Tak Hanya Fisik, Asap Kebakaran Hutan Juga Bisa Ganggu Mental dan Pikiran

Aqida Widya Kusmutiarani | Beautynesia
Kamis, 15 Oct 2026 17:15 WIB
Tak Hanya Fisik, Asap Kebakaran Hutan Juga Bisa Ganggu Mental dan Pikiran
Tak Hanya Fisik, Asap Kebakaran Hutan Juga Ganggu Mental dan Pikiran/ Foto: Dok. Istimewa

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ternyata nggak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tapi juga kesehatan mental, Beauties. Hidup tanpa menghirup udara bersih seperti ini tentu bisa menambah beban pikiran bagi orang-orang yang terdampak.

Sayangnya, dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap kesehatan mental sering kali luput dari perhatian karena gejalanya nggak selalu terlihat secara langsung. Padahal, jika dibiarkan, tekanan psikologis tersebut bisa mengganggu kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari.

Lantas, gangguan kesehatan mental apa saja yang bisa dipicu oleh karhutla? Yuk, simak penjelasannya berikut ini seperti yang dilansir dari artikel tinjauan ilmiah (scoping review) yang diterbitkan dalam jurnal Behavioral Sciences!

Gangguan Stres Pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD)

Karhutla bisa memicu PTSD
PTSD/Foto: pexels.com/Pavel Danilyuk

Kebakaran hutan dan lahan bisa meninggalkan pengalaman traumatis bagi orang-orang yang terdampak. Terlebih, bagi mereka pernah mengalami kejadian traumatis, seperti kehilangan tempat tinggal, menyaksikan rumah terbakar, atau merasa keselamatan diri dan keluarganya terancam. Pengalaman tersebut bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

PTSD sendiri adalah gangguan kesehatan mental yang dapat muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis. Kondisi ini bisa ditandai dengan ingatan buruk yang terus muncul, mimpi buruk, kesulitan tidur, perasaan takut berlebihan, hingga kecenderungan menghindari hal-hal yang mengingatkan pada kejadian tersebut.

Nah, berdasarkan tinjauan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Behavioral Sciences, masyarakat yang terdampak kebakaran hutan menunjukkan peningkatan risiko PTSD. Bahkan, gejalanya bisa bertahan selama bertahun-tahun setelah kebakaran terjadi. Risiko ini juga cenderung lebih tinggi pada orang yang kehilangan orang terdekat, mengalami kerusakan properti yang parah, atau merasa nggak mendapatkan dukungan yang cukup dari keluarga dan lingkungan sekitar.

Depresi

Karhutla juga dapat meningkatkan risiko depresi/Foto: pexels.com/MART PRODUCTION

Selain PTSD, karhutla juga dapat meningkatkan risiko depresi. Bencana ini bukan hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tapi juga bisa membuat orang-orang yang terdampak mengalami tekanan emosional berkepanjangan. Apalagi, jika mereka kehilangan tempat tinggal, harta benda, atau merasa khawatir dengan keselamatan keluarga.

Masih dilansir dari tinjauan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Behavioral Sciences, depresi menjadi salah satu gangguan kesehatan mental yang banyak diteliti setelah bencana alam. Sejumlah penelitian menemukan bahwa gejala depresi pada orang dewasa dapat bertahan hingga 10 tahun setelah kebakaran hutan terjadi. Dampak ini juga bisa dialami oleh anak-anak dan remaja. 

Selain kehilangan dan pengalaman traumatis, perubahan lingkungan akibat karhutla juga dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang. Ada istilah solastalgia, yaitu perasaan sedih atau kehilangan ketika lingkungan yang akrab dan menjadi bagian penting dari kehidupan seseorang mengalami perubahan atau kerusakan. Perasaan ini dapat muncul ketika seseorang melihat lingkungan tempat tinggalnya rusak akibat kebakaran.

Meskipun begitu, nggak semua orang yang terdampak karhutla akan mengalami depresi. Risiko ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pengalaman traumatis sebelumnya, riwayat gangguan kesehatan mental, tekanan hidup yang berkelanjutan, serta kurangnya dukungan dari keluarga, teman, maupun pemerintah.

Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder)

Karhutla juga bisa memicu gangguan kecemasan pada orang-orang yang terdampak/Foto: pexels.com/Polina Zimmerman

Karhutla juga bisa memicu gangguan kecemasan (anxiety disorder) pada orang-orang yang terdampak. Peningkatan gejala kecemasan ditemukan pada orang dewasa maupun anak-anak setelah kebakaran hutan. Salah satu penelitian bahkan menemukan bahwa enam bulan setelah kebakaran, sekitar 14,1 persen anak-anak mengalami gejala kecemasan tingkat tinggi. 

Sementara itu, penelitian lain menemukan bahwa 27 persen siswa kelas 7-12 mengalami dugaan gangguan kecemasan 18 bulan setelah kebakaran hutan di Fort McMurray, Kanada.

Risiko mengalami kecemasan setelah karhutla dapat meningkat pada orang yang sebelumnya memiliki riwayat gangguan kecemasan atau depresi, mengalami kesulitan ekonomi, kehilangan harta benda, atau takut kehilangan orang terdekat. 

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE