Beauties, pernah mendengar istilah period poverty? Seperti yang dilansir dari National Library of Medicine, period poverty merupakan dilema kesehatan masyarakat global yang namanya masih terdengar awam di telinga masyarakat.
Kondisi ini digambarkan sebagai kurangnya akses terhadap produk menstruasi, pendidikan, dan fasilitas sanitasi. Singkatnya, period poverty berarti jutaan perempuan mengalami ketidakadilan dan kesenjangan akibat menstruasi.
Berdasarkan penelitian yang dikaji, terbukti banyak negara masih terkena stigma dan tabu menstruasi, kurangnya paparan terhadap kesehatan menstruasi dan pengelolaannya, kurangnya pendidikan tentang menstruasi, serta kurangnya akses terhadap produk dan fasilitas menstruasi.
Berikut beberapa hal yang perlu kamu ketahui tentang period poverty.
Lonjakan Persentase Period Poverty sejak Pandemi COVID-19
Ilustrasi/Foto: Freepik.com/evtyshok |
Sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat melaporkan bahwa pandemi COVID-19 memperburuk period poverty melalui rendahnya aksesibilitas dan keterjangkauan produk. Ditemukan bahwa 30 persen responden mengalami kesulitan mengakses produk menstruasi karena wajibnya karantina di rumah dan 18,5 persen kesulitan membeli produk menstruasi selama pandemi.
Di antara faktor-faktor tersebut, perempuan yang memiliki anak kecil lebih mungkin mengalami kesulitan mengakses produk menstruasi selama pandemi. Studi lain di Prancis menemukan bahwa perempuan yang mengalami menstruasi yang buruk juga memiliki masalah mental yang signifikan, seperti depresi dan kecemasan.