Sudah lebih dari satu tahun sejak pemerintahan Taliban, kehidupan pendidikan semakin ketat bagi akademisi di Afghanistan. Ini menjadi sangat sulit bagi cendikiawan dan siswa perempuan. Sejak Taliban merebut kekuasaan pada Agustus tahun lalu, negara tersebut telah mengalami krisis kemanusiaan.
Banyak warga Afghanistan yang tidak mendapatkan cukup makanan, ada konflik berkelanjutan antara Taliban dan kelompok saingan, serta wabah penyakit menular tersebar secara luas. Bagi siswa perempuan, mereka tidak bisa leluasa menerima pendidikan sejak Taliban mengambil alih negara mereka.
Berikut sederet larangan Taliban bagi pendidikan perempuan Afghanistan yang dilansir dari berbagai sumber.
Diskriminasi Gender
Baru-baru ini, Taliban mengeluarkan larangan bagi perempuan Afghanistan untuk mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Larangan yang dikeluarkan Taliban tersebut memicu kecaman dari dunia internasional.
Dikutip dari Aljazeera, sebelumnya Taliban mengumumkan pada 12 September tahun lalu bahwa perempuan dapat menghadiri universitas dengan pintu masuk dan ruang kelas yang dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. Mereka juga hanya boleh diajar oleh profesor perempuan atau pria tua.
Selain itu, mahasiswa perempuan hanya diperbolehkan mempelajari mata pelajaran tertentu. Beberapa mata pelajaran yang dilarang sama sekali meliputi ilmu kedokteran hewan, teknik, ekonomi, dan pertanian. Sementara jurnalisme sangat dibatasi, sebagaimana dilansir dari detikNews.
Seperti yang dilansir dari Nature, para peneliti mengatakan pemisahan ini telah menurunkan kualitas pendidikan, terutama bagi perempuan. Larangan ini juga berdampak pada pengajar perempuan, beberapa dari mereka mengatakan bahwa mereka dianiaya dan dipecat tanpa alasan yang masuk akal.
Dikutip dari NPR, sebagian besar anak perempuan dan perempuan muda dilarang masuk ke sekolah menengah sejak Taliban berkuasa pada Agustus tahun lalu. Penguasa baru Afghanistan membuka kembali aturan sekolah untuk anak laki-laki dan untuk anak perempuan hanya diperbolehkan sampai kelas 6 SD.
Lingkungan yang Membatasi
Mahasiswa perempuan Afghanistan yang pulang karena tidak diperbolehkan masuk universitas/Foto: Instagram.com/aljazeeraenglish |
Setelah berbulan-bulan ditutup, universitas negeri dibuka kembali pada bulan Februari dan Maret dengan persyaratan yang sangat berbeda. Namun berita terbaru, para penjaga bersenjata menghentikan ratusan mahasiswa perempuan memasuki universitas pada 21 Desember 2022, sehari setelah menteri pendidikan mengumumkan perintah menangguhkan pendidikan bagi perempuan sampai pemberitahuan lebih lanjut.
"Hilangnya kebebasan akademik seperti hidup di dalam sangkar," kata Ramin Mansoory, seorang sarjana hukum dan mantan penasihat pemerintah provinsi Afghanistan yang sekarang tinggal di Polandia. Tidak hanya itu, para dosen harus menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk mengajar. Banyak yang mengatakan gaji mereka dipotong lebih dari sepertiga dan tidak selalu dibayar tepat waktu.
"Rekan-rekan saya mengajar lebih banyak dari sebelumnya," kata Baktash Amini, seorang fisikiawan sekaligus koordinator Afghanistan untuk program Physics Without Frontiers. Amini juga seorang dosen di Universitas Kabul sampai pengambilalihan Taliban. Ia mengatakan bahwa institusi mereka memiliki anggota staf 20-40 persen lebih sedikit saat ini.