sign up SIGN UP

Viral Hancurkan Barang sebagai bentuk Self Healing: Benarkah Cara ini Efektif Sembuhkan Luka Batin?

Ghena Oktafira | Kamis, 25 Nov 2021 19:00 WIB
Viral Hancurkan Barang sebagai bentuk Self Healing: Benarkah Cara ini Efektif Sembuhkan Luka Batin?
Destructive anger sebagai bentuk self-healing, tepatkah?/Foto: Unsplash.com

Baru-baru ini viral tren baru di kalangan netizen Indonesia mengenai kegiatan menghancurkan barang atau disebut juga destructive anger sebagai bentuk self healing dari emosi yang terpendam. Diketahui ada sebuah tempat di Jakarta yang memfasilitasi seseorang untuk meluapkan emosinya dengan cara menghancurkan barang pecah belah atau benda usang sesuai dengan paket harga yang telah dibayarkan sebelumnya.

Sontak saja kabar ini menjadi ramai diperbincangkan oleh netizen di berbagai media sosial. Sebagian dari mereka mendukung kehadiran tempat self-healing ini dan menginginkan agar fasilitas serupa nggak hanya dibangun di Jakarta saja, tetapi juga di kota lainnya.

Lantas, apakah benar upaya healing seperti ini benar-benar ampuh menyembuhkan luka dan melepaskan emosi secara permanen atau justru hanya akan menimbulkan permasalahan baru lainnya di kemudian hari? Simak penjelasannya yuk, Beauties!

Destructive Anger Sebagai Upaya Menyalurkan Emosi

Hancurkan barang sebagai bentuk self-healing
Destructive anger digemari banyak orang/Foto: Instagram.com/breakroom_la

Dikutip dari laman Very Well Mind, upaya menyembuhkan luka batin dengan melampiaskannya pada benda-benda mati yang boleh dihancurkan memang cukup efektif untuk mengurangi sebagian emosi yang dirasakan. Tetapi di saat yang sama, hal ini juga akan menciptakan persepsi di dalam benak pelaku bahwa ia harus mengerahkan energi penuh agar objek sasarannya hancur sampai nggak berbentuk.

Jika dibiasakan dalam waktu yang lama maka aktivitas ini bisa menyebabkan rasa candu bagi si pelaku. Hal ini dikhawatirkan dapat membahayakan kesehatan mental pelaku dan orang di sekitarnya.

Hal serupa juga dinyatakan oleh Veronica Adesla, seorang psikolog klinis.  Ia mengatakan bahwa teknik mengeluarkan emosi negatif dengan melempar barang ataupun menghancurkan barang lebih cocok disebut sebagai bentuk dari stress release.

"Self-healing yang orang awam paham seperti misalnya meditasi atau mindfullness, atau rangkaian terapi lainnya harus dilakukan continuous, nggak bisa one time," ungkapnya seperti dilansir dari detikHealth.

Ia juga menyatakan jika sebenarnya proses healing yang sesungguhnya berbeda dengan mengeluarkan emosi ataupun kemarahan yang dirasakan.

Dengan kata lain, metode pelampiasan amarah secara destruktif ini nggak terlalu berpengaruh signifikan terhadap tujuan penyembuhan luka yang ingin dicapai, melainkan hanya untuk mengalihkan energi negatif dalam waktu yang sementara saja.

Bentuk Self Healing yang Dapat Dilakukan

Ketimbang menyembuhkan luka dengan merusak benda, kamu bisa mencoba beberapa kegiatan lainnya yang bisa menyembuhkan luka batin dan berdampak positif bagi kesehatan mental dan fisik kita. Apa saja? Cari tahu, yuk!

1. Melakukan Latihan Fisik Ringan

Hancurkan barang untuk self-healing
Yoga dapat mengurangi emosi negatif/Foto: Freepik.com

Saat marah maka otot-otot di jantung dan beberapa bagian tubuhmu yang lain akan menegang. Untuk meredakannya diperlukan relaksasi berupa latihan pernapasan seperti menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan selama 10 kali, melakukan olahraga santai semacam yoga ataupun hanya sekadar mandi.

Latihan fisik ini sangat membantu dalam meredakan ketegangan otot di sekujur tubuh sehingga otak akan menerima sinyal bahwa tubuh sudah dalam posisi normal kembali. Kamu juga bisa sambil mendengarkan musik favoritmu ya! 

2. Menekuni Hobi 

Hancurkan barang sebagai bentuk self-healing
Melakukan kegiatan yang disukai untuk meredakan emosi/Foto: Freepik.com

Nggak ada yang lebih baik di dunia ini selain terus berusaha melakukan kegiatan-kegiatan yang positif setiap harinya. Kamu dapat memperdalam hobimu dan menjalin relasi dengan orang-orang baru yang mungkin akan memotivasimu agar semakin baik lagi.

Contohnya kalau kamu suka menulis jurnal harian, maka jadikanlah ini sebagai rutinitasmu. Dengan begitu, emosi yang ada dalam dirimu akan tersalurkan melalui hobi serta tulisan yang dihasilkan.

3. Berdamai dengan Masa Lalu

Hancurkan barang untuk healing
Menerima masa lalu adalah cara sembuh terbaik/Foto: Unsplash.com/JM Lova

Lari dari masalah yang dihadapi bukanlah jalan terbaik. Luka batinmu nggak akan sembuh kalau kamu terus menerus menghindari trauma yang pernah dirasakan.

Berdamai dengan masa lalu adalah salah satu cara yang paling baik untuk mempercepat proses penyembuhan luka batin. Terimalah hal pahit sebagai bagian dari dirimu sebagai proses pendewasaan.

Percaya Bahwa Luka Batin yang Dialami Pasti Sembuh

Dalam proses penyembuhan luka batin, setiap manusia pasti akan membutuhkan waktu yang berbeda-beda. Ada yang cepat, ada yang lama.

Nggak ada yang salah dari itu semua. Asalkan kamu terus berupaya mengobatinya dengan ritme yang kamu miliki, maka suatu hari luka batin pasti akan sembuh dan kamu akan mampu menerima diri seutuhnya. Bahkan para ahli menyebutkan bahwa tingkat keberhasilan manusia dalam menyembuhkan luka batinnya mencapai 75 persen lho. Bukankah seharusnya hal ini membuat kita semakin optimis?

Semua orang pasti memiliki luka batinnya masing-masing, tinggal bagaimana caranya agar hal tersebut nggak menjadi dalih bagi kita untuk melakukan hal yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Badai pasti berlalu, so, tetap semangat ya Beauties!

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id