Sering Disalahartikan, Merasa Gugup saat Bersama Pasangan Bisa Jadi Tanda Red Flag Menurut Psikolog

Nadya Quamila | Beautynesia
Selasa, 03 Nov 2026 19:30 WIB
Cara Membedakan antara Chemistry yang Sebenarnya dengan Rasa Cemas
Cara Membedakan antara Chemistry yang Sebenarnya dengan Rasa Cemas/Foto: Pexels.com

Jantung berdebar kencang, ada sensasi mulas di perut, serta rasa gugup saat bertemu si doi? Di tahap pendekatan atau awal menjalin hubungan, kamu mungkin sering merasakan beberapa kondisi ini. Film, lagu, dan novel yang selama ini kita konsumsi punya definisi "butterfly in my stomach" ketika kita jatuh cinta dan merujuk pada situasi tersebut.

Memang betul pasti ada rasa gugup ketika kita berhadapan atau berdekatan dengan orang yang kita sukai. Kita ingin tampil menjadi versi diri terbaik sembari menebak-nebak apakah si dia juga punya perasaan yang sama dengan kita.

Namun, menurut psikolog, bisa jadi seseorang salah mengartikan bahwa rasa gugup dan cemas itu sebagai rasa suka atau perasaan cinta yang mendalam, Beauties. 

Ketika kamu menghabiskan waktu berkencan dengan terus menganalisis setiap kata yang ia ucapkan, merasa harus berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan, atau kerap mempertanyakan posisimu dalam hubungan tersebut, tubuh sebenarnya sedang berada dalam kondisi siaga penuh.

Meskipun wajar jika merasa sedikit gugup atau berdebar saat kencan pertama, kecemasan yang terus-menerus muncul di awal masa berkencan biasanya merupakan tanda adanya ketidakpastian, ketidakstabilan emosional, atau kurangnya rasa aman yang mendasar dalam dinamika hubungan tersebut. Yuk, simak penjelasan psikolog soal alasan mengapa kecemasan sering kali disalahartikan sebagai chemistry.

Bingung Antara Kecemasan dan Chemistry, Ini Kata Psikolog

Meskipun wajar jika merasa sedikit gugup atau berdebar saat kencan pertama, kecemasan yang terus-menerus muncul di awal masa berkencan biasanya merupakan tanda adanya ketidakpastian, ketidakstabilan emosional, atau kurangnya rasa aman yang mendasar dalam dinamika hubungan tersebut.

Bingung Antara Kecemasan dan Chemistry, Ini Kata Psikolog/Foto: Pexels.com

Secara biologis, gejala fisik antara kecemasan dan kegembiraan dalam hubungan asmara sangatlah mirip. Kedua kondisi ini memicu pelepasan adrenalin dan kortisol, yang menyebabkan jantung berdegup kencang, telapak tangan berkeringat, dan lonjakan energi.

Ketika kita terpikat terhadap seseorang yang perhatiannya susah diprediksi atau sulit didapatkan, otak mengalami intermittent reinforcement, yaitu prinsip psikologis dan perilaku di mana imbalan atau hasil positif hanya diberikan sesekali, dengan pola yang tidak dapat diprediksi. Dalam konteks hubungan, perhatian, kasih sayang, atau sikap manis datang secara tiba-tiba. Akibatnya, momen manis jadi terasa begitu menyenangkan dan luar biasa karena sebelumnya telah mengalami momen yang diwarnai kecemasan dan ketidakpastian.

“Banyak orang keliru menganggap kecemasan sebagai chemistry,” jelas Dr. Brittany McGeehan, PhD, seorang psikolog berlisensi, kepada Parade. “Jika setelah menghabiskan waktu bersama, Anda justru merasa tidak yakin, terlalu menganalisis apa yang telah Anda katakan, atau merasa kehilangan koneksi dengan diri sendiri, itu adalah sebuah tanda bahaya atau red flag.”

Alih-alih menganggap rasa gelisah yang terus-menerus sebagai pertanda bahwa kamu telah bertemu dengan belahan jiwa, Dr. McGeehan menekankan bahwa hubungan emosional yang sehat seharusnya menghadirkan rasa tenang, jelas, dan nyaman, bukan kebingungan yang tiada henti.

Ketika seseorang benar-benar aman dan terbuka secara emosional, kita tidak perlu berpura-pura, mencoba menafsirkan sinyal yang membingungkan, atau terus-menerus mempertanyakan nilai diri hanya untuk mempertahankan minat mereka.

Ketika kita mengabaikan sinyal-sinyal kegelisahan yang terus muncul dari dalam diri, kita sebenarnya sedang mengesampingkan naluri internal diri sendiri, Beauties. Seiring berjalannya waktu, sikap meremehkan rasa tidak nyaman tersebut akan menciptakan kondisi di mana kita berhenti memercayai diri sendiri, yang pada akhirnya berujung pada kelelahan emosional dan kecemasan dalam hubungan.

Cara Membedakan antara Chemistry yang Sebenarnya dengan Rasa Cemas

Meskipun wajar jika merasa sedikit gugup atau berdebar saat kencan pertama, kecemasan yang terus-menerus muncul di awal masa berkencan biasanya merupakan tanda adanya ketidakpastian, ketidakstabilan emosional, atau kurangnya rasa aman yang mendasar dalam dinamika hubungan tersebut.

Cara Membedakan antara Chemistry yang Sebenarnya dengan Rasa Cemas/Foto: Pexels.com

Beauties, jika kamu curiga bahwa "chemistry" yang kamu rasakan sebenarnya merupakan respons kecemasan, para ahli kesehatan mental menyarankan untuk mundur sejenak dan evaluasi bagaimana hubungan tersebut memengaruhi kesejahteraanmu sehari-hari.

Chemistry yang sesungguhnya akan membuat kamu merasa lebih stabil, tenang, dan bahagia. Sementara itu, hubungan yang diwarnai rasa cemas justru membuat kamu mudah goyah dan terlalu terpaku pada reaksi pasangan.

Untuk mendapatkan kejelasan, cobalah menerapkan strategi yang disarankan oleh para ahli berikut ini:

Coba Bahas Topik yang Membuatmu Tidak Yakin

Dr. McGeehan menyarankan untuk membahas hal-hal yang membuat kamu merasa tidak yakin guna melihat bagaimana pasangan merespons. Sebagai contoh, kamu bisa mengatakan, "Saat kamu bilang ingin hubungan eksklusif tapi tidak ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama, aku jadi bingung. Bisa jelaskan lebih lanjut soal itu?"

Pasangan yang sehat dan green flag akan merespons dengan keterbukaan dan validasi, sedangkan pasangan yang secara emosional tidak aman mungkin akan mengelak atau justru membuat kamu merasa bersalah karena telah bertanya.

Perhatikan Kondisi dan Energi Setelah Berkencan

Amati bagaimana perasaanmu setelah menghabiskan waktu bersama si dia. Apakah kamu merasa lebih berenergi, tenang, dan mantap dengan jati diri? Atau justru merasa energi terkuras, cenderung mengkritik diri sendiri, dan sangat membutuhkan kepastian dari pasangan?

Beri Jeda Sebelum Bereaksi

Alih-alih terburu-buru mencari pembenaran atas perilaku mereka atau langsung melontarkan konfrontasi, luangkan waktu untuk menulis jurnal atau merekam catatan suara mengenai pengalamanmu. Mengumpulkan data seiring berjalannya waktu akan membantu kamu melihat pola dengan lebih jelas, sehingga kamu tidak lagi menyangkal perasaan diri sendiri yang sebenarnya valid.

Gunakan pernyataan "saya" (I-statements) saat melakukan percakapan sulit: Jika kamu perlu membahas batasan atau pola perilaku yang mengganggu, bicarakanlah mengenai perilaku spesifik tersebut, bukan menyerang karakter orangnya. Sampaikan pemikiranmu berdasarkan apa yang kamu amati, bagaimana perasaanmu karenanya, dan apa yang kamu butuhkan ke depannya.

Dengan mengalihkan fokus dari pertanyaan "Apakah dia menyukaiku?" menjadi "Apakah aku merasa aman, dipahami, dan rileks saat bersamanya?", kamu telah memberdayakan diri untuk memutus siklus hubungan yang toksik dan memilih hubungan yang dibangun di atas kepercayaan tulus serta rasa damai.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE