11 Etika Makan yang Sering Diabaikan, Menurut Para Ahli

Nindya Putri Hermansyah | Beautynesia
Sabtu, 24 Jan 2026 13:00 WIB
11 Etika Makan yang Sering Diabaikan, Menurut Para Ahli
Ilustrasi makan/Freepik: Drazen Zigic

Makan bukan sekadar soal mengisi perut atau menikmati rasa, tetapi juga mencerminkan cara kamu menghargai diri sendiri dan orang lain. Sayangnya, banyak etika makan yang sering dianggap sepele dan akhirnya diabaikan, padahal dampaknya bisa terasa dalam hubungan sosial, suasana kebersamaan, bahkan citra diri kamu di lingkungan profesional.

Di tengah gaya hidup serba cepat, etika makan kerap tertinggal karena dianggap tidak lagi relevan. Padahal, sikap yang tepat saat makan justru membantu menciptakan suasana yang nyaman, sopan, dan penuh penghargaan.

Jika kamu ingin tahu etika makan apa saja yang sering diabaikan namun sebenarnya penting untuk diterapkan sehari-hari, yuk lanjutkan membaca pembahasan lengkapnya di bawah ini.

1. Bermain Ponsel di Meja Makan

Ilustrasi bermain ponsel saat makan/Freepik: freepik

Salah satu kesalahan yang paling sering terjadi saat makan adalah menaruh atau memainkan ponsel di meja. Garanord.md menjelaskan bahwa ini bukan hanya soal fokus, tetapi juga sinyal sosial penting: penggunaan ponsel di meja dianggap sebagai tanda bahwa kamu lebih memperhatikan layar daripada orang di sekitarmu. Survei kebiasaan makan menunjukkan bahwa lebih dari 70% orang melihat ponsel di meja sebagai perilaku kurang sopan karena mengganggu keterlibatan sosial di meja makan.

Saat makan bersama teman atau dalam konteks profesional, jauhkan ponsel, setel ke mode senyap, dan letakkan di tas atau saku. Dengan begitu, kamu menunjukkan rasa hormat terhadap orang lain dan menjaga suasana makan jadi lebih berkualitas.

2. Memulai Makan Sebelum Semua Siap

Ilustrasi makan lebih dulu/Freepik: freepik

Etika klasik mengatakan hingga semua orang di meja telah mendapat hidangan lengkap, apalagi dalam acara formal atau makan bisnis, kamu sebaiknya tidak mulai makan lebih dulu. Menunggu sampai tuan rumah atau semua tamu siap makan menunjukkan rasa hormat dan kesabaran, serta menghindari kesan terburu-buru atau kurang memperhatikan situasi. Ini adalah aturan dasar yang diakui di banyak budaya.

Dalam lingkungan bisnis, hal kecil ini bisa berdampak signifikan dalam memengaruhi kesan profesional yang kamu tampilkan. Ini selaras dengan yang dijelaskan oleh Culinary Art Switzerland.

3. Berbicara dengan Mulut Penuh

Ilustrasi makan sambil berbicara/Freepik: freepik

Bicara saat masih mengunyah makanan bukan hanya menunjukkan etika yang buruk, tetapi juga berisiko membuat suasana makan jadi tidak nyaman untuk orang lain di meja. Selain itu, Kent State University meluruskan bahwa ini membuat lawan bicara sulit memahami ucapanmu dan bisa terlihat tidak menghargai mereka.

Untuk itu, kamu disarankan menyelesaikan satu suapan sebelum ikut berkontribusi dalam percakapan. Hal ini bukan hanya soal sopan, tetapi juga meningkatkan kualitas interaksi sosialmu saat makan bersama orang lain.

4. Posisi Tubuh dan Penggunaan Alat Makan

Ilustrasi makan dengan duduk tegap/Freepik; freepik

Cara kamu duduk dan menggunakan alat makan saat bersantap memberi pesan nonverbal yang kuat kepada orang di sekitarmu. Duduk dengan tubuh terlalu membungkuk, bersandar berlebihan, atau makan sambil setengah berdiri dapat memberi kesan kurang menghargai momen makan bersama. Etika makan menganjurkan posisi duduk yang tegak namun tetap santai, karena ini menunjukkan perhatian, kesiapan berinteraksi, dan rasa hormat kepada orang lain di meja makan.

Selain itu, menggunakan alat makan dengan tenang dan tidak terburu-buru merupakan bagian penting dari kesopanan. Menghantam piring dengan sendok, mengaduk makanan berlebihan, atau memainkan alat makan saat berbincang dapat mengganggu suasana makan. Etika ini ditegaskan oleh Emily Post Institute menjelaskan bahwa gerakan makan yang rapi dan terkendali mencerminkan kesadaran sosial serta penghargaan terhadap orang lain yang hadir di meja makan.

5. Menghargai Orang Lain dengan Mengucapkan Terima Kasih

Ilustrasi mengucapkan terima kasih pada pelayan/Freepik: freepik

Setelah makan selesai, tidak hanya kamu perlu menaruh alat makan dengan rapi, tetapi juga ucapkan terima kasih kepada tuan rumah, pelayan, atau siapa pun yang menyiapkan makanan bagi kamu. Ucapan terima kasih adalah bentuk penghargaan sederhana tetapi berarti, menunjukkan bahwa kamu menghargai usaha orang lain.

Dalam banyak budaya, ucapan ini bukan sekadar formalitas, tetapi bentuk empati dan pengakuan terhadap hubungan sosial yang sedang dijalin melalui acara makan.

6. Mencuci Tangan Sebelum Menyentuh Makanan

Ilustrasi mencuci tangan/Freepik: freepik

Mencuci tangan sebelum makan sering dianggap sepele, padahal ini adalah bagian penting dari etika makan sekaligus perlindungan kesehatan. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa tangan merupakan media utama penyebaran bakteri dan virus penyebab gangguan pencernaan. Ia menegaskan bahwa mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dapat secara signifikan menurunkan risiko infeksi saluran cerna, terutama saat makan bersama orang lain.

Selain aspek kesehatan, kebiasaan mencuci tangan juga mencerminkan kepedulian terhadap kebersihan dan kenyamanan orang di sekitar meja makan. Dalam budaya internasional, tindakan ini dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap makanan dan orang yang akan makan bersama kami, sebagaimana dijelaskan CDC dalam artikel edukasi kesehatan masyarakat yang ditujukan untuk praktik sehari-hari di lingkungan sosial.

7. Berdoa Sebelum Makan

Ilustrasi berdoa sebelum makan/Freepik: freepik

Berdoa sebelum makan bukan hanya praktik spiritual, tetapi juga bagian dari etika makan yang dihargai di banyak budaya dunia. Dikutip dari Smithsonian National Museum of Asian Art, ritual sebelum makan termasuk doa atau hening sejenak berfungsi sebagai bentuk penghormatan terhadap makanan, proses memasak, dan orang yang menyajikannya.

Dalam konteks sosial, berdoa atau menunggu sejenak sebelum makan juga menunjukkan kesadaran situasi dan rasa hormat terhadap nilai yang dianut bersama. Kamu yang melakukan ini, terutama saat makan bersama keluarga atau dalam acara lintas budaya, akan dipandang sebagai pribadi yang peka dan menghargai makna kebersamaan di meja makan.

8. Makan Secukupnya dan Tidak Berlebihan

Ilustrasi makan secukupnya/Freepik: freepik

Mengambil makanan secukupnya adalah etika makan yang sering diabaikan, terutama saat jamuan atau buffet. Cornell Food and Brand Lab menjelaskan bahwa mengambil porsi berlebihan lalu tidak menghabiskannya dapat dianggap tidak sopan secara sosial dan berkontribusi pada pemborosan makanan.

Ia juga menekankan bahwa dalam konteks sosial, porsi yang wajar menunjukkan kesadaran diri dan rasa hormat terhadap tuan rumah serta orang lain yang juga ingin menikmati hidangan. 

9. Mulut Tertutup dan Tidak Mengecap

Ilustrasi makan dengan baik/freepik; tonodiaz

Menjaga mulut tetap tertutup dan tidak mengeluarkan suara mengecap saat mengunyah merupakan etika dasar yang berlaku luas. Table Manners Basics menjelaskan bahwa suara saat mengunyah dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman dan merusak suasana makan bersama.

Selain alasan sosial, kebiasaan ini juga berkaitan dengan citra diri. Menurut panduan etika makan Emily Post Institute, makan dengan mulut tertutup menunjukkan kontrol diri dan kesopanan, dua hal yang sangat diperhatikan dalam jamuan formal maupun santai.

10. Menawarkan Makanan kepada Orang Lain

Ilustrasi makan bersama/Freepik: freepik

Menawarkan makanan sebelum mengambil atau menghabiskan hidangan adalah bentuk empati sosial yang kuat. Dilansir dari Forbes tentang etika makan modern, bahwa menawarkan makanan menciptakan suasana inklusif dan menunjukkan kepedulian terhadap kenyamanan orang lain di meja makan.

Menurut Myka Meier, kebiasaan ini sangat penting terutama dalam makan bersama keluarga, teman, atau rekan kerja, karena memberi sinyal bahwa kamu tidak hanya memikirkan diri sendiri. Etika ini juga memperkuat hubungan sosial dan membuat suasana makan terasa lebih hangat.

11. Menelan Sebelum Minum

Ilustrasi minum/Freepik: freepik

Menelan makanan hingga benar-benar tuntas sebelum minum bukan hanya bagian dari etika makan, tetapi juga berkaitan dengan keselamatan. Dalam artikel Mayo Clinic tentang kebiasaan makan aman menjelaskan bahwa minum saat makanan belum tertelan sempurna dapat meningkatkan risiko tersedak dan membuat proses pencernaan menjadi kurang nyaman. Ia menegaskan bahwa jeda sejenak sebelum minum membantu tubuh bekerja lebih sinkron saat makan.

Dari sisi etika, kebiasaan ini juga mencerminkan kontrol diri dan kesopanan di meja makan. Kamu yang terburu-buru minum saat masih mengunyah sering kali terlihat kurang rapi dan bisa mengganggu suasana makan bersama.

Dengan menerapkan etika makan dalam keseharian, kamu tidak hanya menjaga kesehatan dan kenyamanan, tetapi juga membangun citra diri yang lebih peduli dan menghargai orang lain. Yuk, jadikan setiap momen makan sebagai kesempatan untuk menumbuhkan sikap sopan, empati, dan kebersamaan yang lebih bermakna.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE