1. Memang ada bahan berbahaya pada deodoran
Deodoran dan antiperspirant biasanya mengandung aluminum, dan ada pula yang mengandung paraben. Aluminum merupakan bahan aktif yang membantu antiperspirant menyumbat kelenjar keringat sehingga mengurangi produksi keringat. Paraben merupakan pengawet yang digunakan dalam berbagai macam produk perawatan tubuh, termasuk deodoran, untuk mencegah pertumbuhan jamur, bakteri, dan mikroba lainnya.
Dua bahan tersebut mengganggu kelenjar endokrin dengan meniru estrogen sehingga dapat mengacaukan kadar hormon. Oleh karena peningkatan kadar hormon dapat meningkatkan risiko kanker payudara, maka berkembanglah pendapat yang menyatakan adanya hubungan deodoran dengan kanker payudara, bahwa pemakaian deodoran yang mengandung dua bahan tersebut dapat memicu kanker payudara.
2. Namun, tingkat penyerapan bahan berbahaya pada deodoran cenderung kecil
Penggunaan deodoran yang terbilang sangat dekat dengan payudara dan kelenjar getah bening memang membuatnya tampak mungkin mempengaruhi kesehatan payudara.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa aluminium dapat diserap oleh kulit dan menyebabkan perubahan pada reseptor estrogen dalam sel payudara. Namun, menurut penelitian Food and Chemical Toxicology, tingkat penyerapan itu sebenarnya cukup kecil. Hanya 0,012 persen aluminium chlorohydrate, yang diterapkan pada ketiak, diserap oleh kulit.
Guy Eslick dari The University of Sydney menjelaskan bahwa dibutuhkan kadar paraben tertentu untuk dapat menghasilkan mutasi yang berujung pada kanker. Menurut profesor epidemiologi kanker ini, kecil kemungkinan bahwa penggunaan produk deodoran sehari-hari dapat menyebabkan kanker.
Lagipula, sebagian besar merek deodoran dan antiperspirant tidak memiliki kandungan paraben. Jadi, pada kenyataannya, risiko terkena kanker payudara karena pemakaian deodoran dan antiperspirant adalah sangat kecil.
3. Banyak riset yang tidak menemukan hubungan deodoran dengan kanker payudara
Peneliti di National Cancer Institute (NCI) sebagai bagian dari National Institute of Healths tidak menemukan adanya hubungan antara penggunaan deodoran maupun antiperspirant dengan kanker payudara. Bahkan, FDA (Food and Drug Administration) Amerika Serikat juga tidak memiliki bukti maupun data riset yang memperlihatkan kandungan pada dua produk tersebut dapat menyebabkan kanker.
Menurut Dokter spesialis kanker dari RS Mitra Keluarga Bekasi dr Wim Panggarbesi, SpB(K)Onk, sejauh ini juga belum pernah ditemukan kasus yang menyatakan ada pasien kanker gara-gara deodoran. Karena sedikitnya bukti yang menyatakan adanya hubungan deodoran dengan kanker payudara, sebaiknya kamu tidak perlu terlalu khawatir dan merasa terbebani jika mau menggunakan deodoran atau antiperspirant dalam keseharian.
Adapun cara-cara lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terkena kanker payudara menurut Rulla Tamimi Sc.D dari Harvard Medical School adalah dengan berolahraga fisik secara reguler, membatasi konsumsi alkohol, dan menjaga berat badan sehat. Selain itu, memperbanyak konsumsi buah dan sayur yang mengandung karotenoid juga dapat menjadi alternatif tindakan pencegahan kanker payudara.