Sering Mengarang Cerita, Kenali Apa Itu Mythomania Menurut Psikolog

Natasha Riyandani | Beautynesia
Jumat, 06 Nov 2026 15:15 WIB
Penyebab Terjadinya Sindrom Mythomania
Ilustrasi mythomania/ Foto: Magnific.com/mego-studio

Beauties mungkin pernah bertemu seseorang, atau bahkan memiliki teman yang sering menceritakan sesuatu namun kesannya seperti berbohong? Bisa jadi dia adalah seorang pembohong patologis (pathological lying), atau disebut juga mythomania.

Gangguan psikologis ini membuat seseorang berbohong secara terus-menerus tanpa alasan yang jelas. Mereka sering kali mengarang cerita serta membuatnya terdengar begitu dramatis dan tampak nyata agar orang-orang percaya pada kebohongan mereka sendiri.

Sayangnya, kondisi ini sering kali tidak disadari penderitanya. Lantas, seperti apa sindrom mythomania menurut psikolog? Dilansir dari Yeditepe University Hospitals, berikut rangkuman informasinya. 

Apa Itu Mythomania?

Ilustrasi mythomania/ Foto: Magnific.com/magnific

Mythomania, atau juga dikenal sebagai gangguan kebohongan patologis, di mana seseorang memiliki kecenderungan yang tak terkendali untuk berbohong terus-menerus, bahkan tanpa keuntungan yang nyata sekali pun.

Orang seperti ini cenderung mengarang cerita karena ingin menarik perhatian atau merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri saat berbohong. Mereka sering menceritakan kisah dramatis dan penuh detail, sampai-sampai bisa percaya dengan kebohongan mereka sendiri.

Kondisi ini dapat berkembang karena faktor-faktor seperti gangguan kepribadian, trauma, kebutuhan akan perhatian, atau perasaan rendah diri.

Penyebab Terjadinya Sindrom Mythomania

Ilustrasi mythomania/ Foto: Magnific.com/mego-studio

Belum diketahui secara pasti penyebab mythomania pada seseorang. Namun, sejumlah faktor seperti keadaan psikologi individu, trauma masa lalu, tekanan sosial atau keluarga, hingga kebutuhan akan perhatian dan validasi yang tak terpenuhi bisa memicunya.

Selain itu, mythomania bukanlah penyakit yang berdiri sendiri, sehingga sering dikaitkan dengan gangguan kepribadian seperti narcissistic personality disorder (NPD) atau borderline personality disorder (BPD).

Para pembohong patologis cenderung menormalisasi perilaku mereka sebagai bagian dari identitas diri. Mereka menggunakannya untuk mendapatkan penerimaan atau mencapai status tertentu dalam masyarakat.

Ciri Orang Mengalami Mythomania

Ilustrasi mythomania/ Foto: Magnific.com/katemagostar

Orang yang mengalami mythomania sering berbohong dalam kehidupan sehari-hari mereka, menyebabkan distorsi persepsi realitas. Hal ini dilakukan untuk membuat diri mereka terlihat lebih baik atau sekedar menarik perhatian orang lain, sehingga memilih untuk mengarang cerita.

Kebohongan atau “cerita palsu” yang diceritakan pengidap mythomania sebenarnya bisa diketahui hanya dengan mendengarnya. Mereka mungkin berbohong tentang hal-hal sepele, seperti tempat-tempat yang pernah dikunjungi atau apa yang telah mereka makan.

Berikut ini beberapa ciri mythomania yang sering muncul, di antaranya:

  1. Kebohongan yang timbul akibat dorongan tak terkendali tanpa alasan yang jelas dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Kisah yang dibuat sangat rinci, dramatis, bahkan kadang terdengar sangat luar biasa dialami seseorang.
  3. Penderita biasanya berperan sebagai karakter utama, antara “penyelamat” atau “korban” dalam cerita mereka.
  4. Tidak merasa bersalah atau malu saat kebohongannya terungkap.
  5. Ketika dibantah, mereka justru justru mengubah narasi dengan kebohongan yang lain.

Dampak Sindrom Mythomania

Ilustrasi mythomania/ Foto: Magnific.com/magnific

Pembohong patologis menganggap berbohong sebagai hal yang normal, sehingga mereka mempercayai kebohongannya sendiri. Mereka sering melebih-lebihkan, mendramatisir, atau membesar-besarkan ceritanya dan memperlakukannya sebagai hal yang wajar tanpa mengakui bahwa itu salah.

Mereka cenderung berbohong untuk menutupi kegagalan dalam kehidupan mereka, baik profesional atau pribadi, dan menghindari tanggung jawab atas kerugian yang disebabkan dari kebohongannya tersebut.

Misalnya, hubungan baik bisa rusak, reputasi hancur, dan penderita sendiri bisa mengalami stres emosional karena harus terus menjaga kebohongannya tersebut.

Apakah Mythomania Bisa Diatasi?

Ilustrasi berobat ke psikolog/ Foto: Magnific.com/magnific

Meskipun gangguan berbohong patologis dapat diobati, orang yang mengalami mythomania harus lebih dahulu menyadari kondisinya dan menginginkan pengobatan. Belajarlah berkata jujur secara perlahan dan memahami konsekuensi dari setiap ucapan.

Dilansir dari Mentes Abiertas Psicologia, mythomania bisa juga diobati dengan melakukan sejumlah terapi seperti cognitive behavioral theraphy (CBT) dan dialetical behavioral therapy (DBT) dapat membantu mengubah pola pikir serta menekan dorongan untuk berbohong.

Selain itu, terapi keluarga atau kelompok juga penting untuk membangun kesadaran dan memberi dukungan sosial. Jika mythomania berkaitan dengan gangguan kepribadian, dokter/psikolog mungkin akan meresepkan obat-obatan tertentu seperti antidepresan atau anti-kecemasan.

So, mythomania bukan sekedar “hobi bohong” saja, melainkan kondisi psikologis serius yang perlu mendapatkan bantuan profesional. Jangan ragu untuk berobat keahlinya, jika kamu atau orang di sekitarmu menunjukkan tanda-tanda seperti di atas ya, Beauties!

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE