3 Ciri Kepribadian Orang yang Membiarkan Cucian Piring Kotor Menumpuk Menurut Ilmu Psikologi

Sierra Ayuningtyas Muktisari | Beautynesia
Jumat, 27 Feb 2026 21:00 WIB
2. Memproses Stres dengan Cara Berbeda
Memproses stres dengan cara berbeda/ Foto: freepik.com

Beauties, kamu tim yang langsung  mencuci piring  setelah makan atau justru membiarkannya beberapa saat, nih? Apa pun itu, ternyata masing-masing orang yang melakukan kegiatan ini memiliki ciri kepribadian yang berbeda menurut ilmu psikologi, lho.

Nah, untuk kamu yang nggak suka cuci piring atau nggak langsung mencucinya setelah makan, ada beberapa ciri kepribadian yang menggambarkan diri kamu menurut ilmu psikologi. Penasaran seperti apa? Simak penjelasannya berikut ini, yuk!

1. Fokus pada Prioritas yang Lebih Besar

Kegiatan doodling atau journaling dapat membuat pikiran jadi lebih tenang. Kamu akan cenderung punya energi yang stabil ketika menjalankan tugas yang serius/Foto: Freepik.com/LifeStyleMemory

Fokus pada prioritas yang lebih besar/ Foto: freepik.com

Beauties, kamu mungkin pernah melihat orang-orang yang dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengerjakan proyek kesukaan mereka, sehingga tidak memerhatikan hal-hal lain di sekitar mereka termasuk ‘mengabaikan’ cucian piring kotor yang menumpuk.

Ternyata, orang-orang ini bukan malas, namun mereka beroperasi dengan apa yang disebut psikolog sebagai perhatian selektif, seperti melansir dari VegOut. Otak mereka mengalokasikan sumber daya untuk apa yang mereka anggap paling penting pada saat itu.

2. Memproses Stres dengan Cara Berbeda

Mengatasi mengigau saat tidur berfokus pada peningkatan kualitas tidur dan pengelolaan stres.

Memproses stres dengan cara berbeda/ Foto: freepik.com

Sebagian orang mungkin akan mengatasi stres dengan cara membersihkan rumah, namun ada juga orang-orang yang justru ‘mengabaikan’ pekerjaan rumah sepenuhnya.

Ketika merasa kewalahan, orang-orang yang nggak suka mencuci piring ini memprioritaskan pengaturan emosi daripada keteraturan eksternal, Beauties. Piring-piring kotor yang menumpuk menjadi ‘tidak terlihat’ karena semua sumber daya mental mereka terfokus pada pengelolaan keadaan internal mereka.

3. Memiliki Toleransi Sensorik yang Berbeda

Pemikir tingkat tinggi juga menggunakan keterampilan berpikir kritis dan kreatif untuk memecahkan masalah dengan cara-cara inovatif. Kamu bisa mengetahui tanda pemikir tingkat tinggi melalui kalimat yang sering diucapkan.

Memiliki toleransi sensorik yang berbeda/ Foto: Freepik/drobotdean

Beauties, tahukah kamu? Melansir dari  VegOut,  studi tentang pemrosesan sensorik menunjukkan bahwa orang memiliki tingkat toleransi yang sangat berbeda terhadap ‘kekacauan’ visual.

Apa yang membuat seseorang merasa terganggu mungkin bahkan tidak berpengaruh pada orang lain. Nah, orang-orang yang sering meninggalkan piring kotor memiliki toleransi yang lebih tinggi terhadap rangsangan visual, artinya pemandangan piring kotor tidak memicu respons stres yang sama seperti pada orang lain.

Namun, ini bukan berarti mereka adalah orang yang ceroboh atau berantakan, melainkan otak mereka secara harfiah memproses informasi visual secara berbeda, memungkinkan mereka untuk berfungsi dengan sempurna di lingkungan yang akan membuat orang lain kewalahan.

---

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(sim/sim)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE