Fashion Week di Era Serba Digital, Masih Relevan atau Pemborosan?

Dimitrie Hardjo | Beautynesia
Rabu, 18 Mar 2026 15:30 WIB
Dampak Fashion Week dan Relevansinya di Era Sekarang
Fashion week tidak hanya berdampak positif bagi industri fashion saja, tapi juga perekonomian lokal dan melestarikan warisan budaya beserta nilainya/ Foto: Courtesy of Prada

Fashion week atau pekan mode selalu menjadi momen yang nggak hanya ditunggu-tunggu oleh pelaku industri fashion saja, tapi khalayak lebih luas bahkan menjangkau global. Bagaimana tidak? Pekan mode biasanya digelar secara besar-besaran hingga disaksikan selebritas ternama. Bahkan satu peragaan busana dibuat seistimewa mungkin agar menuai perhatian.

Membayangkan itu semua, bisa kamu bayangkan berapa budget yang digelontorkan untuk satu peragaan busana, Beauties? Tentu jumlahnya tidak sedikit, bahkan bisa mencapai miliaran rupiah.

Mengutip dari situs Fashionista, sebuah rumah mode diperkirakan bisa menghabiskan lebih dari 200 ribu USD atau sekitar Rp3,3 miliar untuk peragaan busana sederhana di New York Fashion Week, tidak termasuk membayar selebritas untuk hadir. Pada tahun 2011, Robert Duffy, Presiden Marc Jacobs, pernah membocorkan kepada The New York Times peragaan busana Fall 2011 mereka menghabiskan biaya setidaknya 1 juta USD (sekitar Rp16,9 miliar).

Mengingat hal tersebut, ada beberapa rumah mode yang sekarang mulai memilih lokasi mereka sendiri untuk gelar peragaan busana, seperti Valentino yang peragaan koleksi Fall/Winter 2026 mereka di Roma atau Coperni yang justru skip di pekan mode musim ini. Meski begitu, masih banyak rumah mode mewah lainnya yang kukuh memperagakan koleksi di panggung pekan mode ternama dunia, yakni di New York, London, Milan, dan Paris.

Lantas, apakah masih relevan di era media sosial yang memungkinkan kemudahan eksposur jika memang itu yang menjadi gol utama pekan mode?

Kenapa Ada Pekan Mode?

Fashion show digelar untuk mempertunjukan rancangan desainer. Kemudian dilakukan secara kolektif untuk memudahkan aksesibilitas.

Fashion show digelar untuk mempertunjukan rancangan desainer. Kemudian dilakukan secara kolektif untuk memudahkan aksesibilitas./ Foto: Unsplash.com/Highlight ID

Sejarah pekan mode bisa ditarik sejak sekitar akhir tahun 1800-an hingga awal 1900-an, sebagaimana dilansir dari Fashionista. Tentu belum ada media sosial pada masa itu, Beauties. Desainer meningkatkan bisnisnya dengan mempekerjakan perempuan untuk mengenakan rancangan busananya dan diminta berjalan di area pejalan kaki di sekitar arena pacuan kuda yang memungkinkan mereka untuk diperhatikan, difoto, dan diliput oleh media.

Pada masa itu, rumah mode couture menyelenggarakan peragaan mode mereka sendiri yang dikemas dalam bentuk acara sosial. Misalnya Paul Poiret salah satu desainer legendaris yang menggelar soirée pesta kostum bertajuk “The Thousand and Second Night” pada 24 Juni 1911 di Paris.

Pada tahun 1918, jumlah pembeli asing yang datang ke Eropa meningkat. Mereka ingin melihat gaya terbaru sehingga rumah mode mulai mengadakan peragaan busana mereka sendiri pada tanggal tetap, dua kali setahun. Konsep inilah yang membentuk fondasi dari pekan mode, Beauties.

Pentingnya memperlihatkan karya desainer di panggung resmi yang memudahkan siapa saja untuk melihat dan menyebarkan informasinya semakin dibutuhkan. Namun akibat Perang Dunia II yang tidak memungkinkan orang asing pergi ke Prancis, Amerika Serikat ambil kesempatan. Pekan mode pertama pun digelar di New York pada tanggal 19 Juli 1943, diinisiasi oleh Eleanor Lambert. Mengutip dari situs Stitch Fashion, saat itu pekan mode disebut sebagai “Press Week” yang memberikan kesempatan bagi para editor dan penulis fashion untuk melihat dan menulis tentang karya para desainer Amerika.

Mengenal 4 Ibu Kota Fashion

London Fashion Week adalah salah satu pekan mode bergengsi di global selain dari New York, Milan, dan Paris

London Fashion Week adalah salah satu pekan mode bergengsi di global selain dari New York, Milan, dan Paris/ Foto: Courtesy of Burberry/Daniele Oberrauch

Pekan mode didirikan dengan tujuan untuk mengamplifikasi karya desainer. Oleh karena itu, pekan mode pun semakin marak. Tidak hanya digelar secara lokal, tapi dikenal pula empat ibu kota fashion dunia yang menyelenggarakan pekan mode prestius, yaitu New York, London, Milan, dan Paris, yang berlangsung secara berurutan.

Melansir dari laman Fashinnovation, keempat kota tersebut lebih banyak mendapat perhatian dan liputan media. Masing-masing memiliki gaya dan vibe yang berbeda. New York Fashion Week bukan cuma menampilkan desain yang mencerminkan gaya hidup paling trendi, tapi juga lebih bersifat komersil.

British Fashion Council menyelenggarakan London Fashion Week pertama pada tahun 1984 dengan tujuan untuk mempromosikan desain nasional dan membantu mereka mendapatkan pengakuan internasional. Melansir dari L’Officiel Monaco, London Fashion Week jadi tempat desainer generasi muda berbakat unjuk karya, mengingat banyak sekolah fashion ternama berada di kota ini, Beauties. Gaya anak-anak muda yang ditampilkan di LFW cenderung lebih eklektik dan multikultural.

Ibu kota mode di Italia pada awalnya berada di Florence, sebelum institusi Camera Nazionale Della Moda Italiana ambil keputusan pekan mode resmi berpindah ke Milan pada tahun 1958. Dengan adanya pekan mode di Italia yang sarat nuansa glamor tersebut, mereka berharap fashion lokal dan talenta-talenta Italia bisa mendunia.

Terakhir adalah Paris yang jadi rumah terselenggaranya peragaan couture sejak abad 19. Kota ini berhasil menjadi episentrum fashion yang tak sekadar menampilkan talenta, tapi juga merevolusi fashion. Pekan mode yang diselenggarakan Fédération Française de la Couture tersebut terkenal akan craftsmanship yang luar biasa dan menampilkan merek-merek yang merilis koleksi empat musim.

Dampak Fashion Week dan Relevansinya di Era Sekarang

Fashion week tidak hanya berdampak positif bagi industri fashion saja, tapi juga perekonomian lokal dan melestarikan warisan budaya beserta nilainya

Fashion week tidak hanya berdampak positif bagi industri fashion saja, tapi juga perekonomian lokal dan melestarikan warisan budaya beserta nilainya/ Foto: Courtesy of Prada

Nah Beauties, setelah membaca sedikit latar belakang tentang pekan mode di keempat ibu kota fashion, kamu pasti bisa menyimpulkan bahwa pekan mode digelar untuk mendapatkan eksposur lebih luas untuk menjangkau calon pembeli yang lebih banyak. Namun dengan tujuan yang sifatnya bisa dicapai di era modern melalui media sosial, terlebih dengan biaya fantastis untuk menggelar sebuah acara, apakah pekan mode masih tetap relevan?

Mengingat setiap ibu kota fashion memiliki digelar dengan fungsi yang berbeda, manfaatnya pun akan berbeda di setiap kota. Misalnya untuk menaungi desainer-desainer lokal, terlebih desainer muda yang masih merintis karier sehingga bisa lebih dikenal lebih luas.

Namun lebih dari sekadar publikasi, ada manfaat dari pekan mode yang tak bisa tergantikan oleh digitalisasi, yaitu dampak positif ke perekonomian lokal. Peragaan busana adalah wadah pertemuan banyak pelaku industri. Perhelatannya dihadiri oleh para penikmat fashion, jurnalis, key opinion leader, sampai selebritas ternama. Belum termasuk orang-orang yang berperan di balik acara itu sendiri, seperti desainer pembuat set, tim hubungan masyarakat, penata rambut & penata rias, dan lain sebagainya.

Mengutip dari Global Edge, New York Fashion Week menarik ribuan orang dan menghasilkan pendapatan sekitar 887 juta USD per tahun. Selain itu, pekan mode menghasilkan pendapatan sebesar 11 miliar USD dalam bentuk upah dan 2 miliar USD dalam bentuk pajak setiap tahunnya. Di London, pekan mode mendatangkan lebih dari 374 juta USD untuk kota tersebut. Dampak positifnya tidak hanya untuk industri mode saja, tapi juga yang berhubungan dengan turisme seperti F&B dan perhotelan.

Selain ekonomi, pekan mode adalah panggung untuk merayakan warisan budaya. Angela Uriyo selaku associate professor dari WVU College of Creative Arts and Media mengatakan kepada NewsWise bahwa, “Selama pekan mode, para desainer dan merek menghadirkan narasi yang disusun dengan cermat tentang identitas, kemewahan, dan rasa memiliki.” Oleh karena itu, “Apa yang ditampilkan di atas panggung peragaan busana bukanlah sekadar mode, melainkan sebuah kisah yang lebih luas tentang nilai dan makna budaya.”

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE