5 Faktor yang Dapat Meningkatkan Risiko Kanker Payudara

Florence Febriani Susanto | Beautynesia
Kamis, 22 Oct 2026 07:00 WIB
Memiliki Riwayat Kanker Payudara atau Ovarium dalam Keluarga
Faktor Genetik/Foto: Magnific

Risiko kanker payudara menjadi salah satu hal yang penting diperhatikan, terutama saat World Breast Cancer Awareness Month yang diperingati setiap Oktober. Momen ini bisa menjadi pengingat bagi kita untuk lebih mengenali kesehatan payudara, termasuk memahami berbagai faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kanker payudara.

Beauties, perlu diingat bahwa memiliki satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti seseorang pasti akan terkena kanker payudara. Sebaliknya, ada pula orang yang didiagnosis meskipun tidak memiliki faktor risiko yang jelas.

Meski begitu, mengenali faktor risikonya tetap penting. Dengan begitu, kamu bisa lebih memahami kondisi tubuh dan mendiskusikan langkah pencegahan maupun pemeriksaan yang sesuai dengan tenaga kesehatan.

Lantas, apa saja faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker payudara? Dilansir dari CDC, ini daftarnya!

Memiliki Riwayat Kanker Payudara atau Ovarium dalam Keluarga

Faktor Genetik/Foto: Magnific

Memiliki anggota keluarga yang pernah mengalami kanker payudara dapat meningkatkan risiko seseorang. Risikonya dapat lebih tinggi jika ibu, saudara perempuan, atau anak perempuan pernah didiagnosis kanker payudara.

Namun, riwayat keluarga tidak hanya berasal dari pihak ibu. Riwayat kanker payudara pada beberapa anggota keluarga dari pihak ayah juga perlu diperhatikan.

Jadi, Beauties, jangan hanya mengingat riwayat penyakit dari satu sisi keluarga. Kalau ada anggota keluarga yang pernah mengalami kanker payudara atau ovarium, informasi tersebut sebaiknya disampaikan kepada dokter.

Jarang Melakukan Aktivitas Fisik

Malas Olahraga/Foto: Magnific

Kapan terakhir kali kamu benar-benar meluangkan waktu untuk bergerak, Beauties? Kalau sebagian besar aktivitas sehari-hari lebih banyak dilakukan sambil duduk, faktor ini mungkin perlu mulai diperhatikan.

Perempuan yang kurang aktif secara fisik memiliki risiko kanker payudara yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang rutin melakukan aktivitas fisik. Karena itu, menjaga tubuh tetap aktif menjadi salah satu bagian dari kebiasaan hidup yang dapat mendukung kesehatan secara keseluruhan.

Tidak harus selalu berupa olahraga dengan intensitas tinggi. Aktivitas fisik yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan tubuh dapat menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.

Mengalami Kelebihan Berat Badan atau Obesitas Setelah Menopause

Mengalami Obesitas/Foto: Magnific

Perubahan tubuh setelah menopause memang bisa terasa berbeda. Salah satunya adalah perubahan berat badan dan komposisi tubuh yang dapat terjadi seiring bertambahnya usia.

Pada perempuan yang sudah mengalami menopause, kelebihan berat badan atau obesitas berkaitan dengan risiko kanker payudara yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki berat badan dalam kisaran sehat.

Karena itu, menjaga pola makan seimbang dan tetap aktif bergerak bukan hanya berkaitan dengan penampilan. Kebiasaan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan dalam jangka panjang.

Menggunakan Terapi atau Kontrasepsi Hormonal Tertentu

Menggunakan Terapi Tertentu/Foto: Magnific

Hormon juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika membahas risiko kanker payudara. Terapi penggantian hormon atau hormone replacement therapy (HRT) yang mengandung estrogen dan progesteron selama menopause dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

Namun, risikonya tidak sama untuk setiap perempuan. Jenis terapi, durasi penggunaan, serta kondisi kesehatan masing-masing dapat menjadi pertimbangan.

Beberapa jenis pil kontrasepsi juga dapat mempengaruhi risiko kanker payudara. Karena itu, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan atau mengubah terapi hormonal. Dokter dapat membantu mempertimbangkan manfaat dan risikonya berdasarkan kondisi masing-masing.

Memiliki Riwayat Reproduksi Tertentu

Memiliki Riwayat Reproduksi Tertentu/Foto: Magnific

Riwayat reproduksi juga menjadi salah satu hal yang dapat mempengaruhi risiko kanker payudara. Beberapa kondisi yang berkaitan dengan peningkatan risiko antara lain mengalami kehamilan pertama setelah usia 30 tahun, tidak pernah mengalami kehamilan cukup bulan, serta tidak menyusui.

Namun, faktor ini tentu tidak bisa dilihat secara terpisah dari kondisi seseorang secara keseluruhan. Setiap perempuan memiliki perjalanan reproduksi yang berbeda, sehingga informasi tersebut sebaiknya dipahami sebagai bagian dari penilaian risiko, bukan sebagai penentu seseorang pasti mengalami kanker.

Memahami risiko kanker payudara bukan berarti membuat kita harus terus-menerus merasa cemas. Justru, pengetahuan tersebut dapat membantu kita lebih sadar terhadap kondisi kesehatan dan mengetahui informasi apa saja yang penting disampaikan kepada tenaga kesehatan.

Di momen World Breast Cancer Awareness Month ini, yuk, jadikan kesadaran tentang kanker payudara sebagai pengingat untuk lebih mengenal tubuh sendiri dan tidak mengabaikan kesehatan.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.