4 Mitos tentang Kesehatan Mental yang Masih Banyak Dipercaya

Florence Febriani Susanto | Beautynesia
Sabtu, 10 Oct 2026 10:30 WIB
Masalah Mental pada Remaja Hanya karena Mood Swing
Mood Swing Jadi Penyebab Masalah Mental/Foto: Magnific

Setiap 10 Oktober, dunia memperingati Hari Kesehatan Mental atau World Mental Health Day. Momen ini menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental sekaligus mendorong lebih banyak dukungan bagi orang yang membutuhkannya.

Namun, membicarakan kesehatan mental tidak cukup hanya dengan mengetahui istilahnya. Masih ada banyak anggapan yang sekilas terdengar masuk akal, tetapi justru bisa membuat seseorang salah memahami kondisi mental. Yuk, Beauties, kita cek beberapa mitos tentang kesehatan mental yang masih sering dipercaya dilansir dari UNICEF!

Masalah Mental Berarti Seseorang Memiliki Kecerdasan Rendah

Orang dengan Masalah Mental Punya Kecerdasan Rendah

Kalau ada seseorang yang mengalami masalah mental, apakah itu berarti ia kurang pintar? Jawabannya tentu tidak. Kesehatan mental dan kecerdasan merupakan dua hal yang berbeda.

Masalah kesehatan mental dapat dialami siapa saja, terlepas dari tingkat kecerdasan, kondisi ekonomi, pekerjaan, maupun lingkungan sosialnya. Jadi, seseorang yang mengalami gangguan mental tidak otomatis memiliki kemampuan berpikir yang lebih rendah.

Anggapan seperti ini justru bisa membuat seseorang semakin enggan mencari bantuan. Mereka mungkin takut dicap berbeda atau dianggap tidak mampu oleh orang lain.

Padahal, meminta bantuan ketika sedang menghadapi masalah bukan tanda seseorang kurang mampu. Mengenali kondisi diri dan mencari dukungan justru merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan mental.

Masalah Mental pada Remaja Hanya karena Mood Swing

Mood Swing Jadi Penyebab Masalah Mental/Foto: Magnific

Masa remaja memang penuh perubahan. Ada hari ketika seseorang sangat bersemangat, lalu keesokan harinya memilih diam atau mudah tersinggung. Karena itu, masalah kesehatan mental pada remaja terkadang dianggap hanya sebagai mood swing atau mencari perhatian.

Padahal, menurut WHO, sekitar 14 persen remaja di dunia mengalami masalah kesehatan mental. Bahkan, sekitar setengah dari seluruh kondisi kesehatan mental mulai muncul sebelum seseorang berusia 14 tahun.

Artinya, perubahan perilaku yang berlangsung terus-menerus tidak langsung dianggap sebagai drama remaja. Kesulitan berkonsentrasi, menarik diri dari lingkungan, perubahan pola tidur, atau perubahan emosi yang mengganggu aktivitas sehari-hari juga perlu diperhatikan.

Bukan berarti setiap perubahan emosi adalah tanda adanya gangguan mental. Namun, memberikan ruang bagi remaja untuk bercerita dan mendapatkan dukungan tetap penting agar mereka tidak merasa harus menghadapi semuanya sendirian.

Tidak Ada yang Bisa Dilakukan untuk Melindungi Diri dari Masalah Mental

Masalah Kesehatan Mental Tak Bisa Dicegah/Foto: Magnific

Masalah kesehatan mental memang tidak selalu bisa dicegah sepenuhnya. Namun, bukan berarti tidak ada hal yang dapat dilakukan untuk menjaga dan mendukung kesehatan mental.

Berbagai faktor perlindungan dapat membantu seseorang menghadapi tekanan dengan lebih baik. WHO menyebutkan pentingnya keterampilan sosial dan emosional, dukungan sejak dini, hubungan keluarga yang hangat, serta lingkungan sekolah yang positif.

Pola tidur yang sehat juga menjadi bagian penting. Begitu pula dengan keberadaan orang-orang yang bisa memberikan rasa aman ketika seseorang sedang menghadapi masa sulit.

Menariknya, resilience atau kemampuan untuk bangkit juga tidak berdiri dari satu faktor saja. Kemampuan tersebut terbentuk dari kombinasi berbagai faktor perlindungan yang saling mendukung.

Jadi, menjaga kesehatan mental bukan berarti harus menunggu sampai muncul masalah besar. Kebiasaan sehari-hari dan lingkungan yang suportif juga punya peran dalam membantu seseorang menghadapi berbagai tantangan.

Memiliki Masalah Mental Berarti Seseorang Kurang Kuat

Memiliki Masalah Mental Berarti Kurang Kuat/Foto: Magnific

Ada anggapan bahwa seseorang yang kuat seharusnya mampu menghadapi semua masalah sendirian. Karena itu, ketika seseorang mengalami masalah mental, ia terkadang dianggap kurang kuat atau kurang mampu mengendalikan dirinya.

Padahal, kondisi kesehatan mental bukan sesuatu yang dipilih seseorang. Siapa pun dapat mengalaminya, termasuk orang yang terlihat sangat mandiri dan mampu menghadapi berbagai tekanan.

Mencari bantuan juga bukan berarti menyerah. Justru, mengakui bahwa diri sendiri membutuhkan dukungan membutuhkan keberanian untuk menghadapi kondisi yang sedang dialami.

Karena itu, penting untuk berhenti melihat kesehatan mental hanya dari seberapa kuat seseorang terlihat dari luar. Seseorang bisa saja tetap menjalani aktivitas seperti biasa sambil menghadapi sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.

Momentum Hari Kesehatan Mental Sedunia setiap 10 Oktober dapat menjadi pengingat bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Semakin banyak mitos yang diluruskan, semakin terbuka pula ruang bagi orang untuk memahami, bercerita, dan mencari bantuan tanpa merasa dihakimi.

Kalau kamu sedang mengalami hari yang sulit, jangan ragu untuk bercerita, ya, Beauties!

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.