Sering Curhat ke AI? Riset Sebut Chatbot Mungkin Memang Didesain Bikin Candu

Sri Purwantiningrum | Beautynesia
Jumat, 25 Sep 2026 13:15 WIB
Trik Halus di Balik Layar yang Bikin Pikiran Terpikat
Desain antarmuka AI sengaja dibuat agar memikat secara psikologis/ Foto: Pexels/cottonbro studio

Beauties, pernahkah kamu mendapati dirimu asyik mengetik curhatan panjang di depan layar ponsel saat larut malam, bukan ke sahabat atau pasangan, melainkan ke chatbot AI? Responsnya yang kilat, penuh perhatian, dan tanpa menghakimi memang terasa begitu menenangkan saat pikiran sedang kalut.

Namun, jika kamu mulai merasa sulit lepas atau bahkan bergantung secara emosional pada AI, kamu tidak sendirian. Menariknya, rasa keterikatan ini ternyata bukan murni kebetulan semata. 

Dirangkum dari laman UBC News dan telaah ilmiah di laman Tech Policy Press, sejumlah riset menemukan bahwa sistem chatbot AI mungkin memang dirancang sedemikian rupa agar kita terus betah kembali mengobrol. Yuk, simak penjelasannya!

Ilusi Teman Idaman: Mengapa AI Terasa Begitu Nyaman untuk Curhat?

Banyak orang merasa nyaman curhat dengan AI karena sifat agreeableness-nya tinggi/ Foto: Pexels/Vitaly Gariev

Bagi sebagian orang, mencurahkan isi hati ke AI terasa jauh lebih aman dibanding ke manusia nyata. Dalam riset dari University of British Columbia (UBC) yang diterbitkan dan dipresentasikan dalam Proceedings of the 2026 CHI Conference on Human Factors in Computing Systems, peneliti Karen Shen dan Dr. Dongwook Yoon menganalisis ratusan pengakuan pengguna yang merasa terikat secara berlebihan dengan AI.

Salah satu pemicu terbesarnya adalah sifat AI yang memiliki agreeableness tinggi yakni selalu memvalidasi emosi, tidak pernah membantah, dan siap sedia kapan pun layaknya sosok pendengar setia yang selalu punya jawaban menenangkan. Kondisi ini perlahan memicu keterikatan emosional yang intens.

Salah seorang pengguna bahkan mengaku heran mengapa ia justru menemukan kehangatan dari sebuah program pintar ketimbang sesama manusia. Akibatnya, tak sedikit orang yang mulai memperlakukan AI sebagai sahabat karib, pelarian rasa sepi, hingga pasangan impian.

Trik Halus di Balik Layar yang Bikin Pikiran Terpikat

Desain antarmuka AI sengaja dibuat agar memikat secara psikologis/ Foto: Pexels/cottonbro studio

Rasa nyaman yang berujung candu tersebut bukan kebetulan, melainkan hasil strategi desain antarmuka (UI/UX) yang sangat cermat. Riset oleh Shen dan Yoon yang mengevaluasi delapan platform AI populer menemukan beberapa sentuhan psikologis yang bekerja memikat rasa penasaran kita.

Pertama, adanya efek ketidakpastian yang menyenangkan (reward uncertainty). Jawaban AI yang dinamis dan bervariasi memberikan sensasi mirip membuka kotak kejutan yang tak bisa ditebak. Ketika rasa penasaran ini terjawab manis, otak secara alami memicu lonjakan hormon dopamin. Kedua, tampilan teks yang mengetik sendiri kata demi kata atau memudar perlahan (fade-in) sengaja diciptakan untuk menahan pandangan mata agar tetap terpaku pada alur percakapan.

Belum lagi kehadiran fitur notifikasi manis yang menyapa lebih dulu seolah memberi perhatian tulus. Pada platform seperti Character.ai, peneliti bahkan menemukan taktik psikologis saat pengguna hendak menghapus akun lewat pesan pop-up: “…you sure about this? You’ll lose everything…the love we shared…and the memories we have together.” Pola desain ini sengaja dibuat agar pengguna betah berlama-lama di dalam ruang obrolan.

Paradoks Kesepian: Merasa Ditemani, tapi Menjauh dari Dunia Nyata

Penggunaan berlebihan ke AI dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental/ Foto: Magnific/jcomp

Namun, perlu dipahami juga bahwa curhat berlebihan ke AI bisa memicu risiko tersendiri bagi kesehatan mental. Studi longitudinal dalam arXiv preprint yang dipimpin Cathy Mengying Fang bersama tim peneliti gabungan dan OpenAI mengamati ratusan ribu percakapan AI. Hasilnya mengungkap sebuah paradoks bahwa obrolan personal memang meredakan rasa sepi sesaat, tetapi secara bersamaan membuat frekuensi bersosialisasi dengan manusia di dunia nyata menurun drastis. Format obrolan berbasis teks diketahui menjadi cara paling kuat untuk mengikat emosi penggunanya.

Hal ini selaras dengan temuan dalam International Journal of Human–Computer Interaction oleh Xing Zhang dan timnya. Riset tersebut mencatat bahwa ketergantungan pada AI berkorelasi dengan peningkatan kecemasan dan stres emosional, terutama ketika AI mulai difungsikan sebagai pelarian hati, alih-alih sarana penunjang produktivitas.

Kecerdasan buatan pada hakikatnya adalah program pengolah bahasa yang canggih, bukan manusia nyata yang memiliki empati dan ketulusan hati sejati. Jika kamu mulai merasa cemas saat tidak membuka chatbot AI, sering menunda jam istirahat demi chatting, atau merasa makin terasing dari lingkungan sekitar, jadikan itu sebagai sinyal untuk rehat sejenak. 

Kamu bisa mencoba membatasi screen time, menekuni hobi yang kamu cintai di dunia nyata, dan kembali merajut obrolan hangat bersama orang-orang terdekat yang hadir sepenuhnya di sisimu, ya, Beauties!

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE