10 Kalimat Manipulatif Pasangan dalam Buku 'Broken Strings' yang Perlu Diwaspadai

Belinda Safitri | Beautynesia
Senin, 26 Jan 2026 16:00 WIB
9. “Aku sudah lakukan segalanya untukmu. Ini balasan yang aku dapat?”
Ilustrasi pasangan/ Foto: Freepik.com/freepik

Belum lama ini, publik tersentak oleh keberanian aktris Aurelie Moeremans membuka luka masa lalunya lewat buku Broken Strings. Dalam pengakuannya, Aurelie mengisahkan bagaimana ia menjadi korban grooming pada usia 15 tahun.

Kala itu, ia terjebak dalam relasi yang penuh manipulasi, tekanan emosional, hingga kontrol yang perlahan mengikis rasa aman, yang dilakukan oleh seorang pria dengan nama samaran Bobby. Bukan kekerasan fisik yang sejak awal paling terlihat, melainkan rangkaian kata dan perlakuan halus yang semula terasa seperti cinta, namun perlahan berubah menjadi jerat.

Kisahnya pun menjadi pengingat bahwa manipulasi dalam hubungan bukan hanya hadir dalam bentuk ancaman kasar, melainkan lewat kalimat-kalimat yang terdengar manis atau seolah penuh perhatian. Tanpa disadari, ucapan seperti ini bisa membentuk rasa bersalah, menumbuhkan ketergantungan, bahkan membuat seseorang kehilangan batas diri. Sebagai bentuk kewaspadaan, Beauties perlu mengenali beberapa contoh kalimat manipulatif pasangan, seperti dikutip dari buku Broken Strings.

1. “Kamu udah ngelakuin apa? Aku satu-satunya yang berjuang di hubungan ini”

Ilustrasi pasangan/ Foto: Freepik.com/yanalya

Kalimat ini menempatkan pasangan sebagai pihak yang paling menderita dan paling berkorban, sementara kamu dibuat merasa tidak pernah cukup berusaha. Sekilas terdengar seperti ungkapan kecewa, tetapi sebenarnya mengandung tekanan emosional yang bisa membuat kamu merasa bersalah berlebihan. Dalam jangka panjang, kamu bisa terdorong untuk terus membuktikan diri, meskipun kebutuhan dan batasan pribadi terabaikan.

Manipulasi semacam ini sering membangun narasi sepihak, seolah semua masalah hubungan berasal dari kamu. Padahal, hubungan sehat membutuhkan kontribusi dua arah, bukan perlombaan siapa yang paling berkorban. Jika kamu terus menerima kalimat seperti ini tanpa klarifikasi, rasa percaya diri dan kemampuan mengambil keputusan bisa perlahan melemah.

2. “Aku cuma minta hal kecil, kenapa harus dibesar-besarin?”

Ilustrasi pasangan/ Foto: Freepik.com/Drazen Zigic

Kalimat ini sering dipakai untuk mengecilkan perasaan dan batasan kamu. Sesuatu yang menurutmu penting, tidak nyaman, atau melanggar prinsip pribadi justru diposisikan sebagai hal sepele. Lama-kelamaan, kamu bisa mulai meragukan validitas emosi sendiri dan berpikir bahwa kamu mungkin terlalu sensitif, berlebihan, atau sulit diajak kompromi.

Dalam hubungan yang sehat, perbedaan persepsi dibicarakan secara setara, bukan dihapuskan. Ketika perasaanmu terus-menerus diremehkan, kamu berisiko menekan kebutuhan pribadi demi menjaga hubungan tetap aman. Pola ini dapat membuat kamu kehilangan keberanian untuk menyampaikan pendapat, takut dianggap drama, dan akhirnya memendam frustrasi yang berdampak pada kesehatan mental.

3. “Tenang aja, aku nggak akan ninggalin kamu”

Ilustrasi pasangan/ Foto: Freepik.com/bearfotos

Sekilas, kalimat ini terdengar menenangkan dan penuh kepastian. Namun, dalam hubungan yang tidak sehat, ucapan ini sering menjadi alat untuk membangun ketergantungan emosional. Kamu bisa merasa aman secara semu, seolah hanya pasangan itu satu-satunya sumber perlindungan, penerimaan, dan rasa berharga.

Masalah muncul ketika janji ini tidak dibarengi perubahan perilaku yang nyata. Jika pasangan tetap bersikap manipulatif, mengontrol, atau merendahkan, tetapi terus menenangkan dengan janji seperti ini, kamu bisa terjebak dalam siklus harapan palsu. Akibatnya, kamu bertahan lebih lama dalam hubungan yang merugikan karena takut kehilangan rasa aman tersebut.

4. “Aku mau bunuh diri saja. Aku terlalu cinta sama kamu”

Ilustrasi pasangan/ Foto: Freepik.com/freepik

Ini adalah salah satu bentuk manipulasi paling berbahaya karena melibatkan ancaman keselamatan diri. Kalimat ini menempatkan kamu sebagai penanggung jawab atas hidup seseorang, sehingga muncul rasa takut, panik, dan rasa bersalah yang sangat besar. Dalam kondisi seperti ini, kamu bisa merasa tidak punya pilihan selain menuruti keinginan pasangan.

Ancaman seperti ini bukan bukti cinta, melainkan sinyal adanya tekanan psikologis serius. Jika terus terjadi, kamu bisa mengalami kelelahan emosional, kecemasan berlebihan, dan kehilangan rasa aman dalam hubungan. Situasi ini seharusnya melibatkan bantuan profesional atau dukungan pihak ketiga, bukan ditanggung sendirian oleh pasangan.

5. “Kalau kamu benar cinta, ini tidak akan jadi masalah”

Ilustrasi pasangan/ Foto: Freepik.com/freepik

Kalimat ini menggunakan cinta sebagai alat untuk memaksa persetujuan. Kamu seolah diuji, jika menolak, berarti kamu dianggap tidak mencintai, tidak setia, atau tidak cukup berkomitmen. Padahal, cinta tidak seharusnya menghapus batasan pribadi, nilai, dan rasa aman seseorang.

Jika kondisi ini terus terjadi, kamu bisa terbiasa mengorbankan kenyamanan demi membuktikan cinta. Dalam jangka panjang, relasi menjadi tidak setara karena satu pihak memegang kendali atas keputusan dan batasan. Hubungan yang sehat justru menghormati perbedaan, bukan menekannya dengan dalih cinta.

 

6. “Kamu yang mau ini. Kenapa salahku?”

Ilustrasi pasangan/ Foto: Freepik.com/freepik

Kalimat ini adalah bentuk pengalihan tanggung jawab. Pasangan menolak mengakui peran mereka dalam konflik dan melempar kesalahan sepenuhnya kepada kamu. Akibatnya, diskusi tidak pernah benar-benar menyentuh akar masalah.

Jika sering menerima kalimat ini, kamu bisa merasa selalu bersalah, meskipun situasi sebenarnya melibatkan dua orang. Lama-kelamaan, kamu mungkin kehilangan keberanian untuk menyuarakan keberatan karena takut kembali disalahkan. Ini menghambat komunikasi sehat dan memperbesar ketimpangan kekuasaan dalam hubungan.

7. “Kamu nggak pantas ditunggu kalau nggak bisa buktiin kesetiaanmu”

Ilustrasi pasangan/ Foto: Freepik.com/yanalya

Kalimat ini memanfaatkan rasa takut kehilangan untuk mengontrol perilaku. Kesetiaan diubah menjadi tuntutan yang harus terus dibuktikan, bukan dibangun lewat kepercayaan dan komunikasi terbuka.

Tekanan seperti ini dapat membuat kamu hidup dalam kecemasan, merasa diawasi, dan takut melakukan kesalahan kecil. Hubungan pun berubah menjadi penuh kecurigaan dan kompetisi emosional, bukan ruang aman untuk tumbuh bersama.

8. “Kamu tahu apa yang terjadi kalau kamu tidak menurut”

Ilustrasi pasangan/ Foto: Freepik.com/pressphoto

Ini adalah bentuk intimidasi terselubung yang menciptakan rasa takut tanpa perlu ancaman eksplisit. Kalimat ini menekan secara psikologis dan membuat kamu menebak-nebak konsekuensi yang mungkin terjadi.

Jika berlangsung berulang kali, rasa takut ini bisa melumpuhkan keberanian untuk mengambil keputusan sendiri. Kamu mungkin menuruti sesuatu bukan karena setuju, tetapi karena takut akan reaksi pasangan. Ini merupakan tanda hubungan yang tidak aman secara emosional.

9. “Aku sudah lakukan segalanya untukmu. Ini balasan yang aku dapat?”

Ilustrasi pasangan/ Foto: Freepik.com/freepik

Ucapan ini mengungkit pengorbanan masa lalu sebagai alat tekanan. Pasangan menempatkan dirinya sebagai korban dan kamu sebagai pihak yang tidak tahu berterima kasih.

Apabila dibiarkan, kamu bisa merasa berutang secara emosional dan sulit menolak permintaan, meskipun bertentangan dengan kebutuhan pribadi. Hubungan pun berubah menjadi transaksi emosional, bukan lagi cinta yang tulus. 

10. “Aku lebih baik mati daripada berpisah denganmu”

Ilustrasi pasangan/ Foto: Freepik.com/stockking

Kalimat ini menciptakan ketergantungan ekstrem dan membebani pasangan secara psikologis. Kamu bisa merasa terjebak karena takut keputusanmu akan berdampak fatal bagi orang lain.

Relasi seperti ini tidak sehat karena menghapus batas antara cinta dan ketergantungan. Cinta yang sehat memberi ruang bagi dua individu untuk tetap utuh sebagai pribadi, bukan saling menggenggam dengan rasa takut kehilangan yang berlebihan.

Jadi, itulah beberapa contoh kalimat manipulatif pasangan dalam buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans. Mengenali kalimat manipulatif ini membantu kamu menjaga batas emosional dan kesehatan mental dalam hubungan. Ingatlah bahwa hubungan yang sehat seharusnya membuat kamu merasa aman, dihargai, dan berkembang, bukan tertekan atau penuh rasa ketakutan.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE