Selain Kartini, Ini 7 Tokoh Pahlawan Perempuan Indonesia yang Tak Kalah Inspiratif

Belinda Safitri | Beautynesia
Jumat, 14 Aug 2026 12:00 WIB
Selain Kartini, Ini 7 Tokoh Pahlawan Perempuan Indonesia yang Tak Kalah Inspiratif
Tokoh pahlawan perempuan/ Foto: Instagram/lampaubercerita

Beauties, nama R.A. Kartini memang begitu lekat dengan perjuangan perempuan Indonesia, terutama dalam bidang pendidikan dan emansipasi. Namun, perjuangan perempuan di Nusantara tidak berhenti pada sosok Kartini saja karena banyak tokoh lain yang berani melawan keterbatasan pada zamannya.

Mereka datang dari latar belakang dan daerah yang berbeda. Ada yang mendirikan sekolah untuk perempuan, mengangkat senjata melawan penjajah, menyuarakan gagasan politik, hingga membangun organisasi untuk meningkatkan pendidikan perempuan. Dilansir dari Detik Edu, simak tokoh pahlawan perempuan Indonesia yang tak kalah inspiratif! 

1. Dewi Sartika

Dewi Sartika/ Foto: Dinas Kebudayaan DIY

Lahir di Bandung pada 1884, Dewi Sartika tumbuh dalam situasi keluarga yang tidak mudah. Kedua orang tuanya dibuang ke Ternate karena dianggap menentang Pemerintah Hindia Belanda, sementara Dewi dititipkan kepada pamannya, Patih Aria, di Cicalengka.

Pendidikan formal Dewi Sartika memang terbatas hingga sekolah dasar. Namun, keterbatasan tersebut tidak membuat kepeduliannya terhadap pendidikan perempuan ikut terhenti. Pada 1904, ia mendirikan Sekolah Istri dengan dukungan RAA Martanegara dan Den Hamer.

Sekolah tersebut awalnya hanya memiliki sekitar 20 murid dan kegiatan belajar dilakukan di salah satu ruangan Kantor Kepatihan Bandung. Para perempuan diajarkan membaca, menulis, berhitung, menjahit, menyulam, hingga pendidikan agama.

Perkembangannya pun cukup pesat. Pada 1910, Sekolah Istri berganti nama menjadi Sekolah Kautamaan Istri dan kemudian menjadi inspirasi bagi munculnya sekolah-sekolah perempuan di daerah lain. Ketika agresi militer terjadi pada masa Perang Kemerdekaan, kegiatan sekolah terhenti dan Dewi Sartika mengungsi ke Cineam, Jawa Barat. Ia kemudian meninggal dunia pada 1947.

2. Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien/ Foto: Kebudayaan Kota Lhokseumawe

Cut Nyak Dien lahir di Lampadang, Aceh, pada 1848. Namanya kemudian dikenal luas dalam sejarah perjuangan Indonesia karena keberaniannya terlibat langsung dalam perlawanan terhadap Belanda.

Pada 1880, Cut Nyak Dien menikah dengan Teuku Umar. Keduanya kemudian terlibat dalam perjuangan melawan Belanda dan berhasil melakukan sejumlah serangan yang memukul mundur pasukan kolonial.

Kematian Teuku Umar pada 1899 menjadi pukulan berat, tetapi tidak membuat Cut Nyak Dien berhenti berjuang. Justru setelah kehilangan sang suami, tekadnya untuk mengusir penjajah dari Aceh semakin kuat.

Namun, Belanda akhirnya berhasil menangkap Cut Nyak Dien pada 1905. Setahun kemudian ia diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat, karena dianggap membahayakan keamanan. Cut Nyak Dien meninggal dunia pada 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang.

3. Rasuna Said

Rasuna Said/ Foto: Ministry of Information of Indonesia via Wikimedia Commons

Hj. Rangkayo Rasuna Said merupakan tokoh perempuan yang berasal dari Maninjau, Sumatera Barat. Ia menempuh pendidikan di Pesantren Ar-Rasyidiyah kemudian melanjutkan pendidikan di Diniyah School Putri Padang Panjang.

Semangat Rasuna Said dalam memperjuangkan pendidikan perempuan sudah terlihat sejak berada di lingkungan pesantren. Ia bahkan pernah mengajar kaum perempuan dan ingin memasukkan pendidikan politik dalam kegiatan belajar-mengajar. Ketika gagasan tersebut tidak mendapat dukungan, ia memilih jalur perjuangan yang lebih luas.

Pada 1930, Rasuna Said ikut mendirikan Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI) di Bukittinggi. Ia aktif dalam pergerakan nasional dan dikenal berani menyampaikan kritik terhadap Pemerintahan Hindia Belanda melalui pidato maupun tulisan.

Keberaniannya membuat Rasuna Said sempat ditangkap pada 1932. Setelah bebas pada 1935, perjuangannya berlanjut di dunia pers. Ia menjadi pemimpin redaksi Majalah Raya dan Majalah Menara Puteri di Medan.

Cerita perjalanan Rasuna Said memperlihatkan bahwa perjuangan melawan penjajahan tidak selalu dilakukan melalui medan perang, Beauties. Kata-kata, pendidikan, organisasi, dan media juga menjadi alat untuk membangkitkan kesadaran masyarakat.

4. Maria Walanda Maramis

Maria Walanda Maramis/ Foto: Dinas Kebudayaan DIY

Maria Walanda Maramis lahir di Kema, Sulawesi Utara, pada 1872. Seperti banyak perempuan pada masa itu, kesempatan pendidikannya terbatas dan ia hanya diperbolehkan bersekolah hingga tingkat sekolah dasar.

Kondisi tersebut justru membuat Maria semakin peka terhadap keterbatasan yang dialami perempuan di sekitarnya. Ia kemudian berusaha membantu perempuan Minahasa agar memiliki kesempatan belajar dan mengejar cita-cita.

Maria juga mulai bergaul dengan kalangan terpelajar. Pada 1890, ia menikah dengan seorang guru bernama Joseph Frederick Calusung Walanda. Perjuangannya di bidang pendidikan perempuan kemudian diwujudkan melalui organisasi Percintaan Ibu kepada Anak Turunannya (PIKAT) yang didirikannya pada 1917.

PIKAT memberikan pendidikan kepada perempuan yang telah menyelesaikan sekolah dasar. Berkat kegigihan Maria, organisasi tersebut berkembang hingga ke berbagai wilayah, termasuk Pulau Jawa dan Kalimantan.

5. Nyi Ageng Serang

Nyi Ageng Serang/ Foto: CNN

Nyi Ageng Serang memiliki nama lahir Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edhi. Ia merupakan putri Pangeran Natapraja, penguasa Serang yang menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Mataram.

Setelah ayahnya meninggal dunia, Nyi Ageng Serang menggantikan kedudukannya. Ia dikenal memiliki hubungan dekat dengan rakyat dan turut melakukan perlawanan terhadap Belanda menggunakan strategi gerilya.

Ketika Perang Diponegoro berlangsung, Nyi Ageng Serang ikut bergabung dalam perjuangan melawan pasukan Belanda. Hal yang membuat kisahnya semakin luar biasa adalah usianya yang telah mencapai 73 tahun ketika ikut membantu pasukan Pangeran Diponegoro, Beauties. 

Meski berada di atas tandu, ia disebut tetap memberikan bantuan kepada pasukan dalam pertempuran selama sekitar tiga tahun. Nyi Ageng Serang meninggal dunia pada usia 86 tahun. Hingga akhir hayatnya, Serang tetap dikenal sebagai wilayah yang tidak berhasil sepenuhnya dikuasai Belanda.

6. Andi Depu

Andi Depu/ Foto: Buku Ibu Agung H A Depu Patriot Pembela Tanah Air

Andi Depu Maraddia Balanipa lahir di Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Ia merupakan putri bangsawan Mandar sekaligus istri Raja Balanipa.

Meski berada dalam lingkungan kerajaan, Andi Depu memilih jalan perjuangan yang tidak selalu sejalan dengan pemikiran suaminya. Ia secara tegas menentang kolonialisme Belanda dan mendukung gagasan kemerdekaan Indonesia.

Perjuangannya kemudian diwujudkan melalui pendirian kelaskaran Kebaktian Rahasia Islam Muda atau KRIS Muda. Gerakan tersebut lahir setelah Proklamasi Kemerdekaan sebagai kelanjutan dari pergerakan antikolonial yang sebelumnya digerakkan oleh Amman Wewang dan Ammana Pattowali. 

7. Martha Christina Tiahahu

Martha Christina Tiahahu/ Foto: Perpusnas

Martha Christina Tiahahu merupakan putri Kapitan Paulus Tiahahu dari Abubu, Maluku Tengah. Sejak remaja, ia telah menunjukkan keberanian dengan ikut mengangkat senjata melawan pasukan Belanda.

Pada 1817, Martha Christina Tiahahu ikut membantu pasukan Thomas Matulessy dalam Perang Pattimura. Keberaniannya bahkan dikenal di kalangan para pejuang yang terlibat dalam perlawanan di Maluku.

Namun, sebuah tragedi terjadi dalam pertempuran di Desa Wulas, wilayah tenggara Pulau Saparua. Ayah Martha tertembak dan meninggal dunia. Ketika berusaha menyelamatkan sang ayah, Martha justru tertangkap oleh Belanda kemudian diasingkan ke Pulau Jawa.

Perjuangan Martha Christina Tiahahu berakhir dalam perjalanan. Ia meninggal dunia di atas kapal Eversten pada 2 Januari 1818. Meski usianya masih sangat muda, keberaniannya menjadikan Martha Christina Tiahahu sebagai salah satu simbol perjuangan perempuan Maluku melawan kolonialisme.

Jadi, itulah beberapa tokoh pahlawan perempuan Indonesia yang tak kalah inspiratif selain R.A. Kartini. Siapa tokoh yang kisahnya paling menginspirasi kamu, Beauties? 

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE