Serba-serbi Drama Chanel, Produk Tak Terjual Dicuri dan Diduga Eksplotasi Tenaga Kerja

Dimitrie Hardjo | Beautynesia
Rabu, 22 Jul 2026 15:30 WIB
Serba-serbi Drama Chanel, Produk Tak Terjual Dicuri dan Diduga Eksplotasi Tenaga Kerja
Serba-serbi Drama Chanel, Produk Tak Terjual Dicuri dan Diduga Eksplotasi Tenaga Kerja/ Foto: pexels.com/Filip Rankovic Grobgaard

Rumah mode mewah tak luput dari kontroversi. Jumlah permintaan yang meroket dan perusahaan yang semakin besar terkadang berdampak pada pengawasan tenaga kerja yang minim.

Itulah yang dialami rumah mode Chanel baru-baru ini, Beauties. Chanel tersandung dua kasus di Hong Kong dan Italia yang melibatkan pekerjanya. Mulai dari barang yang tak terjual dicuri oleh mantan pekerja sampai diduga eksploitasi tenaga kerja, simak selengkapnya berikut ini.

Kasus Pencurian Produk yang Akan Dihancurkan

Chanel Hong Kong mengalami kasus pencurian oleh mantan pekerja gudang.

Chanel Hong Kong mengalami kasus pencurian oleh mantan pekerja gudang./ Foto: Pexels.com/ Leo Arslan

Dijelaskan dalam situs The Standard, cabang Chanel di Hong Kong memiliki kebijakan perusahaan untuk memusnahkan antara 10.000 dan 20.000 barang mewah yang sudah usang setiap enam bulan.

Proses pembuangan melibatkan manajer gudang yang mengkonfirmasi inventaris. Lalu, inspektur memverifikasi barang-barang tersebut, melepaskan kemasannya, dan mengirimkannya dari gudang lantai 23 ke kantor lantai 5 di pusat Goodman Interlink di Tsing Yi untuk dihancurkan. Akses ke lift barang yang menghubungkan lantai-lantai ini memerlukan kode akses dan kunci keamanan khusus.

Namun, dua mantan pekerja gudang Chanel memanfaatkan sistem tersebut untuk mencuri sekitar 724 produk tas dan dompet yang akan dimusnahkan untuk dijual kembali. Pada awal tahun 2017, kedua mantan pekerja bersama staf gudang lainnya tertangkap kamera CCTV saat mereka mencoba memuat barang curian ke dalam mobil pengiriman di fasilitas Tsing Yi milik perusahaan.

Walaupun persidangan atas kasus kriminal tersebut tengah dilakukan, publik turut menyoroti tindakan pemusnahan barang tak terjual oleh brand mewah yang dinilai tidak berkelanjutan, Beauties. Pihak perusahaan telah memberikan bantahan bahwa mereka tidak melakukan praktik pemusnahan yang melanggar komitmen keberlanjutan. "Angka yang disebutkan selama persidangan tidak mencerminkan praktik global Chanel saat ini, yang telah berkembang sejalan dengan komitmen keberlanjutannya,” bunyi pernyataan Chanel Hong Kong kepada WWD

"Saat ini, semua produk Chanel di seluruh dunia yang tidak dapat dikomersialkan, termasuk produk yang tidak terjual, produk cacat, atau produk yang tidak dapat diproduksi lagi, dikelola melalui L'Atelier des Matières. Didirikan pada tahun 2019 atas inisiatif Chanel, L'Atelier des Matières mendaur ulang produk-produk tersebut dari merek mewah dan premium untuk digunakan kembali, mendukung reintegrasi mereka ke dalam rantai nilai sirkular."

Sebagai informasi, dikutip dari situs European Commission, mulai 19 Juli 2026, perusahaan-perusahaan besar di seluruh Uni Eropa dilarang memusnahkan pakaian, aksesoris pakaian, dan alas kaki yang tidak terjual.

Perusahaan harus memprioritaskan produk tetap digunakan dengan cara menjualnya atau disiapkan untuk digunakan kembali. Alasannya untuk mencegah pemborosan produk berharga dan sumber daya yang digunakan untuk membuatnya.

Sebab, ketika barang yang belum terjual dibuang atau dimusnahkan, maka hasil kerja kerjas pembuatnya, penggunaan baku seperti energi, air, dan material lainnya akan berakhir sia-sia. Proses pembuangan juga menghasilkan emisi gas rumah kaca yang berdampak buruk bagi lingkungan.

Diduga Lakukan Praktik Eksploitasi Tenaga Kerja

Sejumlah brand mewah diselidiki kepolisian Italia lantaran dugaan eksploitasi tenaga kerja

Sejumlah brand mewah diselidiki kepolisian Italia lantaran dugaan eksploitasi tenaga kerja/ Foto: Pexels.com/Avan Wathman

Kasus lain yang kerap menyeret brand mewah adalah dugaan eksploitasi tenaga kerja. Pada Jumat (17/7/2026), pihak kepolisian Italia menggerebek sejumlah kantor brand mewah. Dikutip oleh DetikNews dari AFP, brand mewah Chanel, Bulgari, Brunello Cucinelli, Etro, Goyard Italie, Jacob Cohen Company, Moncler, dan Stefano Ricci menjadi sasaran polisi Italia. Mereka diduga menggunakan subkontraktor yang mempekerjakan tenaga kerja asal China secara eksploitatif.

Melansir dari Euro News, penggrebekan ini merupakan bagian dari penyelidikan yang lebih besar oleh jaksa penuntut Milan yang telah mengungkap dugaan eksploitasi tenaga kerja dalam rantai pasokan beberapa merek mewah, termasuk Prada, Givenchy, dan Dolce & Gabbana. Tak hanya itu, Loro Piana juga telah berada di bawah administrasi peradilan sementara karena kekhawatiran tentang kondisi kerja di pemasok mereka.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE