah hunian dengan nuansa Belanda.

Sampai saat ini, bentuk bangunan asli tetap dipertahankan dan hanya beberapa bagian yang diubah, seperti menghilangkan kamar mandi agar ruang pameran lebih luas.

Berikut beberapa daya tarik yang ada di dalam museum Radya Pustaka Surakarta:

1. Patung Penggagas Museum Radya Pustaka dan Pujangga Surakarta

Saat menampakkan kaki di pelataran museum, kamu akan disambut oleh patung Ronggowarsito, sosok pujangga besar yang hidup di Surakarta pada abad ke-19. Sementara saat memasuki teras ruang depan, kamu akan menjumpai patung K.R.A Sosrodiningrat IV.

2. Canthik Perahu Rajamala

Dalam museum Radya Pustaka terdapat Canthik Perahu Rajamala. Canthik ini dibuat dari kayu jati yang berasal dari hutan Danalaya. Merujuk Instagram @museumradyapustakasurakarta, benda ini dibuat oleh putra Mahkota PB IV, yaitu Raden Mas Sugandhi (K.G.P.A.A Mangkunegara III) pada masa pemerintahan PB IV.

3. Satu Set Gamelan Slendro Pelog

Bukan sekadar gamelan, gamelan di Radya Pustaka merupakan peninggalan dari K.R.A Sosrodiningrat IV. Pada zaman dulu, gamelan ageng digunakan untuk kursus nabuh gamelan dan mengiringi kursus pedalangan yang diadakan museum.

4. Aneka Koleksi Wayang dan Arca Hindu-Buddha

Beragam aneka wayang ada di museum, misalnya wayang beber, wayang kulit, wayang gedhog gaya Madura dan Surakarta, hingga wayang Nang dari Thailand. Selain wayang, ada koleksi arca dan patung-patung peninggalan masa kerajaan Hindu-Buddha seperti arca Siwa dan Roro Jonggrang.

5. Koleksi Buku-Buku dan Serat Kuno

Museum ini mengoleksi hampir 400 buku Jawa kuno yang merupakan naskah hasil tulisan tangan Sansekerta dengan huruf Pallawa. Naskah yang berisi kekayaan budaya Jawa ini menceritakan tentang tata kehidupan dan cara berpikir masyarakat dalam menjalani hidup.

6. Hadiah Napoleon Bonaparte untuk Raja Jawa

Sekian dari koleksi unik yang ada di museum, beberapa di antaranya adalah vas merah dan kotak musik kuno hadiah Napoleon Bonaparte untuk Pakubuwana IV.

Selain yang disebutkan di atas, ada koleksi lain yang tidak kalah menarik, yaitu pakuwon atau petung (perhitungan) menggunakan sistem pertanggalan tradisional Jawa, dan sajian perangkat makan keramik Keraton Surakarta, Mangkunegaran, serta Eropa.

Lewat museum Radya Pustaka, kamu bisa belajar banyak tentang sejarah Solo melalui arsip, manuskrip kuno, dan benda-benda budaya yang menjadi saksi perjalanan panjang Keraton Surakarta.

Untuk dapat mengunjunginya, pastikan datang ke museum pada hari Selasa – Minggu pukul 8 pagi hingga 4 sore. Harga tiket masuk sekitar Rp10 ribu untuk umum dan Rp20 ribu untuk turis, dengan sistem pembayaran cashless.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE