Tak hanya Hong Kong, negeri paman sam juga terkena virus jenis baru tersebut. Pasalnya, baru-baru ini Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di AS atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan pejabat kesehatan setempat mengkonfirmasi bahwa ada kasus virus corona misterius di AS yang telah merenggut nyawa enam orang. selain itu, pejabat kesehatan juga sudah mengkonfirmasi bahwa kasus ini juga ditemukan di Thailand, Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan.
Mengenal Virus Corona
Virus corona berasal dari familia Coronaviridae yang termasuk ke dalam keluarga besar virus yang biasanya menginfeksi hewan, namun perlahan dapat menyebar ke manusia. Gejala pertama yang dapat terlihat pada manusia jika terinfeksi virus ini mirip dengan sakit flu biasa, yaitu demam, hidung meler, batuk, sesak napas dan dapat berkembang menjadi pneumonia.
Dilansir dari CNBC Indonesia, pejabat kesehatan masyarakat mengkonfirmasi bahwa lebih dari 300 kasus virus corona baru yang diberi label "2019-nCoV," di China. Beberapa pasien pun sakit kritis, pihak berwenang China pun mengungkapkan banyak pasien yang awalnya terinfeksi penyakit tersebut karena melakukan kontak dengan makanan laut yang dijual di pasar.
Penyakit ini juga memiliki khawatiran akan memicu kebangkitan penyakit Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS) yang menular. Namun dalam perkembangannya, China mempercayai bahwa wabah pneumonia di China yang menyerang 59 orang secara misterius ini disebabkan oleh jenis virus baru dari keluarga yang sama dengan SARS. Dimana penyakit ini pernah menewaskan ratusan orang lebih dari satu dekade lalu.
Hingga saat ini pun belum ada vaksin yang dapat melindungi seseorang dari virus jenis baru ini dan masih dalam tahap pengerjaan oleh team of scientist di Texas, New York dan China. Hal itu membuat beberapa negara telah mengantisipasi dengan memasang alat thermal scanner atau sensor suhu. Selain itu, untuk mengurangi risiko terinfeksi virus ini lebih baik menghindar dari orang yang menderita virus ini.
Penyebaran virus ini akan semakin mengkhawatirkan, mengingat Tahun Baru China atau Imlek yang tepat jatuh di akhir Januari 2020. Dimana hal ini akan membuat penyebaran semakin meluas, karena banyak orang China yang akan berpergian pulang atau ke luar negeri.